Category: Internasional

  • Tanker Meledak Saat Berusaha Lewat Selat Hormuz

    MALANGPOSCOMEDIA – Tiga tanker minyak mencoba melintasi wilayah Selat Hormuz yang telah dipasangi ranjau, di mana satu di antaranya meledak, menurut pernyataan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Kamis.

    “Tiga tanker minyak dukungan Amerika Serikat mencoba melintasi rute yang telah dipasangi ranjau di sebelah selatan Selat Hormuz. Setelah salah satu kapal tanker itu meledak dan terbakar, dua kapal lainnya segera berbalik arah dan mundur,” kata IRGC seperti dikutip Press TV.

    IRGC menyatakan tidak ada tanker minyak yang diizinkan masuk maupun keluar.

    “Setiap kapal, yang terjebak dalam tipu daya Amerika dan mencoba melintas tanpa koordinasi dengan Republik Islam Iran, akan menemui nasib yang sama,” tegas IRGC.

    Sebelumnya, Rabu (22/7), Juru Bicara IRGC Hossein Mohebbi mengatakan jalur selatan Selat Hormuz telah dipasangi ranjau.

    “Jalur selatan Selat Hormuz yang telah dipasangi ranjau akan menghancurkan investasi Anda. Jangan terjebak oleh tipu daya Amerika Serikat,” kata Mohebbi.

    Presiden AS Donald Trump pun pada Rabu itu juga mengancam akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran, termasuk di Teheran, setiap kali Iran melancarkan serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.(ntr/nug)

    Sumber: Sputnik/RIA Novosti

  • Spanyol Catat Rekor Tak Terkalahkan Terpanjang; Raih Bintang Kedua

    MALANG POSCO MEDIA – Tim nasional Spanyol berhak menyandang bintang kedua sebagai ornamen tambahan di atas emblem seragam mereka setelah menjuarai Piala Dunia 2026. Spanyol sukses mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 dalam partai final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7) pagi.

    Gol semata wayang Ferran Torres pada babak tambahan waktu kedua menjadi penentu kemenangan Spanyol atas Argentina yang harus bermain dengan 10 pemain lantaran Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua di pengujung waktu normal.

    Prestasi itu membuat Spanyol kini mengoleksi dua trofi Piala Dunia setelah juga menjuarai edisi 2010 di Afrika Selatan. Spanyol kini setara dengan Uruguay dan Prancis yang juga dua kali menjuarai Piala Dunia, masing-masing pada 1930 dan 1950 serta 1998 dan 2018.

    Hebatnya, Spanyol juga mencatat rekor tak terkalahkan terpanjang dalam sejarah sepak bola internasional putra seusai menekuk Argentina. Berdasarkan laporan FIFA dalam laman resminya, Spanyol tidak terkalahkan dalam 38 pertandingan dengan 29 kemenangan dan sembilan hasil imbang sejak 2024 hingga Piala Dunia 2026.

    Dalam kurun waktu itu, Spanyol mampu mempertahankan identitas permainan berbasis penguasaan bola, umpan-umpan pendek, dan tekanan tinggi yang membuat mereka sulit dikalahkan oleh lawan mana pun.

    Spanyol tak terkalahkan dalam sembilan pertandingan yang dilakoni sepanjang Piala Dunia 2026. Tim berjuluk La Roja itu ditahan imbang Tanjung Verde dengan skor 0-0 pada laga pembuka fase grup.

    Hasil imbang tersebut menjadi satu-satunya pertandingan di Piala Dunia 2026 ketika Spanyol gagal meraih kemenangan. Setelah itu, tim asuhan Luis de la Fuente bangkit dengan menyapu bersih delapan laga berikutnya, termasuk menaklukkan Argentina dengan skor 1-0 pada laga final. (ntr/bua)

  • Melihat Perbedaan Antara Sekolah di Indonesia dan Afrika Selatan

    Liburan sekolah akhir semester telah usai. Ini momen haru bagi orang tua yang anaknya pertama kali  bersekolah. Sama dengan di Cape Town. Minggu ini anak-anak pada umumnya juga kembali ke sekolah setelah menikmati tiga minggu liburan. Apa yang membedakan liburan sekolah di Indonesia dan South Africa?

