Category: Lifestyle

  • Telur hingga Bayam Bisa Jadi Sarapan yang Bantu Stabilkan Energi Tubuh

    Malang Posco Media – Banyak orang mengorbankan sarapan demi bisa mendapatkan waktu tidur yang lebih lama di pagi hari. Padahal sarapan merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan energi kita sepanjang hari. Hal itu disampaikan oleh ahli gizi Samantha Peterson dalam siaran Real Simple pada, Senin (27/7).

    Peterson menyampaikan bahwa sarapan pagi dapat mengembalikan glukosa ke otak yang menjadi salah satu organ yang paling membutuhkan energi untuk berpikir jernih dan tetap fokus.

    “Ini menstabilkan gula darah, mengisi kembali nutrisi yang digunakan otak dan otot Anda semalaman, dan memberi sinyal pada metabolisme Anda untuk beralih dari mode istirahat,” katanya.

    Ahli gizi olahraga Dawn Jackson Blatner, RDN, CSSD menambahkan bahwa mengonsumsi kalori berkualitas tinggi dan lebih seimbang menghasilkan energi berkualitas tinggi dan lebih seimbang.

    Ia merekomendasikan untuk mengonsumsi makanan yang mencakup karbohidrat, protein, dan lemak, karena setiap makronutrien menawarkan manfaat yang berbeda.

    “Karbohidrat adalah sumber energi pilihan tubuh anda, terutama untuk otak dan otot. Kalori protein membantu menjaga energi tetap stabil dengan memperlambat pencernaan dan mendukung otot serta metabolisme anda, dan kalori lemak memberi anda energi yang tahan lama dan terkonsentrasi,” katanya.

    Berikut contoh makanan yang dapat dikonsumsi saat sarapan:

    Telur

    Makanan pokok pagi ini adalah protein lengkap, artinya mengandung semua asam amino esensial, dan akan membantu kita merasa kenyang lebih lama.

    Telur juga kaya akan vitamin B dan kolin untuk mendukung energi otak, fokus, dan rasa kenyang, kata Peterson.

    Bayam

    Blatner menyampaikan bahwa menambahkan beberapa genggam bayam ke telur anda untuk membuat sarapan yang mengenyangkan dan meningkatkan energi.

    Bayam kaya akan zat besi nabati untuk membantu membawa oksigen yang memberi energi ke sel-sel tubuh dan menjadi sumber nitrat alami, yang membantu meningkatkan aliran darah dan energi.

    Yogurt

    Yogurt dapat menjadi pilihan untuk sarapan praktis yang kaya protein serta probiotik yang membantu mendukung pencernaan, keseimbangan gula darah, dan suasana hati. Ini menjadi pilihan yang bagus untuk pagi hari yang sibuk atau stres.

    Kacang dan biji-bijian

    Kacang mengandung magnesium yang mendukung ratusan reaksi yang terlibat dalam menciptakan energi. Cobalah menambahkan segenggam kacang dan biji-bijian, seperti biji labu, almond dan chia pada oatmeal atau yogurt untuk pilihan sarapan cepat.

    Oatmeal

    Oatmeal adalah sumber karbohidrat gandum utuh berkualitas tinggi, kata Blatner. Jadikan makanan lengkap dengan menambahkan kacang, biji-bijian, dan beri.

    Keju cottage

    Keju cottage kaya akan kasein, protein yang dicerna lambat yang membantu membuat kenyang dan energi tetap stabil selama berjam-jam.

    Ini juga kaya akan kalsium, yang mendukung fungsi otot dan metabolisme yang sehat. Selain itu, alpukat sangat serbaguna dan dapat dimakan dengan pugasan manis atau gurih.

    Alpukat

    Buah ini kaya akan lemak dan protein untuk membantu menjaga energi tetap stabil dan mencegah kelelahan di tengah pagi.

    (ntr/lim)

  • Pilihan Minuman Pagi untuk Membantu Menjaga Kesehatan Ginjal

    Malang Posco Media – Ginjal adalah organ penting yang menjalankan peran menyaring limbah dari darah, mengatur tekanan darah, serta menyeimbangkan kadar cairan, elektrolit, dan pH dalam tubuh.

    Sebagaimana dikutip dalam siaran Eating Well pada Selasa, ahli gizi Lydia Bunszel mengatakan bahwa pola makan sangat berpengaruh pada kesehatan ginjal.

    “Diet memainkan peran utama dalam kesehatan ginjal karena ginjal membantu memproses dan mengatur banyak nutrisi yang kita makan dan minum,” katanya.

    Kebiasaan sederhana seperti memilih minuman pagi yang ramah ginjal dapat membantu menjaga ginjal tetap sehat dan berfungsi optimal.

