MALANG POSCO MEDIA- Musim kemarau rawan kebakaran. Warga diimbau tingkatkan kewaspadaan dini. Segera bertindak agar tak berakibat fatal. Salah satu contohnya seperti kerawanan karena korsleting listrik yang kerap terjadi.
Berkaca di sepanjang tahun 2025 lalu, kasus kebakaran di Kota Malang tercatat mencapai 118 kejadian yang tersebar di lima kecamatan.
Dari jumlah tersebut, penyebab paling dominan berasal dari korsleting listrik. Bahkan menyumbang setengah dari total kasus kebakaran pada tahun lalu.
Pasalnya, kejadian korsleting listrik ini, juga kerap mengintai saat musim kemarau, yang kerap menyebabkan sambungan listrik terkelupas dan berujung pada korsleting hingga musibah kebakaran.
Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang Pandu Rizki Darmawan menjelaskan, dari jumlah kejadian sepanjang 2025, Kecamatan Lowokwaru menjadi wilayah dengan angka kejadian tertinggi. Tercatat, selama 12 bulan, sebanyak 30 kasus atau 25,4 persen dari keseluruhan kejadian terjadi di kawasan kecamatan yang berada di sisi Barat Kota Malang, tersebut.
“Kemudian disusul Kecamatan Kedungkandang sebanyak 26 kasus dengan persentase 22 persen, Kecamatan Sukun 24 kasus atau 20,3 persen, serta Kecamatan Klojen dan Blimbing masing-masing 19 kasus atau 16,1 persen,” jelasnya beberapa waktu lalu.
Jika dilihat dari objek kebakaran, Pandu menjabarkan, mayoritas musibah ini terjadi di kawasan permukiman atau rumah warga dengan 45 kasus atau 38,1 persen. Selain itu, kebakaran juga kerap terjadi pada instalasi listrik seperti gardu PLN sebanyak 19 kasus.
“Selain itu, kami juga menangani beberapa kasus seperti di kawasan pertokoan atau ruko dengan jumlah 12 kasus maupun kejadian kebakaran lahan di kawasan terbuka atau lahan kosong, yang mencapai 15 kasus,” sebutnya.
Sementara beberapa kejadian lain, menimpa restoran maupun kendaraan. Dari sisi penyebab, korsleting listrik menjadi faktor utama dengan 59 kejadian atau 50 persen.
Selain itu, kebocoran saluran LPG menyumbang 16 kasus, disusul kelalaian atau kecerobohan manusia sebanyak 15 kasus. Bentuk kelalaian ini antara lain membakar sampah atau obat nyamuk yang kemudian ditinggalkan hingga memicu api.
“Kami juga mendapati kasus kebakaran yang disebabkan unsur kesengajaan, dengan total kejadian mencapai lima kasus,” imbuh Pandu.
Kasus kebakaran, juga bisa disebabkan perambatan api atau panas, dengan jumlah kejadian di 2025 mencapai lima kasus. Perambatan ini umumnya terjadi akibat gesekan ranting kering dengan instalasi listrik, terutama saat musim kemarau.
“Kami mengingatkan, terkait potensi kebakaran saat musim kemarau cenderung meningkat, terutama akibat kelalaian dan perambatan api. Hal ini bisa disebabkan karena kondisi cuaca kering dan suhu tinggi, sehingga mempercepat penyebaran api, khususnya jika terdapat material mudah terbakar di sekitar lokasi,” terangnya.
Pandu juga mengingatkan agar lebih waspada, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, seperti membakar sampah. Selain itu, pemangkasan ranting pohon yang dekat dengan jaringan listrik juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya kebakaran.
“Kesadaran dan kehati-hatian masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah kebakaran, terutama saat memasuki musim kemarau,” tegasnya.
Sementara itu faktor kelalaian masih menjadi momok terjadinya kebakaran di wilayah Kabupaten Malang. Berdasarkan laporan kejadian yang diterima Malang Posco Media selama 10 hari terakhir, terhitung ada enam insiden kebakaran.
Dari jumlah tersebut, tiga penyebab kebakaran diindikasikan karena adanya aktivitas bermain korek api, aktivitas pembakaran, dan tidak menyadari gas bocor. Penyebab kebakaran lainnya diduga dipicu adanya korsleting listrik kabel.
Salah satu kebakaran rumah disebabkan karena kelalaian sempat terjadi di Dusun Binangun, Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Rabu (8/7) pagi lalu. Penyebabnya karena adanya aktivitas anak bermain korek api.
Komandan Pleton Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (PPK) Satpol PP Kabupaten Malang, Andik Minarko, mengungkapkan bahwa indikasi sumber api dari adanya kelalaian.