    MALANG POSCO MEDIA-Musim dingin sudah benar-benar datang di Cape Town – South Africa. Yes, kawan pembaca tidak salah. Afrika Selatan (Afsel) memiliki empat musim layaknya di Eropa – musim dingin, semi, panas, dan gugur.

    Hanya ada empat negara di benua Afrika yang memiliki empat musim. Yaitu Afrika Selatan, Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Selebihnya hanya memiliki musim panas, seperti di Indonesia karena dekat dengan garis khatulistiwa.

    Dinginnya di Afsel juga tidak main-main, terutama di Cape Town sendiri. Secara angka celcius mungkin Cape Town bukanlah kota yang paling dingin di Afsel. Namun karena letak Cape Town yang bersandingan dengan Samudera Atlantik yang sangat dingin, maka angin winternya seperti menusuk tulang. Angin di Cape Town juga lebih kencang daripada di Pretoria atau Johannesburg (dua kota besar lainnya di Afsel).

    Tidak hanya angin kencang, curah hujan dan kelembapan di Cape Town lebih tinggi dari kota lain juga. Misal, suhu di Johannesberg dan Cape Town sama-sama 10 derajat celcius. Karena Joberg lebih kering dan Cape Town lembab, maka sering kali terasa Cape Town lebih mencekam winternya, hahahaha. Tahun ini kami dipertemukan dua kali winter. Ulalalalaaaaaa…..

    Berbeda dengan bangunan rumah di Swiss yang di desain memiliki insulasi penghangat dinding dan lantai, bangunan rumah di Cape Town sama dengan di Portugal. Artinya, kalau di luar sedang lima derajat celcius, maka di dalam rumahpun juga dengan suhu yang sama. Uniknya, kalau matahari sedang bersinar di kala winter, suhu di halaman rumah bisa lebih hangat daripada di dalam rumah.

    Tak heran kalau hanya di dalam rumah saja, pakaian kami bisa tiga lapis. Hahahaha. Emang tidak ada heater atau penghangat ruangan? Alhamdulillah kami memiliki AC pada umumnya yang bisa dijadikan heater. Namun ada konsekuensi juga, semakin lama menghidupkan heater maka semakin banyak juga tagihan listrik yang harus dibayar. Sistem bayar listriknya model token sama seperti di Indonesia. Jadi isi nominal sesuai dengan yang dibutuhkan, kalau kuota sudah menipis maka akan bunyi bip bip bip. Rata-rata pemakaian listrik untuk rumah besar, tiga kamar tidur, dan ruang tamu kalau full heater dihidupkan bisa mencapai minimal ZAR 5000 – 6000 atau setara Rp 5.000.000 – 6.000.000 per bulan.  

    Anak – anak di Afsel sudah puas menikmati liburan musim dingin. Tapi untuk anak tidak ada yang namanya puas. Mereka pasti selalu ingin liburan dan liburan. Sedikit berbeda dengan anak Indonesia yang setelah liburan akan excited untuk naik kelas di jenjang berikutnya, maka anak Afsel belum kenaikan kelas. Tahun akademik di Indonesia dimulai bulan Juli dan berakhir Juni. Sedangkan di Afsel, tahun ajaran baru dimulai pada bulan Januari dan berakhir di Desember. Sehingga anak-anak Afsel masih memasuki semester ke-3.

    Pola kalender pendidikan ini tidak semua sama di benua Afrika. Masing-masing negara memiliki kebijakan sendiri, mostly bergantung sama musim, sama budaya dari warisan kolonial, dan pertimbangan ujian nasional  universitas. Afsel, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Mozambik (negara-negara di bagian selatan) mengikuti kalender satu tahun penuh. Sedangkan negara di bagian Afrika Utara mengikuti kalender Eropa dimana tahun ajaran dimulai September sampai Juni.

