MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Dulu, era kejayaan apel pada tahun 1990-an membuat banyak warga Kota Batu memilih langsung bekerja ketimbang melanjutkan pendidikan. Hasil panen melimpah saat itu memang sanggup untuk membeli rumah hingga kendaraan. Namun, imbas jangka panjangnya mulai terasa kini: jumlah sarjana asli Kota Batu relatif sedikit. Bahkan jajaran aparatur pemerintah daerah pun masih dominan diisi tenaga dari luar daerah.
Kondisi inilah yang ingin diubah total oleh Wali Kota Batu Nurochman. Dalam agenda penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Universitas Kepanjen di Ruang Rupatama Balai Kota Batu, Selasa (28/7), ia menegaskan komitmennya untuk mendobrak keterbatasan tersebut lewat Program 1.000 Sarjana.
“Kami tidak ingin anak-anak Batu selamanya hanya menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan yang berdiri di tanah kelahirannya sendiri. Mereka harus naik kelas menjadi dokter, profesional, manajer, bahkan pemimpin,” tegas Nurochman.
Melalui kerja sama berdurasi lima tahun ini, Pemerintah Kota Batu siap menanggung penuh biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga mahasiswa lulus tepat waktu (maksimal empat tahun). Bahkan, bantuan ini juga menyasar mahasiswa Fakultas Kedokteran dari keluarga kurang mampu.
Tidak hanya urusan pembiayaan gratis, Universitas Kepanjen juga menawarkan model pembelajaran adaptif yang memungkinkan mahasiswa kuliah sambil hasilkan rupiah. Di Jurusan Keperawatan peluang magang sebagai caregiver di Jepang dengan penghasilan mencapai Rp 20 juta per bulan.
Kemudian Pariwisata kesempatan magang ke Taiwan. Bagi Pekerja juga tersedia sistem hybrid learning agar kuliah dan pekerjaan bisa berjalan berdampingan.
Rektor Universitas Kepanjen Dr. Tri Nurhudi Sasano, menyebutkan bahwa langkah ini menjadi jawaban konkret atas minimnya Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di Indonesia yang baru berkisar 30 persen.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Mohammad Nur Adhim, menjelaskan bahwa kerja sama ini mengacu pada Peraturan Wali Kota Batu Nomor 4 Tahun 2026. Seluruh proses mulai dari pendataan, seleksi, penetapan penerima, hingga evaluasi berkala dijamin berjalan transparan dan tepat sasaran.
“Namun, meluluskan 1.000 sarjana barulah tahap awal. Ujian sesungguhnya bagi Pemkot Batu adalah menyediakan strategi penyerapan lapangan kerja yang sepadan, agar talenta-talenta berbakat ini tidak kabur mencari masa depan di luar daerah, melainkan kembali untuk membangun tanah kelahirannya,” pungkasnya.(eri/lim)
Leave a Reply