    Berikut pilihan minuman yang direkomendasikan oleh ahli gizi untuk membantu menjaga kesehatan ginjal.

    1. Air putih

    Menurut para ahli, air adalah pilihan minuman yang paling baik bagi kesehatan ginjal. Minum air putih pada pagi hari bisa membantu menghidrasi kembali tubuh setelah berjam-jam tidur.

    Dietisien Sheila Patterson menyampaikan bahwa minum air putih pada pagi hari bisa membantu ginjal menjalankan fungsi-fungsi pentingnya secara optimal, termasuk menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan.

    Menurut dietisien Amanda Roll, minum air putih juga bisa membantu menurunkan risiko batu ginjal. “Air membantu mengencerkan mineral dalam urine yang dapat membentuk kristal,” katanya.

    2. Kopi hitam tanpa gula

    Nutrisionis Hannah Coven mengutip hasil penelitian yang menunjukkan bahwa minum kopi sekitar 1–2 cangkir per hari dapat membantu menurunkan risiko kena penyakit ginjal kronis dan memperlambat perkembangannya.

    Menurut dia, kopi hitam kaya akan antioksidan yang dapat membantu melindungi sel ginjal dari peradangan dan stres oksidatif. Namun, menambahkan gula dan krim ke dalam kopi dapat mengurangi banyak manfaat potensial dari minuman tersebut.

    3. Teh hijau

    Teh hijau mengandung lebih sedikit kafein dibanding kopi dan kaya polifenol, terutama katekin, antioksidan yang bisa membantu melawan stres oksidatif dan peradangan.

    Coven mengutip hasil penelitian yang menunjukkan bahwa minum teh hijau dapat membantu menurunkan risiko pembentukan batu ginjal.

    Konsumsi teh hijau juga telah dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit ginjal kronis dan laju filtrasi glomerulus yang lebih tinggi, yang merupakan ukuran efektivitas ginjal dalam menyaring darah.

    4. Kefir

    Kefir, minuman susu fermentasi yang kaya probiotik, juga termasuk minuman yang dinilai baik bagi kesehatan ginjal. Studi observasional menunjukkan kaitan konsumsi produk susu kaya probiotik dengan risiko penyakit ginjal kronis yang lebih rendah, mungkin dengan membantu memulihkan keseimbangan bakteri baik di dalam usus.

    5. Jus cranberry

    Coven menyampaikan bahwa jus cranberry dapat membantu menurunkan risiko infeksi saluran kemih berulang, yang dapat menyebabkan infeksi ginjal jika tidak diobati.

    Cranberry mengandung senyawa proantosianidin, yang bisa membantu mencegah bakteri menempel pada dinding saluran kemih.

    “Saat memilih jus cranberry, pilihlah jus 100 persen tanpa tambahan gula,” kata Coven.

    Para ahli menekankan bahwa terlepas dari jenis minuman yang dipilih, hidrasi sangat penting untuk mengoptimalkan fungsi ginjal.

    Mereka yang memiliki penyakit ginjal atau riwayat gangguan ginjal dalam keluarga disarankan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk menentukan pola makan yang sesuai. (ntr/lim)

  • Sering Konsumsi Gula Tambahan? Ini Efek Buruknya bagi Kesehatan Usus

    MALANGPOSCOMEDIA – Ahli gizi Kara Hochreiter, M.S., RDN, LD menyampaikan bahwa mengonsumsi gula tambahan terlalu banyak secara reguler dapat mempengaruhi keseimbangan mikrobioma di dalam usus, yang mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    Menurut siaran Eating Well pada Sabtu (25/7), gula tambahan adalah gula yang ditambahkan ke dalam makanan selama proses pengolahan.

    Gula tambahan bisa berupa gula tebu, dekstrosa, madu, sirup mapel, sirup beras merah, dan sirup jagung.

    Hochreiter menyampaikan bahwa konsisten mengonsumsi gula tambahan secara berlebihan bisa mengganggu keseimbangan mikrobioma di dalam usus, memungkinkan mikroba yang kurang bermanfaat berkembang dan mengalahkan “mikroba baik.”

    Menurut dia, ketidakseimbangan mikrobioma di dalam usus seiring waktu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan, peradangan, disfungsi metabolisme, sampai perubahan suasana hati.

    Ahli gizi Jessie Wong, M.Acc., RDN, LD menyampaikan bahwa asupan gula tambahan yang konsisten tinggi bisa mengubah lingkungan di dalam usus.

    “Penelitian menunjukkan gula tambahan dapat memperkaya bakteri yang memanfaatkan gula sekaligus mengurangi bakteri yang menghasilkan asam lemak rantai pendek yang bermanfaat seperti butirat,” ia menjelaskan.