    Sekolah putra kami, DoubleZ tidak menggunakan kurikulum Afrika Selatan, sehingga kalender pendidikannya juga sedikit berbeda. Tahun ajaran dimulai pada bulan Agustus dan diakhiri pada bulan Juni. Well, dimana normalnya anak-anak sudah kembali ke sekolah, mereka masih menikmati liburan panjaaaaaang sampai akhir juli. Anak senang, ibunya pusing, wkwkwkwkwk. Ada yang sepemikiran denganku moms??

    Ternyata sekolah publik di Afsel juga sama seperti di Indonesia. Murid perlu seragam, beli buku sendiri, dan menyiapkan ATK. Murid tidak dipungut biaya bulanan sekolah. Jam masuk sekolah rata-rata dari pukul  07.30 – 14.00. Tergantung kebijakan sekolah masing-masing dan grade murid. Karena adanya kesenjangan  pandangan  di Afrika Selatan dimana perbedaan kulit putih dan kulit hitam dari zaman dulu, maka juga terlihat adanya kesenjangan pendidikan.

    Tidak semua sekolah publik di luar negeri standarnya sama dengan Swiss. Hahaha. Sekolah publik di Swiss sudah include dipersiapkan buku dan ATK oleh sekolah. Bahkan saat Zirco pindahan dari Swiss ke Portugal, dia mendapatkan semua pensil warna, krayon, spidol dari sekolahannya. Dan juga mostly di Eropa semua murid tidak memakai seragam. Murid bisa berangkat ke sekolah dengan baju apapun. Tidak ada tambahan biaya yang harus dikeluarkan orang tua.

    Sedangkan di Portugal kombinasi dari kedua negara tersebut. Tidak ada seragam di sekolah publik dan biaya bulanan sekolah alias free. Namun orang tua perlu menyiapkan ATK dan juga buku untuk anaknya. Ada beberapa buku yang dipinjamkan dari sekolah dan harus dikembalikan di akhir tahun. Tapi terkadang kualitasnya kurang oke, sehingga kalau ortu ingin membeli baru juga dipersilakan.  

    Kalau Moms dan Dads, apakah punya impian tersendiri tentang di mana anak akan bersekolah? Di negara mana, atau mungkin dengan sistem pendidikan seperti apa? Lalu, kalau melihat kondisi saat ini, apakah sekolah anak sudah sesuai dengan yang dulu pernah diimpikan? Yang paling penting, apakah mereka merasa bahagia, aman, dan nyaman menjalani hari-harinya di sana?

    Pada akhirnya, apa pun pilihan sekolahnya – baik sekolah negeri, swasta, sekolah berbasis agama, maupun sekolah internasional, semoga semua menjadi tempat terbaik bagi anak-anak kita untuk bertumbuh, belajar, dan menemukan potensi mereka. Semoga Tuhan selalu memudahkan langkah mereka dalam menuntut ilmu. Semoga kita sebagai orang tua juga senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan rezeki yang lapang agar bisa terus mendukung tumbuh kembang mereka, membersamai setiap prosesnya, serta mengantarkan mereka menggapai cita-cita dan mimpi-mimpinya. Selamat memasuki tahun ajaran baru, Moms and Dads. (opp/van)

  • Aturan Cooling Break Dievaluasi

    MALANG POSCO MEDIA – FIFA akan mengevaluasi kebijakan hydration break atau cooling break yang diterapkan wajib sepanjang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Meski menuai pro dan kontra, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA Arsene Wenger menilai jeda hidrasi tidak memengaruhi hasil pertandingan.

    Pernyataan itu disampaikan Wenger menjelang final Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7) waktu setempat. Menurutnya, evaluasi akan dilakukan setelah turnamen berakhir dengan mempertimbangkan aspek medis, kualitas pertandingan, hingga kenyamanan penonton.

    “Kami akan melakukan analisis setelah Piala Dunia mengenai dampaknya,” ujar Wenger, dikutip dari Reuters.

    Selama Piala Dunia 2026, FIFA mewajibkan jeda hidrasi selama tiga menit pada pertengahan babak pertama dan kedua di seluruh pertandingan. Kebijakan itu diambil untuk melindungi kondisi fisik pemain karena sebagian laga berlangsung dalam suhu yang sangat panas.

