Tim KaTa Kreatif Verifikasi Lapangan Ekosistem Gastronomi Kota Batu
MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Tim Penilai Nasional Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) Kementerian Ekonomi Kreatif melaksanakan uji petik lapangan di Kota Batu pada 29–31 Juli 2026 sebagai bagian dari proses verifikasi usulan Kota Batu menjadi Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia dengan subsektor unggulan gastronomi (kuliner). Verifikasi dilakukan melalui observasi langsung terhadap kekuatan ekosistem ekonomi kreatif.
Mulai dari rantai pasok pertanian, pengolahan pangan, inovasi produk, pemasaran, hingga kolaborasi lintas subsektor yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif daerah. Seluruh hasil observasi lapangan akan menjadi dasar penyusunan Berita Acara Hasil Uji Petik (BAHUP) sebagai salah satu tahapan penetapan Kota Batu dalam jejaring Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia.
Anggota Tim Penilai Nasional KaTa Kreatif Kirno, menjelaskan bahwa proses uji petik bukan merupakan ajang kompetisi antardaerah, melainkan proses verifikasi untuk memastikan bahwa data yang disampaikan pemerintah daerah benar-benar sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
“Yang kami lihat adalah apakah data yang disampaikan pemerintah daerah benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Kami menilai perkembangan masyarakat, keterhubungan ekosistem dari hulu hingga hilir, serta kolaborasi antarsubsektor. Nantinya hasil verifikasi menjadi dasar penetapan subsektor unggulan daerah,” ujarnya.
Menurut Kirno, saat ini baru 86 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai bagian dari Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia. Apabila seluruh tahapan verifikasi dapat dipenuhi, Kota Batu berpeluang menjadi kabupaten/kota kreatif ke-87. Ia juga menjelaskan bahwa mekanisme KaTa Kreatif kini menggunakan skema self declare, sehingga daerah yang memiliki komitmen kuat dapat mengajukan diri tanpa harus menunggu penunjukan dari pemerintah pusat.
Sekretaris Daerah Kota Batu Alfi Nurhidayat menyampaikan apresiasi atas kunjungan Tim Penilai Nasional dan optimistis Kota Batu layak ditetapkan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif dengan subsektor unggulan gastronomi. “Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Tim Penilai Nasional. Ini menjadi jawaban atas ikhtiar yang selama ini dibangun bersama seluruh unsur pentahelix. Kota Batu percaya diri mengusung subsektor kuliner karena memiliki ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir,” katanya.
Menurut Alfi, hasil observasi lapangan justru menunjukkan bahwa potensi ekonomi kreatif yang berkembang di masyarakat lebih besar dibandingkan data yang telah dihimpun sebelumnya. “Apa yang ditemukan di lapangan justru lebih banyak daripada data yang kami miliki. Ini menunjukkan ekosistem ekonomi kreatif Kota Batu tumbuh secara alami, bukan dibuat-buat untuk kepentingan penilaian. Pelaku usaha, hotel, restoran, kafe, UMKM, hingga masyarakat saling berkompetisi secara sehat menghadirkan inovasi kuliner yang semakin memperkuat identitas Kota Batu,” ujarnya.
Ketua Komisi Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu M. Anwar menilai kekuatan gastronomi Kota Batu tidak hanya bertumpu pada hasil pertanian maupun inovasi produk kuliner, tetapi memiliki legitimasi sejarah yang kuat melalui Prasasti Sangguran, peninggalan penting yang menandai Batu sebagai wilayah Sima pada masa Jawa Kuna.
“Selama ini gastronomi sering dipahami sebatas makanan dan minuman. Padahal, jika kita membaca Prasasti Sangguran sebagai sumber pengetahuan kebudayaan, kita menemukan fondasi yang jauh lebih dalam. Batu sejak dahulu merupakan wilayah Sima yang memiliki tata kelola ruang, pertanian, dan kehidupan masyarakat yang tertib serta berkelanjutan. Dari sanalah lahir tradisi mengolah hasil bumi sebagai bagian dari identitas masyarakat,” jelas Anwar.
Menurutnya, nilai yang terkandung dalam Prasasti Sangguran memperlihatkan bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi bagian dari tata kehidupan masyarakat yang menghormati keseimbangan antara manusia, alam, dan ruang hidup.