    Asam lemak rantai pendek membantu menyehatkan sel-sel yang melapisi usus.

    Jenis asam lemak ini juga dikaitkan dengan tingkat peradangan yang lebih rendah serta kekebalan tubuh dan kesehatan jantung yang lebih baik.

    Wong menjelaskan bahwa ketika asupan gula tambahan tinggi maka produksi asam lemak rantai pendek akan lebih sedikit. Kondisi ini berkontribusi pada disbiosis dan peningkatan permeabilitas usus.

    Hasil riset juga menunjukkan bahwa diet tinggi makanan ultra-olahan, yang biasanya memiliki kadar gula tambahan tinggi dan rendah serat, dapat berdampak negatif pada mikrobioma usus.

    “Gula tambahan berlebih dari makanan, terutama minuman manis dan makanan ultra-olahan, seringkali kekurangan serat, air, mikronutrien, dan senyawa protektif dari tumbuhan yang membantu menyehatkan mikrobioma usus,” kata Wong.

    Ketika makanan dengan gula tambahan tinggi secara perlahan menggantikan buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, bakteri baik di dalam usus memiliki lebih sedikit nutrisi untuk dimakan.

    Akibatnya, keanekaragaman mikroba dalam usus bisa berkurang dan keseimbangan mikrobioma usus dapat terganggu.

    Wong menyampaikan bahwa mikrobioma usus setiap orang unik, sehingga respons individu terhadap gula tambahan dan faktor diet lainnya dapat bervariasi.

    Kendati demikian, membatasi konsumsi makanan dengan kadar gula tambahan tinggi dan menerapkan pola makan bergizi seimbang akan lebih baik bagi kesehatan usus maupun kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    Jadi, sebaiknya mengutamakan penerapan pola makan yang mencakup buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan makanan berserat lain.

    Makanan manis dapat dikonsumsi sesekali. Makanan manis alami seperti buah segar atau buah beku yang menawarkan serat, vitamin, dan antioksidan bisa jadi pilihan makanan penutup yang lebih baik. (ntr/jon)

  • Komunikasi Terbuka dan Literasi Bantu Anak Berani Lapor Kekerasan

    MALANGPOSCOMEDIA – Komunikasi terbuka hingga literasi menjadi langkah yang bisa dilakukan dalam membangun keberanian pada anak untuk melaporkan tindak kekerasan baik di lingkungan sekitar maupun di ruang digital.

    Demikian ditegaskan Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi.

    Menurut Ocha, membangun budaya komunikasi yang terbuka di rumah, seperti adanya hubungan yang hangat dan responsif antara anak dengan orang tua atau pengasuh menjadi salah satu faktor protektif terkuat dalam pencegahan kekerasan.

    “Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak setiap hari tanpa langsung menghakimi, menyalahkan, atau terburu-buru memberi solusi,” kata Ocha.

    Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan ketika anak terbiasa merasa didengar dalam cerita sederhana, mereka akan lebih percaya bahwa orang tua juga akan mendengarkan ketika mereka menghadapi masalah yang lebih serius.

    Keberanian anak juga melapor tindakan kekerasan atau perundungan terutama di ruang digital, lanjut Ocha, perlu dibangun literasi dan pendampingan sejak awal. Dalam hal ini, pendampingan digital perlu dilakukan secara bertahap sesuai usia dan tingkat kematangan anak.

    Orang tua disarankan bisa mengajak anak berdiskusi tentang konten yang mereka temui di ruang digital, sekaligus mengajarkan pentingnya menjaga privasi, data pribadi, waspada terhadap orang asing di dunia maya, serta mengenali tanda interaksi yang berpotensi membahayakan.

    “Anak juga perlu memahami cara melakukan perlindungan diri di ruang digital, seperti memblokir akun, melaporkan konten, keluar dari percakapan, dan meminta bantuan orang dewasa,” tutur dia.

    ⁠Ocha juga menyarankan perlunya memberikan anak edukasi mengenai berbagai bentuk kekerasan sejak dini sesuai tahap perkembangannya. Anak tidak hanya diberitahu apa yang termasuk kekerasan, namun juga perlu memahami langkah yang dapat dilakukan ketika mengalaminya.

    “Anak juga perlu dibekali mengenai apa yang dapat dilakukan ketika mereka melihat temannya menjadi korban, yaitu bagaimana anak mampu menjadi upstander (yaitu berani mencari bantuan kepada orang dewasa ketika melihat kekerasan),” ujar psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu.

    Lebih lanjut, Ocha mengatakan dalam membangun keberanian anak melapor tindak kekerasan juga bisa dilakukan dengan melatih kemampuan asertif dan menjaga batasan diri (personal boundaries).