    Namun, aturan tersebut memunculkan perdebatan. Sebagian pihak menilai cooling break mengganggu ritme permainan, bahkan dianggap membuat pertandingan terasa seperti terbagi menjadi empat kuarter sekaligus memberi ruang tambahan bagi siaran iklan. Meski demikian, Wenger menegaskan berdasarkan pengamatannya, jeda tersebut tidak mengubah jalannya kompetisi.

    “Menurut saya, jeda hidrasi itu tidak mengubah hasil kompetisi. Namun kami ada di sini untuk melayani orang-orang yang menonton sepak bola,” katanya.

    FIFA memilih menerapkan aturan yang sama di seluruh laga agar tidak terjadi perbedaan perlakuan, meski kondisi cuaca di setiap kota tuan rumah sangat bervariasi, mulai dari suhu ekstrem di Amerika Serikat dan Meksiko hingga cuaca sejuk di Kanada atau pertandingan yang digelar di stadion beratap.

    Sejumlah pelatih dan pemain mendukung aturan tersebut saat laga berlangsung dalam cuaca panas. Namun, pelatih Spanyol Luis de la Fuente, kapten Belanda Virgil van Dijk, hingga pelatih Inggris Thomas Tuchel mempertanyakan penerapannya pada pertandingan di stadion tertutup atau wilayah bersuhu rendah. Sementara pelatih Uruguay Marcelo Bielsa menjadi salah satu sosok yang paling keras mengkritik aturan itu.

    Hingga kini FIFA belum memutuskan apakah cooling break akan tetap diberlakukan pada turnamen mendatang. Keputusan akhir akan diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap manfaat medis, kualitas pertandingan, dan pengalaman para penonton. (*/bua)

  • Perebutan Tuan Rumah Final Piala Dunia 2030; Maroko Tantang Dominasi Spanyol

    MALANG POSCO MEDIA – Persaingan menuju partai puncak Piala Dunia 2030 mulai memanas. Bukan di lapangan hijau, melainkan dalam perebutan status sebagai tuan rumah laga final. Maroko dan Spanyol kini sama-sama mengajukan stadion terbaiknya untuk menggelar pertandingan paling bergengsi di dunia tersebut.

    Piala Dunia 2030 akan digelar bersama oleh Maroko, Spanyol, dan Portugal. Namun hingga kini FIFA belum menetapkan stadion yang akan menjadi venue final. Situasi itu memicu persaingan sengit di antara negara tuan rumah.

    Maroko tampil percaya diri dengan proyek megastadion Hassan II di kawasan dekat Casablanca. Stadion berkapasitas 115 ribu penonton itu diproyeksikan menjadi stadion sepak bola terbesar di dunia dengan nilai pembangunan sekitar USD 12 miliar atau setara Rp215 triliun. Pembangunannya ditargetkan selesai pada akhir 2027 sebagai modal utama menjadi tuan rumah final.

    Di sisi lain, Spanyol mengandalkan dua stadion ikonik. Santiago Bernabeu di Madrid yang telah selesai direnovasi dan berkapasitas sekitar 83 ribu penonton menjadi kandidat utama. Alternatif lainnya adalah Camp Nou di Barcelona yang setelah renovasi ditargetkan mampu menampung sekitar 105 ribu penonton.

    Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), Rafael Louzan, optimistis laga final layak digelar di negaranya. “Kami memiliki kapasitas organisasi yang telah terbukti selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, Spanyol akan menjadi negara yang memimpin Piala Dunia 2030 dan tempat final turnamen ini akan dimainkan,” ujarnya.

    Sementara itu, Presiden Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF), Fouzi Lekjaa, memilih bersikap tenang. Ia menegaskan hingga kini belum ada keputusan mengenai pembagian pertandingan karena seluruh proses masih dibahas bersama FIFA dan tiga negara penyelenggara.

