Liburan sekolah akhir semester telah usai. Ini momen haru bagi orang tua yang anaknya pertama kali bersekolah. Sama dengan di Cape Town. Minggu ini anak-anak pada umumnya juga kembali ke sekolah setelah menikmati tiga minggu liburan. Apa yang membedakan liburan sekolah di Indonesia dan South Africa?
MALANG POSCO MEDIA-Musim dingin sudah benar-benar datang di Cape Town – South Africa. Yes, kawan pembaca tidak salah. Afrika Selatan (Afsel) memiliki empat musim layaknya di Eropa – musim dingin, semi, panas, dan gugur.
Hanya ada empat negara di benua Afrika yang memiliki empat musim. Yaitu Afrika Selatan, Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Selebihnya hanya memiliki musim panas, seperti di Indonesia karena dekat dengan garis khatulistiwa.
Dinginnya di Afsel juga tidak main-main, terutama di Cape Town sendiri. Secara angka celcius mungkin Cape Town bukanlah kota yang paling dingin di Afsel. Namun karena letak Cape Town yang bersandingan dengan Samudera Atlantik yang sangat dingin, maka angin winternya seperti menusuk tulang. Angin di Cape Town juga lebih kencang daripada di Pretoria atau Johannesburg (dua kota besar lainnya di Afsel).
Tidak hanya angin kencang, curah hujan dan kelembapan di Cape Town lebih tinggi dari kota lain juga. Misal, suhu di Johannesberg dan Cape Town sama-sama 10 derajat celcius. Karena Joberg lebih kering dan Cape Town lembab, maka sering kali terasa Cape Town lebih mencekam winternya, hahahaha. Tahun ini kami dipertemukan dua kali winter. Ulalalalaaaaaa…..
Berbeda dengan bangunan rumah di Swiss yang di desain memiliki insulasi penghangat dinding dan lantai, bangunan rumah di Cape Town sama dengan di Portugal. Artinya, kalau di luar sedang lima derajat celcius, maka di dalam rumahpun juga dengan suhu yang sama. Uniknya, kalau matahari sedang bersinar di kala winter, suhu di halaman rumah bisa lebih hangat daripada di dalam rumah.
Tak heran kalau hanya di dalam rumah saja, pakaian kami bisa tiga lapis. Hahahaha. Emang tidak ada heater atau penghangat ruangan? Alhamdulillah kami memiliki AC pada umumnya yang bisa dijadikan heater. Namun ada konsekuensi juga, semakin lama menghidupkan heater maka semakin banyak juga tagihan listrik yang harus dibayar. Sistem bayar listriknya model token sama seperti di Indonesia. Jadi isi nominal sesuai dengan yang dibutuhkan, kalau kuota sudah menipis maka akan bunyi bip bip bip. Rata-rata pemakaian listrik untuk rumah besar, tiga kamar tidur, dan ruang tamu kalau full heater dihidupkan bisa mencapai minimal ZAR 5000 – 6000 atau setara Rp 5.000.000 – 6.000.000 per bulan.
Anak – anak di Afsel sudah puas menikmati liburan musim dingin. Tapi untuk anak tidak ada yang namanya puas. Mereka pasti selalu ingin liburan dan liburan. Sedikit berbeda dengan anak Indonesia yang setelah liburan akan excited untuk naik kelas di jenjang berikutnya, maka anak Afsel belum kenaikan kelas. Tahun akademik di Indonesia dimulai bulan Juli dan berakhir Juni. Sedangkan di Afsel, tahun ajaran baru dimulai pada bulan Januari dan berakhir di Desember. Sehingga anak-anak Afsel masih memasuki semester ke-3.
Pola kalender pendidikan ini tidak semua sama di benua Afrika. Masing-masing negara memiliki kebijakan sendiri, mostly bergantung sama musim, sama budaya dari warisan kolonial, dan pertimbangan ujian nasional universitas. Afsel, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Mozambik (negara-negara di bagian selatan) mengikuti kalender satu tahun penuh. Sedangkan negara di bagian Afrika Utara mengikuti kalender Eropa dimana tahun ajaran dimulai September sampai Juni.
Sekolah putra kami, DoubleZ tidak menggunakan kurikulum Afrika Selatan, sehingga kalender pendidikannya juga sedikit berbeda. Tahun ajaran dimulai pada bulan Agustus dan diakhiri pada bulan Juni. Well, dimana normalnya anak-anak sudah kembali ke sekolah, mereka masih menikmati liburan panjaaaaaang sampai akhir juli. Anak senang, ibunya pusing, wkwkwkwkwk. Ada yang sepemikiran denganku moms??
Ternyata sekolah publik di Afsel juga sama seperti di Indonesia. Murid perlu seragam, beli buku sendiri, dan menyiapkan ATK. Murid tidak dipungut biaya bulanan sekolah. Jam masuk sekolah rata-rata dari pukul 07.30 – 14.00. Tergantung kebijakan sekolah masing-masing dan grade murid. Karena adanya kesenjangan pandangan di Afrika Selatan dimana perbedaan kulit putih dan kulit hitam dari zaman dulu, maka juga terlihat adanya kesenjangan pendidikan.
Tidak semua sekolah publik di luar negeri standarnya sama dengan Swiss. Hahaha. Sekolah publik di Swiss sudah include dipersiapkan buku dan ATK oleh sekolah. Bahkan saat Zirco pindahan dari Swiss ke Portugal, dia mendapatkan semua pensil warna, krayon, spidol dari sekolahannya. Dan juga mostly di Eropa semua murid tidak memakai seragam. Murid bisa berangkat ke sekolah dengan baju apapun. Tidak ada tambahan biaya yang harus dikeluarkan orang tua.
Sedangkan di Portugal kombinasi dari kedua negara tersebut. Tidak ada seragam di sekolah publik dan biaya bulanan sekolah alias free. Namun orang tua perlu menyiapkan ATK dan juga buku untuk anaknya. Ada beberapa buku yang dipinjamkan dari sekolah dan harus dikembalikan di akhir tahun. Tapi terkadang kualitasnya kurang oke, sehingga kalau ortu ingin membeli baru juga dipersilakan.
Kalau Moms dan Dads, apakah punya impian tersendiri tentang di mana anak akan bersekolah? Di negara mana, atau mungkin dengan sistem pendidikan seperti apa? Lalu, kalau melihat kondisi saat ini, apakah sekolah anak sudah sesuai dengan yang dulu pernah diimpikan? Yang paling penting, apakah mereka merasa bahagia, aman, dan nyaman menjalani hari-harinya di sana?
Pada akhirnya, apa pun pilihan sekolahnya – baik sekolah negeri, swasta, sekolah berbasis agama, maupun sekolah internasional, semoga semua menjadi tempat terbaik bagi anak-anak kita untuk bertumbuh, belajar, dan menemukan potensi mereka. Semoga Tuhan selalu memudahkan langkah mereka dalam menuntut ilmu. Semoga kita sebagai orang tua juga senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan rezeki yang lapang agar bisa terus mendukung tumbuh kembang mereka, membersamai setiap prosesnya, serta mengantarkan mereka menggapai cita-cita dan mimpi-mimpinya. Selamat memasuki tahun ajaran baru, Moms and Dads. (opp/van)