    Dalam hal ini, anak perlu memahami bahwa mereka berhak mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman, meskipun yang melakukan orang yang lebih tua atau dikenal.

    “Misalnya, mengenalkan kata ‘aku tidak mau’, ‘berhenti’, atau ‘aku akan memberi tahu mamaku’ dapat dilatih melalui permainan peran (role play), diskusi, maupun studi kasus yang sesuai dengan usia anak,” ujar Ocha.(ntr/nug)

  • Perilaku  Anak Bisa Berubah,  Hadapi Ancaman di Ruang Digital

    Malang Posco Media –  Perubahan perilaku anak bisa jadi merupakan salah satu indikasi awal anak sedang menghadapi ancaman di ruang digital.

    Demikian diungkapkan Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi pada hari Selasa ini.

    Psikolog yang biasa disapa Romy ini menambahkan, bahwa anak yang menghadapi ancaman di ruang digital mungkin akan menjadi lebih tertutup, sering menyembunyikan layar gawai, dan emosinya berubah-ubah.

    Selain itu, ia melanjutkan, anak yang menghadapi ancaman di ruang digital mungkin memiliki teman daring yang dirahasiakan dan tampak takut ketika ditanya tentang aktivitas dia di dunia maya.

    Romy mengatakan, perubahan perilaku semacam itu bisa jadi merupakan sinyal bahwa anak sedang mengalami konflik batin dan kesulitan mengungkapkan rasa tidak aman yang dialami.

    “Ini bukan karena anak nakal. Secara psikologis mereka belum siap dan belum mampu melindungi dirinya di ruang digital,” katanya.

    “Perubahan yang ada merupakan sinyal bahwa ia sedang dalam konflik batin dan kesulitan memahami maupun mengungkapkan perasaan tidak amannya,” ia menambahkan.

    Romy menyampaikan bahwa anak memiliki keterbatasan dalam menghadapi risiko di ruang digital, karena kemampuan mereka dalam berpikir kritis, menilai risiko, dan mengelola emosi belum matang.

    Menurut dia, anak berusia 0 hingga 6 tahun umumnya belum mampu menyaring stimulasi dan mengelola emosi.

    Anak berusia 7 hingga 12 tahun yang mulai aktif menggunakan internet, ia mengatakan, umumnya belum mampu berpikir kritis dan menilai risiko.

    Pada usia 13 hingga 15 tahun, kemampuan anak dalam mengendalikan diri dinilai belum matang.

    Dengan keterbatasan-keterbatasan itu, anak-anak belum punya kemampuan memadai untuk mendeteksi dan menghindari bahaya yang muncul di ruang digital.

    “Sering kali predator mendekati anak secara halus dan bertahap, sehingga tidak disadari sebagai ancaman bagi anak,” kata Romy.

    Para orang tua disarankan untuk menerapkan langkah-langkah guna melindungi anak dari ancaman kejahatan di ruang digital.

    “Pencegahan tidak bisa menunggu. Orang tua dan sekolah perlu hadir, mendampingi anak, membangun komunikasi yang aman, membuat aturan digital yang konsisten, serta peka terhadap perubahan perilaku anak,” kata Romy.

    “Perlindungan anak di dunia digital dimulai dari rumah. Anak yang merasa aman akan berani bercerita, dan itu merupakan perlindungan terkuat dari ancaman digital, termasuk predator daring,” ia menambahkan.

    Ia menyampaikan, implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas dalam upaya untuk melindungi anak di ruang digital membutuhkan dukungan dari orang tua, sekolah, dan masyarakat. (ntr/nug)

  • Waspada, Kurang Tidur Dapat Ganggu Metabolisme Tubuh

    MALANG POSCO MEDIA – Kurang tidur secara berulang dapat memengaruhi metabolisme tubuh, mengurangi aktivitas fisik, dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

    Demikian diwartakan laman Psychology Today pada hari Senin ini.

    Diungkapkan, tidur merupakan proses biologis yang berperan mengatur hormon, metabolisme, pemulihan jaringan tubuh, serta tingkat aktivitas seseorang pada hari berikutnya.

    Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell menemukan adanya hubungan antara tidur dan pelepasan hormon pertumbuhan (growth hormone). Penelitian pada tikus itu menunjukkan bahwa tidur membantu merangsang pelepasan hormon pertumbuhan yang berperan dalam perbaikan jaringan, pemeliharaan otot dan tulang, metabolisme lemak, serta pengaturan kadar glukosa.