    Apabila Stadion Hassan II terpilih, Casablanca akan mencatat sejarah sebagai kota Afrika kedua yang menggelar final Piala Dunia setelah Johannesburg pada 2010. Hingga saat ini, FIFA masih menggodok keputusan yang diperkirakan menjadi salah satu agenda paling dinantikan dalam persiapan Piala Dunia 2030. (*/bua)

  • FIFA Raup Rp 269 Triliun, Rekor Baru Sepanjang Sejarah

    MALANG POSCO MEDIA – Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan persaingan sengit di lapangan, tetapi juga mencetak sejarah dari sisi bisnis. FIFA memastikan meraih pendapatan tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan turnamen empat tahunan itu dengan total pemasukan mencapai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 269 triliun.

    Jumlah tersebut jauh melampaui proyeksi awal yang diperkirakan hanya sekitar 11 miliar dolar AS. Presiden FIFA Gianni Infantino mengumumkan capaian itu kepada seluruh asosiasi anggota FIFA, Sabtu (19/7).

    Lonjakan pendapatan terutama berasal dari penjualan tiket dan paket hospitality, termasuk transaksi di pasar penjualan kembali (secondary market). Dalam skema tersebut, FIFA disebut memperoleh komisi masing-masing 15 persen dari pembeli dan penjual tiket, sehingga menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar sepanjang turnamen berlangsung.

    Rekor finansial ini diperkirakan akan membawa keuntungan bagi federasi-federasi anggota FIFA melalui peningkatan dana distribusi, meski hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai besaran yang akan diterima masing-masing asosiasi.

    Keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat posisi Gianni Infantino di tengah berbagai kritik dan kontroversi yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Bahkan, lebih dari 200 asosiasi anggota dikabarkan telah menyatakan dukungan terhadap pencalonannya kembali sebagai Presiden FIFA pada pemilihan 2027.

    Di sisi lain, FIFA juga masih memburu pemasukan hingga laga puncak. Menjelang final Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina di Stadion MetLife, New Jersey, Senin (20/7) dini hari WIB, paket VIP dan hospitality tetap dipasarkan. Paket premium Trophy Lounge bahkan dibanderol mencapai 34.500 dolar AS atau sekitar Rp619 juta per orang.

    Kesuksesan finansial Piala Dunia 2026 pun diyakini semakin mengukuhkan turnamen ini sebagai ajang olahraga paling bernilai di dunia, sekaligus membuka peluang Amerika Serikat kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada edisi 2038. (*/bua)

  • Inggris Tutup Piala Dunia 2026 dengan Manis; Akhiri Penantian 60 Tahun

    MALANG POSTCO MEDIA – Timnas Inggris menutup kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan manis. The Three Lions memastikan finis di peringkat ketiga usai menaklukkan Prancis 6-4 dalam laga perebutan tempat ketiga di Miami Stadium, Minggu (19/7/2026) pagi WIB.

    Laga berlangsung spektakuler dengan total 10 gol tercipta. Inggris langsung tancap gas melalui gol cepat Declan Rice pada menit ketiga, disusul Ezri Konsa (18′). Bukayo Saka kemudian menjadi bintang kemenangan lewat hattrick, termasuk dua gol di babak pertama yang membawa Inggris unggul telak 4-0 saat turun minum.

    Prancis sempat bangkit pada babak kedua. Kylian Mbappe mencetak dua gol, sementara Bradley Barcola dan Ousmane Dembele masing-masing menyumbang satu gol sehingga Les Bleus sempat memangkas ketertinggalan menjadi 5-4.

    Namun, Inggris tetap tampil tenang. Penalti Saka pada menit ke-87 memastikan hattrick sang winger Arsenal, sebelum Jude Bellingham menutup pesta gol melalui aksi solo run pada masa injury time untuk mengunci kemenangan 6-4.

    Hasil ini menjadi pencapaian terbaik Inggris di Piala Dunia dalam 60 tahun terakhir. Setelah terakhir kali menjadi juara dunia pada 1966, The Three Lions akhirnya kembali membawa pulang medali Piala Dunia, meski hanya perunggu.