“Pemilik rumah ke Dispenduk untuk mengurus KK. Sang anak tidak mau diajak karena ingin di rumah menemani neneknya. Di dalam kamar mungkin bermain korek api sehingga membakar selimut dan menjalar ke ruangan rumah,” beber Andik.
Melihat kobaran api semakin membesar, sang anak yang diketahui berusia enam tahun dan neneknya berhasil menyelamatkan diri ke luar rumah. Warga sekitar kemudian menghubungi Damkar Kabupaten Malang untuk meminta bantuan pemadaman api. Kerugian materil dalam peristiwa ini ditaksir mencapai Rp 30 juta.
Dalam periode 4 Juli – 13 Juli 2026 ini, masih adanya peristiwa kebakaran terjadi dua kali dalam satu hari. Dan, adapula berturut-turut dalam dua hari di tempat yang berbeda. Beruntung tidak ada korban jiwa.
Objek kebakaran di Kabupaten Malang beragam. Mulai dari rumah, gudang mebel, warung kopi dan bengkel las, lahan seluas satu hektare, hingga yang terbaru kebakaran TPS dekat Pasar Sayur Turen, Senin (13/7).
“Kebakaran paling sering terjadi karena kelalaian kecil,” beber Andik.
Ia mengimbau kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran dengan melakukakan beberapa langkah; mencabut colokan jika tidak dipakai, terutama setrika, mejikom, kipas angin, dan charger HP.
“Jangan colokan bertumpuk di satu stop kontak, bisa panas dan korslet. Cek kabel; ganti kalau sudah terkelupas, getas, atau digigit tikus. Pakai peralatan SNI dan hindari listrik ilegal,” urai Andik.
Terkait aktivitas di dapur, petugas pemadam mengingatkan kepada masyarakat agar tidak meninggalkan kompor menyala saat memasak. Bila harus pergi, kompor dipastikan benar-benar mati terlebih dahulu.
Selain itu, agar mengecek selang dan regulator gas secara rutin. Diimbau untuk mengganti selang minimal dua tahun sekali.
Andik juga mengimbau agar kompor dijauhkan dari hal yang mudah terbakar seperti kain, tisu, plastik, dan minyak. Guna antisipasi, masyarakat diimbau untuk menyediakan karung goni basah atau APAR ringan di dapur.
“Kemudian dalam kebiasaan sehari-hari, kami mengimbau kepada masyarakat agar mematikan lilin dan obat nyamuk bakar sebelum tidur atau keluar rumah,” lanjut Andik seraya meminta agar puntung rokok dibuang di asbak dan dipastikan benar-benar padam total.
Ia juga meminta agar korek api agar dijauhkan dari jangkauan anak anak. Selain itu, masyarakat diimbau membersihkan untuk tumpukan sampah kering di sekitar rumah, terutama saat musim kemarau.
Andik memberikan langkah untuk menanggulangi jika terjadi kebakaran kecil yaitu jangan siram menggunakan air, melainkan menutupnya dengan penutup panci atau karung basah.
Jika api muncul dari listrik, matikan MCB atau listrik utama dulu, baru padamkan dengan APAR jenis CO2 atau tepung kimia, lalu segera menghubungi pos pemadam kebakaran terdekat.
“ingat, satu menit awal adalah waktu emas untuk memadamkan api. Lebih baik mencegah daripada menyesal,” tandas Andik.
Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mencatat total 107 kejadian bencana alam dan non-alam yang melanda wilayah setempat sepanjang semester pertama hingga pertengahan tahun ini, tepatnya sejak 1 Januari hingga 15 Juli 2026. Dari ratusan kasus tersebut, potensi ancaman bencana kebakaran kini menjadi salah satu perhatian serius otoritas penanggulangan bencana, khususnya menjelang puncak musim kemarau.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Batu, Suwoko, mengungkapkan bahwa meskipun secara akumulatif angka peristiwa kebakaran terbilang kecil dibandingkan dengan bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan cuaca ekstrem, dampaknya terhadap sektor ekonomi dan lingkungan tetap tidak boleh diremehkan.
Berdasarkan data terkini, terdapat tiga kasus kebakaran gedung dan bangunan (pemukiman) serta satu kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kota Batu. Dampak dari kebakaran struktural tersebut turut menyumbang kerusakan fasilitas ekonomi, di antaranya mencakup kerusakan rumah.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi kebakaran, baik yang menimpa kawasan pemukiman maupun area hutan dan lahan. Memasuki fase pergantian musim, kelalaian kecil seperti pembakaran sampah yang tidak diawasi atau jaringan instalasi listrik yang tidak standar bisa memicu dampak fatal,” kata Suwoko, Rabu (15/7). (rex/den/eri/van)