    Para peneliti juga menemukan adanya mekanisme timbal balik antara hormon pertumbuhan dan otak. Setelah dilepaskan saat tidur, hormon tersebut memengaruhi bagian otak yang berperan dalam proses bangun, perhatian, dan kewaspadaan.

    Sementara itu, penelitian lain yang melibatkan 95 orang dewasa menemukan bahwa mengurangi waktu tidur sekitar 80 menit setiap malam selama enam pekan berkaitan dengan kenaikan berat badan rata-rata sekitar 0,45 kilogram. Peserta juga menghabiskan sekitar 17 menit lebih lama dalam kondisi tidak aktif setiap hari dibandingkan saat menjalani pola tidur normal.

    Menurut para peneliti, kurang tidur tidak hanya memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar, tetapi juga membuat seseorang lebih mudah lelah sehingga cenderung mengurangi aktivitas fisik. Kombinasi perubahan tersebut dapat berdampak pada kesehatan metabolik apabila berlangsung dalam jangka panjang.

    Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa tidur lebih lama bukan jaminan untuk menurunkan berat badan. Berat badan dipengaruhi berbagai faktor, seperti pola makan, aktivitas fisik, genetika, kondisi medis, hingga stres. Oleh karena itu, tidur sebaiknya dipandang sebagai salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan metabolik, berdampingan dengan pola makan bergizi dan aktivitas fisik secara teratur. (ntr/nug)

  • Apa itu doomscrolling? Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

    MALANGPOSCOMEDIA – Di era digital seperti sekarang, hampir semua orang memulai hari dengan membuka ponsel. Entah untuk mengecek media sosial, membaca berita terbaru, atau sekadar melihat apa yang sedang ramai dibicarakan. Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini bisa berubah menjadi sesuatu yang kurang sehat, yaitu doomscrolling.

    Istilah doomscrolling atau doomsurfing semakin sering dibahas dalam dunia psikologi karena berkaitan dengan kebiasaan seseorang yang terus-menerus mengonsumsi berita atau konten bernada negatif di internet, meskipun informasi tersebut justru memicu rasa cemas, takut, sedih, hingga stres.

    Fenomena ini semakin umum terjadi seiring berkembangnya media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar (infinite scroll). Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca kabar buruk tanpa menyadari dampaknya terhadap kesehatan mental maupun fisik.

    Apa itu doomscrolling?

    Secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial atau portal berita untuk mencari informasi, terutama berita yang bersifat negatif seperti bencana, konflik, krisis ekonomi, kriminalitas, hingga isu kesehatan.

    Ironisnya, banyak orang merasa bahwa membaca berita buruk akan membuat mereka lebih siap menghadapi situasi. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak informasi negatif yang dikonsumsi, semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dirasakan.

    Kebiasaan ini menjadi semakin sulit dihentikan karena algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang mampu memancing emosi pengguna. Rasa takut, marah, atau penasaran membuat seseorang bertahan lebih lama di aplikasi sehingga platform terus menyajikan konten serupa.

    Mengapa doomscrolling mudah terjadi?

    Dari sisi psikologi, doomscrolling muncul karena otak manusia secara alami ingin mencari kepastian ketika menghadapi situasi yang tidak menentu.

    Saat terjadi peristiwa besar, seperti pandemi, konflik internasional, atau bencana alam, banyak orang terdorong untuk terus memperbarui informasi dengan harapan memperoleh rasa aman.

    Namun, penelitian yang dilakukan Shabahang dan rekan-rekannya (2024) menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengonsumsi berita negatif, semakin tinggi pula tingkat stres dan kecemasannya. Alih-alih merasa lebih tenang, otak justru tetap berada dalam kondisi waspada sehingga mendorong seseorang untuk terus mencari informasi terbaru.

    Kondisi tersebut diperparah oleh fitur infinite scroll yang membuat pengguna tidak memiliki batas alami untuk berhenti membaca.

    Penggunaan media sosial di Indonesia sangat tinggi

    Fenomena doomscrolling menjadi perhatian karena penggunaan media sosial di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia.

    Indonesia berada di jajaran empat negara dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak secara global. Kelompok yang paling aktif berasal dari Generasi Z, yang rata-rata menghabiskan waktu antara satu hingga enam jam setiap hari di media sosial.

    Bahkan, sekitar lima persen pengguna Gen Z diketahui dapat menghabiskan waktu hingga 10 jam dalam sehari untuk mengakses berbagai platform digital.

    Instagram masih menjadi platform yang paling banyak digunakan, kemudian diikuti TikTok, X, dan Facebook.

    Dengan durasi penggunaan yang tinggi tersebut, peluang seseorang terpapar konten negatif secara terus-menerus juga semakin besar.

    Dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental

    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki hubungan erat dengan penurunan kesehatan mental.

    Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah meningkatnya rasa cemas. Paparan informasi negatif secara terus-menerus membuat otak selalu berada dalam mode siaga sehingga sulit merasa tenang.

    Selain itu, seseorang yang sering melakukan doomscrolling juga lebih rentan mengalami:

    Stres berkepanjangan.
    Pikiran negatif yang terus berulang.
    Rasa takut berlebihan terhadap kondisi sekitar.
    Perasaan terisolasi dan kesepian.
    Sulit berkonsentrasi.
    Penurunan produktivitas.
    Kelelahan emosional.
    Penelitian Satici dan kolega (2022) menemukan bahwa individu dengan tingkat doomscrolling yang tinggi cenderung mengalami stres lebih besar dan memiliki pola penggunaan media sosial yang bermasalah.

    Sementara itu, penelitian lintas budaya oleh Shabahang dkk. (2024) menunjukkan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan existential anxiety, yaitu kecemasan mendalam mengenai masa depan, ketidakpastian hidup, hingga makna kehidupan.

    American Psychological Association (APA) juga melaporkan bahwa paparan berita negatif secara berlebihan dapat memicu news-related stress atau stres akibat berita yang akhirnya menyebabkan kelelahan mental.

    Tidak hanya mental, kesehatan fisik juga ikut terdampak

    Efek doomscrolling ternyata tidak berhenti pada kondisi psikologis.

    Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sambil terus membaca berita negatif dapat memengaruhi kesehatan fisik, seperti:

    Gangguan tidur atau insomnia.
    Mata lelah akibat terlalu lama menatap layar.
    Sakit kepala.
    Tekanan darah meningkat.
    Kelelahan kronis.
    Meningkatkan risiko penyakit jantung karena stres berkepanjangan.
    Kurangnya waktu istirahat juga dapat memicu stres oksidatif di dalam tubuh yang berpengaruh terhadap kesehatan secara keseluruhan.

    Siapa yang paling berisiko mengalami doomscrolling?

    Sebenarnya siapa pun bisa mengalami doomscrolling. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi, antara lain:

    Orang dengan tingkat kecemasan yang tinggi.
    Mereka yang mengalami fear of missing out (FOMO) atau takut tertinggal informasi.
    Pengguna media sosial yang lebih sering menjadi pembaca pasif tanpa berinteraksi.
    Individu yang kesulitan mengelola emosi ketika menghadapi situasi penuh tekanan.
    Menurut Güme (2024), faktor-faktor tersebut membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam siklus mencari informasi negatif secara berulang.

    Jika rasa cemas akibat berita mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, atau pekerjaan, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

    Doomscrolling perlu disadari sejak dini

    Di tengah derasnya arus informasi, memperoleh berita terbaru memang penting. Namun, mengonsumsi informasi secara berlebihan, terutama yang bernada negatif, justru dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik.

    Mengenali tanda-tanda doomscrolling menjadi langkah awal untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Dengan mengatur waktu penggunaan media sosial, memilih sumber informasi yang kredibel, dan menjaga keseimbangan aktivitas digital dengan kehidupan sehari-hari, kamu tetap bisa mendapatkan informasi tanpa harus mengorbankan kesehatan mental. (ntr/jon)

  • Terungkap, Ini Alasan Orang Makin Sulit Fokus di Era Digital

    Malang Posco Media – Penggunaan perangkat digital kemungkinan tidak menurunkan kemampuan berpikir seseorang. Tetapi, malah dapat membuat otak enggan mengeluarkan usaha mental yang lebih besar.

    Demikian menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour.

    Melansir Psychology Today, Selasa (14/7) waktu setempat, laporan penelitian yang dilakukan Wisnu Wiradhany, Douglas Parry, dan Jaan Aru tersebut memperkenalkan konsep brain recalibration atau penyesuaian ulang cara otak menilai usaha kognitif.

    Menurut para peneliti, otak secara alami cenderung memilih cara yang membutuhkan usaha paling sedikit. Berbagai fitur pada perangkat digital, seperti gulir tanpa batas (infinite scroll), pemutaran video otomatis (autoplay), hingga notifikasi, membuat akses terhadap informasi maupun hiburan menjadi semakin mudah.

    Akibatnya, otak mulai menganggap aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran mendalam sebagai sesuatu yang “lebih mahal” untuk dilakukan, meski kemampuan berpikir sebenarnya tidak berubah.

    Peneliti menilai konsep tersebut dapat menjelaskan mengapa banyak orang merasa lebih sulit berkonsentrasi dalam kehidupan sehari-hari, sementara berbagai penelitian di laboratorium hanya menemukan dampak kecil penggunaan media digital terhadap kemampuan berpikir.