    Pelatih Thomas Tuchel mengakui medali perunggu memang belum mampu menghapus kekecewaan karena gagal melaju ke final. Namun, ia menilai anak asuhnya layak berbangga atas respons luar biasa setelah tersingkir secara menyakitkan di semifinal.

    “Pertandingan ini akan membantu kami. Ini adalah medali Piala Dunia pertama Inggris dalam 60 tahun. Saya berharap para pemain suatu hari nanti benar-benar bangga dengan pencapaian ini,” ujar Tuchel.

    Sementara itu, Bukayo Saka mengaku kekalahan dari Argentina di semifinal masih membekas. Meski demikian, ia puas bisa membantu Inggris menutup turnamen dengan hasil positif.

    “Kami kecewa gagal ke final, tetapi yang terpenting adalah mengakhiri turnamen dengan performa terbaik dan memberikan pencapaian terbaik bagi Inggris di Piala Dunia dalam 60 tahun terakhir,” kata Saka.

    Kemenangan dramatis ini menjadi penutup manis perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026 sekaligus modal berharga untuk menatap turnamen besar berikutnya. (*/bua)

  • Badai Ganggu Spanyol dan Argentina Jelang Final Piala Dunia

    MALANGPOSCOMEDIA – Badai ganggu persiapan Spanyol dan Argentina jelang Final Piala Dunia.

    Tim nasional Spanyol terpaksa membatalkan sesi latihan yang dijadwalkan pada Sabtu (18/7) waktu setempat di Lapangan Latihan Melanie Lane, New Jersey, sesuai dengan protokol keselamatan yang berlaku di AS, kata Federasi Sepak Bola Spanyol dalam sebuah pernyataan.

    Argentina memulai sesi latihan terakhirnya 45 menit lebih lambat dari jadwal semula di Morristown, New Jersey.

    Badan Cuaca Nasional AS pada Sabtu itu mengeluarkan peringatan mengenai badai petir dahsyat dan banjir bandang di wilayah metropolitan New York dan New Jersey.

    Badan tersebut memperkirakan cuaca cerah pada Minggu dengan suhu maksimum mencapai 84 derajat Fahrenheit (sekitar 29 derajat Celsius).(ntr/nug)

  • Liburan Sekolah Usai, Anak-anak Afsel Masih Memasuki Semester ke-3

    Malang Posco Media-Liburan sekolah akhir semester telah usai. Ini adalah momen haru bagi orang tua yang anaknya pertama kali memakai seragam merah putih, biru putih, atau putih abu-abu. Ada juga momen lega yang akhirnya si anak kembali ke sekolah setelah berminggu-minggu menghabiskan waktu di rumah. Sama dengan di Cape Town, minggu ini anak-anak pada umumnya juga kembali ke sekolah setelah menikmati 3 minggu liburan. Apa yang membedakan liburan sekolah di Indonesia dan South Africa?

    Musim dingin sudah benar-benar datang di Cape Town – South Africa. Yes, kawan pembaca tidak salah. Afrika Selatan (Afsel) memiliki 4 musim layaknya di Eropa – musim dingin, semi, panas, dan gugur. Hanya ada 4 negara di benua Afrika yang memiliki 4 musim, yaitu Afrika Selatan, Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Selebihnya hanya memiliki musim panas, seperti di Indonesia karena dekat dengan garis khatulistiwa.

    Semangaat para ibu sedunia untuk membersamai anak-anak

    Dinginnya di Afsel juga tidak main-main, terutama di Cape Town sendiri. Secara angka celcius mungkin Cape Town bukanlah kota yang paling dingin di Afsel. Namun karena letak Cape Town yang bersandingan dengan Samudera Atlantik yang sangat dingin, maka angin winternya seperti menusuk tulang. Angin di Cape Town juga lebih kencang daripada di Pretoria atau Johannesburg (dua kota besar lainnya di Afsel).

    Tidak hanya angin kencang, curah hujan dan kelembapan di Cape Town lebih tinggi dari kota lain juga. Misal, suhu di Johannesberg dan Cape Town sama-sama 10 derajat celcius. Karena Joberg lebih kering dan Cape Town lembab, maka sering kali terasa Cape Town lebih mencekam winternya, hahahaha.

