MALANG POSCO MEDIA, JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat transformasi layanan kesehatan haji dengan memperketat implementasi istithaah kesehatan bagi calon jemaah. Salah satu langkah yang disiapkan ialah pemantauan kondisi kesehatan jemaah secara berkala sejak satu tahun sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
Upaya tersebut dibahas dalam audiensi antara Kemenhaj dan Pusat Kesehatan TNI di Jakarta, Selasa (7/7). Pertemuan itu membahas penguatan pembinaan kesehatan jemaah, implementasi istithaah kesehatan, hingga pemenuhan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang kompeten untuk mendukung penyelenggaraan ibadah haji.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj, dr. Dani Pramudya, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan merupakan bagian integral dari penyelenggaraan ibadah haji dan harus dimulai jauh sebelum jemaah diberangkatkan.
“Pelayanan kesehatan haji dimulai sejak pembinaan di dalam negeri. Karena itu, kami terus memperkuat kolaborasi agar setiap jemaah benar-benar siap secara medis untuk menjalankan ibadah haji,” ujarnya.
Menurut Dani, penguatan implementasi istithaah kesehatan menjadi salah satu prioritas Kemenhaj. Melalui sistem pembinaan yang sedang disiapkan, kondisi kesehatan calon jemaah akan dipantau secara berkesinambungan sehingga berbagai faktor risiko dapat dideteksi lebih dini.
“Dengan pemantauan yang berkesinambungan, berbagai faktor risiko kesehatan dapat dideteksi dan dikendalikan lebih dini sehingga jemaah memiliki kesiapan fisik yang lebih baik saat berada di Tanah Suci,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas penanganan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi, seperti penderita penyakit jantung, hipertensi berat, dan gagal ginjal. Pusat Kesehatan TNI memberikan sejumlah masukan, di antaranya penguatan layanan promotif dan preventif, pengembangan layanan bagi penyandang gagal ginjal, pengaturan keberangkatan jemaah berisiko tinggi, serta optimalisasi pemeriksaan kesehatan akhir di embarkasi.
Selain itu, pembinaan melalui manasik kesehatan juga menjadi perhatian. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman calon jemaah mengenai pentingnya menjaga kebugaran, mengendalikan penyakit penyerta, serta mempersiapkan diri menghadapi kondisi lingkungan dan aktivitas ibadah di Tanah Suci.
Pusat Kesehatan TNI turut mengusulkan penguatan kerja sama dengan dinas kesehatan di daerah dan optimalisasi pelayanan melalui jejaring rumah sakit agar pembinaan kesehatan jemaah berlangsung lebih terintegrasi.
Dani menyambut positif berbagai masukan tersebut. Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi langkah strategis dalam membangun sistem kesehatan haji yang lebih komprehensif, mulai dari pembinaan, pemeriksaan kesehatan, hingga pelayanan selama penyelenggaraan ibadah haji.
“Kami menyambut baik berbagai masukan dari Pusat Kesehatan TNI. Sinergi ini menjadi langkah strategis untuk membangun sistem kesehatan haji yang lebih terintegrasi, mulai dari pembinaan, pemeriksaan kesehatan, hingga pelayanan selama penyelenggaraan ibadah haji,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Kemenhaj dan Pusat Kesehatan TNI sepakat memperkuat koordinasi guna menyusun langkah-langkah teknis serta menyelaraskan mekanisme kerja sama. Langkah tersebut diharapkan dapat mewujudkan sistem penyelenggaraan kesehatan haji yang lebih efektif, komprehensif, dan berkelanjutan. (aim)
Leave a Reply