    Dalam situasi yang terkontrol, seseorang masih mampu mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, godaan untuk beralih ke ponsel atau aplikasi lain membuat seseorang lebih sering meninggalkan pekerjaan yang memerlukan usaha mental lebih besar.

    Peneliti mencontohkan seseorang yang sedang mempelajari informasi baru mungkin memilih mengambil foto atau meminta aplikasi memberikan jawaban instan daripada memahami materi secara mandiri. Pilihan tersebut tidak membuat kemampuan belajar hilang, tetapi, dapat mengurangi keinginan untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam.

    Menurut peneliti, fenomena serupa juga dapat terjadi pada penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ketika teknologi mampu menulis, merangkum, atau membantu bernalar dengan cepat, sebagian orang mungkin semakin jarang melatih kemampuan berpikirnya sendiri.

    Meski demikian, peneliti menegaskan kondisi tersebut bukan berarti pengguna menjadi korban teknologi. Mereka menyarankan masyarakat lebih menyadari saat perhatian mulai teralihkan dari tugas yang sedang dikerjakan serta mengurangi gangguan dengan membatasi notifikasi, menutup tab yang tidak diperlukan, dan menyediakan waktu khusus untuk mengerjakan tugas tanpa distraksi.

    Dengan cara tersebut, seseorang dapat kembali membiasakan otak menggunakan kemampuan berpikir secara mendalam meski hidup di tengah lingkungan digital yang serba instan.(ntr/nug)

  • Benarkah Mood-Boosting Drink Bisa Usir Stres? Begini Kata Ahli Gizi

    MALANGPOSCOMEDIA – Menjaga pola makan, rutin bergerak, dan tidur yang cukup masih menjadi cara paling efektif untuk membantu menjaga suasana hati dibanding mengandalkan minuman yang diklaim dapat meningkatkan mood, menurut ahli gizi.

    Dilansir dari EatingWell, Rabu, berbagai produk yang dipasarkan sebagai mood-boosting drink memang semakin populer. Namun, para ahli mengingatkan bahwa manfaatnya belum terbukti secara konsisten untuk mengatasi stres, kecemasan, maupun perubahan suasana hati.

    Meski beberapa bahan seperti L-theanine dan ashwagandha memiliki hasil penelitian yang menjanjikan, bukti tersebut diperoleh dari penelitian terhadap masing-masing bahan dengan dosis tertentu, bukan terhadap seluruh produk minuman yang dijual di pasaran.

    Sebagai gantinya, para ahli menyarankan sejumlah kebiasaan sederhana yang telah didukung bukti ilmiah untuk membantu menjaga suasana hati.

    Salah satunya adalah mengonsumsi makanan secara teratur. Ahli gizi Emily Van Eck mengatakan makan secara konsisten sepanjang hari merupakan cara yang sering diabaikan untuk membantu menjaga mood dan tingkat energi. Ia menyarankan mengombinasikan karbohidrat dengan protein serta lemak sehat pada setiap waktu makan.

    Aktivitas fisik juga berperan dalam menjaga suasana hati. Bahkan, gerakan ringan tetap dapat memberikan manfaat apabila seseorang belum sempat berolahraga dalam durasi yang lebih lama. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang selama sedikitnya 150 menit setiap pekan disertai latihan kekuatan dua hari dalam seminggu.

    Tidur yang cukup juga menjadi faktor penting. Orang dewasa dianjurkan tidur sedikitnya tujuh jam setiap malam untuk membantu mengurangi stres sekaligus menjaga kesehatan mental.

    Selain itu, para ahli mengingatkan agar konsumsi kafein dan alkohol tidak berlebihan. Terlalu banyak kafein dapat memicu rasa gelisah, kecemasan, dan mengganggu kualitas tidur, terutama bila dikonsumsi pada sore atau malam hari. Sementara alkohol dapat memberikan efek rileks sesaat, tetapi berpotensi menurunkan kualitas tidur dan memengaruhi suasana hati dalam jangka panjang.

    Menurut para ahli, minuman mood-boosting tetap dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang, terutama sebagai pengganti minuman beralkohol. Namun, manfaat yang dirasakan kemungkinan juga berasal dari kebiasaan berhenti sejenak untuk beristirahat dan menikmati minuman tersebut, bukan semata-mata dari kandungan bahannya. (ntr/van)

  • Lakukan Gerakan Sederhana di Kursi, untuk Tingkatkan Kenyamanan Pinggul

    Malang Posco Media – Mobilitas pinggul memainkan peran utama dalam seberapa nyaman dan efisien kita bisa bergerak sepanjang hari.