    Zirco belajar piano untuk mengisi winter break

    Tahun ini kami dipertemukan 2x winter. Ulalalalaaaaaa…..
    Berbeda dengan bangunan rumah di Swiss yang di desain memiliki insulasi penghangat dinding dan lantai, bangunan rumah di Cape Town sama dengan di Portugal. Artinya, kalau diluar sedang 5 derajat celcius, maka di dalam rumahpun juga dengan suhu yang sama. Uniknya, kalau matahari sedang bersinar di kala winter, suhu di halaman rumah bisa lebih hangat daripada di dalam rumah.
    Tak heran kalau hanya di dalam rumah saja, pakaian kami bisa 3 lapis. Hahahaha. Emang tidak ada heater atau penghangat ruangan?

    Alhamdulillah kami memiliki AC pada umumnya yang bisa dijadikan heater. Namun ada konsekuensi juga, semakin lama menghidupkan heater maka semakin banyak juga tagihan Listrik yang harus di bayar. Sistem bayar listriknya model token sama seperti di Indonesia. Jadi isi nominal sesuai dengan yang dibutuhkan, kalau kuota sudah menipis maka akan bunyi bip bip bip. Rata-rata pemakaian Listrik untuk rumah besar, 3 kamar tidur, dan ruang tamu kalau full heater dihidupkan bisa mencapai minimal ZAR 5000 – 6000 atau setara Rp.5.000.000 – 6.000.000 per bulan.

    Jadwal Pelajaran Zirco saat kelas 3. Sekolah dari jam 08.00 – 15.00

    Anak – anak di Afsel sudah puas menikmati liburan musim dingin. Tapi untuk anak tidak ada yang namanya puas. Mereka pasti selalu ingin liburan dan liburan. Sedikit berbeda dengan anak Indonesia yang setelah liburan akan excited untuk naik kelas di jenjang berikutnya, maka anak Afsel belum kenaikan kelas. Tahun akademik di Indonesia dimulai bulan Juli dan berakhir Juni. Sedangkan di Afsel, tahun ajaran baru dimulai pada bulan Januari dan berakhir di Desember. Sehingga anak-anak Afsel masih memasuki semester ke-3.

    Pola kalender pendidikan ini tidak semua sama di benua Afrika. Masing-masing negara memiliki kebijakan sendiri, mostly bergantung sama musim, sama budaya dari warisan kolonial, dan pertimbangan ujian nasional / universitas. Afsel, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Mozambik (negara-negara di bagian selatan) mengikuti kalender 1 tahun penuh. Sedangkan negara di bagian Afrika Utara mengikuti kalender Eropa dimana tahun ajaran dimulai September sampai Juni.

    Salah satu list perlengkapan ATK yang perlu dipersiapkan oleh orang tua

    Sekolah DoubleZ tidak menggunakan kurikulum Afrika Selatan, sehingga kalender pendidikannya juga sedikit berbeda. Tahun ajaran dimulai pada bulan Agustus dan diakhiri pada bulan Juni. Well, dimana normalnya anak-anak sudah kembali ke sekolah, mereka masih menikmati liburan panjaaaaaang sampai akhir juli. Anak senang, ibunya pusing, wkwkwkwkwk. Ada yang sepemikiran denganku moms??

    Ternyata sekolah publik di Afsel juga sama seperti di Indonesia. Murid perlu seragam, beli buku sendiri, dan menyiapkan ATK. Murid tidak dipungut biaya bulanan sekolah. Jam masuk sekolah rata-rata dari jam 7.30 – 14.00. Tergantung kebijakan sekolah masing-masing dan grade murid. Karena adanya kesenjangan rasis di Afrika Selatan dimana perbedaan kulit putih dan kulit hitam dari jaman dulu, maka juga terlihat adanya kesenjangan pendidikan.