“Jejak itu masih hidup hingga sekarang melalui tradisi Selamatan Desa dengan Nasi Tumpeng sebagai ritual syukur atas hasil panen yang diwariskan lintas generasi. Artinya, gastronomi Batu memiliki kesinambungan sejarah. Mulai dari manuskrip budaya dalam Prasasti Sangguran hingga praktik budaya yang masih dijalankan masyarakat hari ini. Inilah kekuatan narasi yang membedakan Batu, bukan hanya sebagai kota wisata, tetapi sebagai kota yang memiliki peradaban gastronomi,” bebernya.
Anwar menambahkan, penyelenggaraan Puja Manusuk Sima Prasasti Sangguran Kaping V Tahun 2026 pada 2 Agustus mendatang menjadi momentum penting untuk menghubungkan warisan sejarah dengan arah pembangunan ekonomi kreatif masa kini.
“Tema ‘Menyapa Ulang Jejak Peradaban, Meneguhkan Identitas Batu sebagai Wilayah Sima dan Menghidupkan Batu sebagai Kota Agro Kreatif Gastronomi’ merupakan penegasan bahwa pembangunan Kota Batu harus berpijak pada identitasnya sendiri. Pertanian menjadi sumber bahan baku, budaya menjadi ruhnya, sedangkan gastronomi menjadi wajah yang mempertemukan sejarah, pariwisata, ekonomi kreatif, dan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Koordinator Forum Lintas Komunitas Batu Creative Hub (BCH) Alan W. Hafiludin mengatakan bahwa kekuatan utama Kota Batu justru terletak pada kolaborasi lintas komunitas yang tumbuh secara organik.
“Program KaTa Kreatif membuktikan bahwa membangun kota kreatif tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Yang paling menentukan adalah kemampuan seluruh ekosistem untuk berkolaborasi. Di Batu, komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, pemerintah, hingga lembaga keuangan telah membangun ruang kolaborasi yang saling menguatkan,” ujarnya.
Menurut Alan, proses uji petik menjadi kesempatan memperlihatkan bagaimana setiap subsektor saling terhubung membentuk rantai nilai ekonomi kreatif. “Ketika petani menghasilkan bahan baku, pelaku kuliner mengolahnya menjadi produk, desainer memperkuat identitas merek, media mempromosikannya, komunitas menggerakkan aktivitas kreatif, dan sektor pariwisata menghadirkan pengalaman kepada wisatawan, di situlah ekosistem ekonomi kreatif bekerja. Kolaborasi seperti inilah yang menjadi modal utama Batu menuju Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia,” katanya.
Ia berharap pengakuan sebagai KaTa Kreatif nantinya menjadi awal penguatan ekosistem ekonomi kreatif yang semakin inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada potensi lokal. Selama tiga hari pelaksanaan uji petik, Tim Penilai Nasional mengunjungi sejumlah lokus strategis yang menggambarkan rantai nilai gastronomi Kota Batu.
Hari pertama diawali di Pasar Induk Among Tani untuk melihat aktivitas pusat kuliner dan distribusi bahan pangan, dilanjutkan ke Kampung Ekraf Rejoso yang memperlihatkan keterhubungan subsektor kriya dengan kuliner melalui produksi alat dapur tradisional. Kemudian ke Kampung Tempe Beji yang menampilkan kolaborasi kuliner, kriya, desain, dan budaya melalui olahan tempe serta batik motif tempe.
Tim juga mengunjungi PLUT UMKM Kota Batu, melakukan audiensi bersama Wali Kota Batu, serta meninjau sentra kuliner di kawasan Alun-Alun Batu. Pada hari kedua, verifikasi berlanjut ke Punk Potatoes, Pabriek Apel, Wisata Dusun Kuliner, Ramayana, SLB EM, Flamboyan, Studio ATV, Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), hingga Galeri Raos guna melihat integrasi inovasi produk, desain, media, seni, dan promosi ekonomi kreatif.
Sementara pada hari ketiga, Tim Penilai Nasional bersama unsur akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media, dan lembaga keuangan mengikuti Focus Group Discussion (FGD) di Balai Kota Among Tani untuk memaparkan hasil observasi lapangan, menyepakati subsektor unggulan, menyusun rekomendasi pengembangan ekonomi kreatif, serta menandatangani Berita Acara Hasil Uji Petik.(eri/lim)