    Sebenarnya tidak perlu peralatan mahal atau latihan yang panjang dan berat untuk menjaga pinggul tetap bergerak dengan baik.

     Siaran Health pada Sabtu (11/7) mewartakan, anda dapat menggunakan kursi yang kokoh dan dilakukan selama beberapa menit setiap hari.

    Gerakan berjalan duduk

    Gerakan berjalan duduk adalah cara sederhana namun efektif untuk memperkenalkan gerakan ke sendi pinggul sekaligus mengaktifkan otot-otot yang mendukungnya.

    Gerakan berjalan duduk mendorong fleksi pinggul, aksi otot penting yang digunakan saat berjalan, menaiki tangga, dan bahkan masuk dan keluar dari mobil.

    Ini adalah latihan yang bermanfaat untuk memulai, karena meningkatkan sirkulasi dan menghangatkan otot secara perlahan sebelum melanjutkan ke latihan mobilitas yang lebih menantang.

    Untuk melakukan latihan ini duduklah dengan tegak di kursi yang kokoh dengan kedua kaki rata di lantai. Angkat satu lutut ke arah dada Anda setinggi yang Anda bisa dengan nyaman, lalu perlahan turunkan kembali.

    Ulangi pada sisi yang berlawanan, bergantian sisi, untuk tiga set dengan 10 repetisi.

    Peregangan angka empat duduk

    Peregangan angka empat menargetkan otot-otot di sekitar pinggul luar dan daerah gluteus (bokong), yang biasanya menjadi kaku setelah duduk dalam waktu lama.

    Peregangan ini dapat meningkatkan rotasi eksternal pinggul, gerakan yang penting untuk mengubah arah saat berjalan dan berjongkok.

    Caranya yakni duduklah di kursi yang kokoh dengan kaki kiri rata di lantai, dan pergelangan kaki kanan disilangkan di atas paha kiri, tepat di atas lutut.

    Jaga punggung tetap lurus saat anda perlahan membungkuk ke depan di pinggul, rasakan peregangan di pinggul kanan. Tahan peregangan selama 30-60 detik sebelum berganti sisi. Lakukan dua hingga tiga kali di setiap sisi.

    Peregangan pembuka pinggul duduk

    Peregangan pembuka pinggul membantu mendorong gerakan di seluruh sendi pinggul anda sekaligus mengurangi rasa kaku atau tegang di area tersebut.

    Anggap latihan ini sebagai gerakan membuka dan menutup sendi pinggul secara perlahan. Gerakan ini membantu meningkatkan mobilitas pinggul ke segala arah.

    Duduklah tegak di kursi yang kokoh dengan kedua kaki rata di lantai. Perlahan gerakkan satu lutut ke samping sejauh yang anda bisa dengan nyaman, lalu kembalikan ke posisi semula. Ulangi 10 kali di setiap sisi untuk tiga repetisi.

    Gerakan wiper kaca depan duduk

    Latihan ini melatih mobilitas rotasi pinggul Anda, yang penting untuk fungsi pinggul yang sehat.

    Meskipun mobilitas rotasi sering diabaikan, meningkatkannya dapat mendukung aktivitas yang melibatkan berputar, berporos, atau mengubah arah. Ini juga dapat membantu meningkatkan kualitas gerakan secara keseluruhan seiring bertambahnya usia.

    Caranya yakni dengan duduk di tepi depan kursi yang kokoh dengan lutut ditekuk dan kaki sedikit lebih lebar dari lebar pinggul.

    Dengan tetap menjaga kaki rata di lantai, biarkan kedua lutut perlahan jatuh ke satu sisi, lalu kembali ke tengah, dan bergerak ke sisi yang berlawanan.

    Lakukan tiga set dengan 10 repetisi.

    Peregangan kaki duduk dengan jangkauan

    Latihan ini menggabungkan mobilitas pinggul dan gerakan aktif di seluruh tubuh bagian bawah. Latihan ini sangat bermanfaat jika anda menghabiskan sebagian besar waktu anda duduk, karena mendorong gerakan terkontrol dan terkoordinasi di seluruh tubuh bagian bawah.

    Selain itu, latihan ini menciptakan peregangan lembut di bagian belakang pinggul dan paha sekaligus mendorong gerakan melalui panggul dan tubuh bagian bawah.

    Duduklah dengan tegak di kursi yang kokoh dengan kaki rata di lantai. Rentangkan satu kaki ke depan hingga lutut hampir lurus, sambil secara bersamaan mengulurkan kedua tangan ke arah jari kaki.

    Kembali ke posisi awal dan ulangi di sisi yang berlawanan. Lakukan tiga set dengan 10 repetisi. (ntr/nug)