    Salah satu contoh seragam sekolah di Cape Town (Sumber: Sale Photo from Marketplace Facebook)

    Tidak semua sekolah publik di luar negeri standarnya sama dengan Swiss. Hahaha. Sekolah publik di Swiss sudah include dipersiapkan buku dan ATK oleh sekolah. Bahkan saat Zirco pindahan dari Swiss ke Portugal, dia mendapatkan semua pensil warna, krayon, spidol dari sekolahannya. Dan juga mostly di Eropa semua murid tidak memakai seragam. Murid bisa berangkat ke sekolah dengan baju apapun. Tidak ada tambahan biaya yang harus dikeluarkan orang tua.

    Sedangkan di Portugal kombinasi dari kedua negara tersebut. Tidak ada seragam di sekolah publik dan biaya bulanan sekolah alias free. Namun orang tua perlu menyiapkan ATK dan juga buku untuk anaknya. Ada beberapa buku yang dipinjamkan dari sekolah dan harus dikembalikan di akhir tahun. Tapi terkadang kualitasnya kurang oke, sehingga kalau ortu ingin membeli baru juga dipersilahkan
    Kalau Moms dan Dads, apakah punya impian tersendiri tentang di mana anak akan bersekolah? Di negara mana, atau mungkin dengan sistem pendidikan seperti apa? Lalu, kalau melihat kondisi saat ini, apakah sekolah anak sudah sesuai dengan yang dulu pernah diimpikan? Yang paling penting, apakah mereka merasa bahagia, aman, dan nyaman menjalani hari-harinya di sana?

    Zygmund menikmati liburan panjang dirumah

    Pada akhirnya, apa pun pilihan sekolahnya – baik sekolah negeri, swasta, sekolah berbasis agama, maupun sekolah internasional, semoga semua menjadi tempat terbaik bagi anak-anak kita untuk bertumbuh, belajar, dan menemukan potensi mereka. Semoga Tuhan selalu memudahkan langkah mereka dalam menuntut ilmu. Semoga kita sebagai orang tua juga senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan rezeki yang lapang agar bisa terus mendukung tumbuh kembang mereka, membersamai setiap prosesnya, serta mengantarkan mereka menggapai cita-cita dan mimpi-mimpinya.

    Selamat memasuki tahun ajaran baru, Moms and Dads. OPP.

  • Iran Gempur Fasilitas Militer AS di Oman, Suriah, Yordania

    MALANGPOSCOMEDIA – Teheran (ANTARA) – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Jumat menyatakan bahwa pasukan militer Iran telah menghancurkan radar pemantau milik Amerika Serikat (AS) yang ditempatkan di Oman.

    “Pagi ini, pasukan angkatan laut IRGC menargetkan dan menghancurkan sebuah radar pemantau maritim di wilayah Salamah, serta radar pemantau milik AS di Pulau Ghanam, Oman, dalam gelombang ke-13 dari Operasi Nasr-2,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan.

    IRGC juga mengungkapkan telah melancarkan serangan balasan mendadak terhadap pusat komando operasi khusus AS yang bermarkas di daerah At Tanf, yang terletak di wilayah barat daya Suriah.

    Serangan tersebut menghancurkan “sistem radar AS, beberapa unit helikopter operasi khusus, dan sejumlah personel militer”.

    IRGC menambahkan bahwa operasi tersebut merupakan bentuk balasan atas serangan udara AS di dekat Kota Iranshahr di wilayah tenggara Iran.

    Serangan AS tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya tujuh personel Iran, yang terdiri dari prajurit karier dan anggota wajib militer.

    Selain itu, Iran juga meluncurkan serangan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone), yang menghancurkan beberapa pesawat pengisi bahan bakar serta jet tempur AS yang disiagakan di Yordania, ujar IRGC.

    Pada pertengahan Juni lalu, Pemerintah Iran dan Pemerintah AS telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk mengakhiri konflik militer antara kedua negara. Namun, sejak 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran.

    Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim bahwa serangan yang mereka lakukan merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

    Pasukan Iran kemudian membalas tindakan tersebut dengan melancarkan sejumlah serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah. (ntr/van)