Tak seperti biasanya, kafe depan rumah saya dan kafe-kafe di tempat lain super ramai lewat tengah malam. Jalan-jalan yang biasanya lengang jadi ramai kendaraan menuju kafe, warung kopi, hingga halaman kampung yang memasang layar raksasa. Aroma kopi bercampur suara peluit, tawa, dan teriakan memenuhi udara. Ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan dimulai, ratusan pasang mata serentak tertuju ke layar yang sama. Nonton bareng (nobar), itulah ritual yang berulang setiap Piala Dunia digelar.
Era digital saat ini siapapun dapat menyaksikan Piala Dunia dari layar telepon genggam di kamar tidur, ruang kerja, bahkan di perjalanan. Namun, ada yang tak mampu diberikan oleh kecanggihan teknologi yakni sensasi bersorak bareng saat gol tercipta. Di era digital yang makin personal, ternyata budaya nobar masih hidup. Nobar tak lagi sekadar cara menikmati sepak bola, tetapi cara manusia merawat kebutuhan paling mendasarnya sebagai makhluk sosial.
Jika di era digital memungkinkan orang dapat menonton Piala Dunia sendirian, mengapa jutaan orang justru masih memilih berdesakan di kafe atau warung kopi untuk nobar? Mengapa mereka rela begadang dan berbagi layar dengan ratusan orang yang tidak dikenal? Jawabannya terletak pada kebutuhan manusia merasa menjadi bagian dari sebuah kebersamaan. Nobar tak hanya menonton pertandingan, melainkan juga ritual sosial di era digital.
Emosi Kolektif
Semakin personal teknologi digital berkembang, semakin besar pula kerinduan manusia terhadap pengalaman yang bersifat kolektif. Nobar akhirnya bukan lagi sekadar cara menyaksikan pertandingan sepak bola, melainkan sebuah ritual sosial yang mempertemukan kembali manusia di tengah kehidupan digital yang semakin individual. Di sinilah sepak bola menunjukkan kekuatannya sebagai bahasa universal.
Pertandingan final Piala Dunia tak hanya mempertemukan dua negara di lapangan hijau, tetapi juga menyatukan jutaan orang dari berbagai bangsa yang mungkin tak pernah saling mengenal. Di Indonesia, banyak orang rela begadang demi menyaksikan pertandingan yang tak melibatkan tim nasional. Mereka datang bukan hanya untuk melihat siapa yang menjadi juara, tetapi untuk menjadi bagian dari sebuah pengalaman bersama.
Merujuk Sosiolog Emile Durkheim (1912), bahwa pengalaman nobar bola sebagai collective effervescence, yakni ledakan emosi kolektif yang muncul ketika orang berkumpul dalam suatu peristiwa yang dianggap penting. Dalam suasana nobar, batas-batas sosial seolah menghilang. Mahasiswa duduk berdampingan dengan dosen, pedagang bercanda dengan pegawai kantoran, anak-anak bersorak bersama orang tua, bahkan orang yang sebelumnya tak saling kenal pun bisa bersorak bersama saat gol tercipta.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa media digital ternyata tak selalu menciptakan isolasi sosial. Sebaliknya, media justru menjadi pemicu lahirnya ruang-ruang perjumpaan baru. Layar besar di sebuah kafe, proyektor di halaman kampung, atau televisi di warung kopi berubah menjadi titik temu masyarakat. Nobar menjadi ruang sosial di luar rumah yang memungkinkan orang berinteraksi secara santai, egaliter, dan membangun rasa kebersamaan. Nobar menjadikan ruang-ruang tersebut hidup kembali sebagai arena percakapan publik.
Budaya Partisipatif
Pengalaman nobar pada era digital tak berhenti ketika pertandingan selesai. Begitu wasit meniup peluit akhir, percakapan berpindah ke media sosial (medsos). Cuplikan gol dibagikan, meme bermunculan, analisis taktik diperdebatkan, foto-foto nobar memenuhi Instagram, sementara tagar pertandingan menjadi tren di berbagai platform media digital. Dengan kata lain, ruang fisik dan ruang digital saling melengkapi.
Menurut Henry Jenkins (2006) dalam bukunya bertajuk Convergence Culture: Where Old and New Media Collide, menyebut fenomena ini sebagai participatory culture. Dalam budaya partisipatif, penonton bukan lagi sekadar konsumen informasi, melainkan juga produsen makna. Mereka menciptakan konten, memberikan komentar, menyebarkan video, bahkan membangun narasi baru mengenai pertandingan.
Pengalaman nobar sepak bola hari ini berbeda dibandingkan dua dekade lalu. Dahulu orang berkumpul hanya untuk menyaksikan pertandingan. Kini, mereka juga berkumpul untuk mendokumentasikan kebersamaan itu. Kamera telepon pintar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari nobar. Sebelum pertandingan dimulai, swafoto diambil. Ketika gol tercipta, video direkam. Setelah pertandingan selesai, pengalaman itu diunggah agar dapat disaksikan kembali oleh jejaring digital mereka.
Nobar di era digital memperlihatkan bahwa manusia tetap merupakan makhluk sosial. Prediksi bahwa internet akan membuat setiap orang hidup dalam dunianya sendiri ternyata tak sepenuhnya terbukti. Teknologi memang membangun jaringan komunikasi baru, tetapi jaringan tersebut tak menghapus kebutuhan manusia untuk berinteraksi secara langsung. Justru teknologi memperluas kemungkinan terbentuknya komunitas, baik secara daring maupun luring. Dari perspektif komunikasi, nobar membuktikan bahwa media tak pernah sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara manusia berelasi. Sepak bola menjadi bahasa universal, sementara nobar menjadi ruang dialog yang melampaui batas-batas sosial. Ketika peluit panjang final Piala Dunia berbunyi, yang berakhir sebuah pertandingan, yang tertinggal adalah kenangan tentang tawa, sorak, perdebatan, dan kebersamaan. Peristiwa yang sangat berharga di tengah kehidupan digital yang serba cepat, personal, dan sering kali sunyi.(*)
Leave a Reply