Category: Malang Posco Media

  • Gelar Seminar Nasional, AMSI Jatim Bahas Masa Depan Media dan Ekonomi Digital Indonesia

    MALANG POSCO MEDIA – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur bakal menggelar Seminar Nasional dan Rapat Kerja (Raker) AMSI Jawa Timur pada Rabu (29/7/2026) di Aula Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Agenda ini menjadi forum strategis bagi perusahaan media siber untuk merespons perubahan industri yang semakin dipengaruhi perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

    Mengangkat tema “AI, Media, Energi dan Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia: Membangun Ekosistem Digital Berkelanjutan di Tengah Ledakan Artificial Intelligence”, seminar akan mengupas tantangan sekaligus peluang yang dihadapi industri media dalam memasuki era transformasi digital.

    Sejumlah pembicara nasional dijadwalkan hadir, di antaranya Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika, Head of the Center for Environmental, Social, and Governance Studies (CESGS) Universitas Ciputra Prof. Ir. Iman Harymawan, SE., MBA., Ph.D., Owner Suara.com Suwarjono, serta anggota Badan Pertimbangan dan Pengawas Organisasi AMSI Nasional Wenslaus Manggut.

    Para narasumber akan membahas berbagai isu penting, mulai dari transformasi industri media berbasis AI, perkembangan ekonomi digital Indonesia, hubungan sektor energi dengan digitalisasi, hingga upaya membangun ekosistem digital yang berkelanjutan.

    Ketua AMSI Jawa Timur Yatimul Ainun menilai, perkembangan teknologi AI telah mengubah lanskap industri media secara signifikan. Karena itu, perusahaan media siber dituntut mampu beradaptasi tanpa mengabaikan kualitas jurnalisme dan kredibilitas informasi.

    “Artificial intelligence bukan lagi sekadar tren, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem media. Tantangannya adalah bagaimana media mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara bijak, tetap menjaga kredibilitas informasi, dan menemukan model bisnis yang berkelanjutan. Seminar ini kami hadirkan sebagai ruang diskusi untuk menjawab tantangan tersebut,” ujar Yatimul Ainun.

    Selain seminar nasional, AMSI Jawa Timur juga menggelar rapat kerja organisasi yang difokuskan pada evaluasi program, penyusunan agenda kerja mendatang, serta penguatan kolaborasi antaranggota dalam menghadapi dinamika industri media digital.

    Menurut Ainun, rapat kerja menjadi momentum penting untuk menyamakan arah gerak organisasi sekaligus meningkatkan kapasitas perusahaan media siber di Jawa Timur agar semakin adaptif terhadap perubahan teknologi.

    “Melalui rapat kerja ini kami ingin menyusun program yang semakin relevan dengan kebutuhan anggota. AMSI harus menjadi ruang kolaborasi, saling menguatkan, dan menghadirkan inovasi agar media siber tetap tumbuh sehat, profesional, dan mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.

    Sebelum seminar dan rapat kerja dimulai, peserta juga akan mengikuti pelatihan singkat mengenai strategi pemasaran afiliasi digital yang bekerja sama dengan Shopee. Materi tersebut menjadi bagian dari penguatan kapasitas anggota dalam mengenali peluang monetisasi bisnis media di era digital.

    Melalui rangkaian kegiatan ini, AMSI Jawa Timur berharap seluruh anggota dapat meningkatkan kompetensi, memperluas jejaring, sekaligus menyusun langkah-langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan industri media siber di tengah percepatan transformasi digital dan masifnya pemanfaatan teknologi AI. (*/bua)

  • Berawal dari Kompetisi  KIR, Tembus Sekolah di Hong Kong Lanjut Kuliah ke Amerika Serikat

    Mengukir Asa di Negeri Orang, Perjuangan Muhammad Alvin Ibnu Raffy Menembus Pintu Kampus Dunia

    MALANG POSCO MEDIA-Rambutnya gondrong bak seorang rocker. Gayanya santai, senyumannya ramah. Itulah Muhammad Alvin Ibnu Raffy. Dia mahasiswa asal Malang yang  berprestasi di luar negeri.

    Muhammad Alvin Ibnu Raffy, arek Malang kelahiran 4 Februari 2006 yang sudah melalui panjangnya perjuangan sejak duduk di bangku sekolah. Dia mampu membuktikan bahwa mimpi besar anak daerah bisa menembus batas geografis hingga mendarat di panggung global. Berasal dari keluarga yang sederhana, Gen-Z satu ini membuktikan bahwa kesuksesan berasal dari kegigihan dan semangat juang yang tinggi.

    Saat ini, Ibnu  sapaannya, tercatat sebagai mahasiswa Sarah Lawrence College di Amerika Serikat. Sebuah kampus yang cukup bergengsi yang menjadi buah dari ketekunan, segudang prestasi, serta sederet penolakan yang pernah ia telan mentah-mentah.

    Perjalanan Ibnu menuju bangku kuliah luar negeri tidak terjadi dalam semalam. Sejak belia, ia sudah menanamkan cita-cita tinggi untuk mengenyam pendidikan internasional demi mengharumkan nama Indonesia.

    Langkah awalnya dimulai dengan aktif mengikuti berbagai perlombaan yang sesuai dengan minatnya, seperti kompetisi penelitian bergengsi seperti Karya Ilmiah Remaja (KIR).

    “Awalnya saya dari dulu itu ikut lomba-lomba terlebih dahulu yang sesuai interest (ketertarikan) saya ya. Misalnya dulu itu sering ikut lomba penelitian seperti Karya Ilmiah Remaja. Jadi mungkin dari situ saya mulai terbiasa melakukan semacam riset dan sebagainya,” kata Ibnu  mengenang awal perjalanannya.

    Tekad kuat itu diiringi dengan aksi nyata. Sejak duduk di bangku kelas 10 di MAN 2 Malang, Ibnu langsung aktif memburu informasi dan mendaftarkan diri pada berbagai program beasiswa. Menurut Ibnu, dengan jalur sekolah gratis seperti inilah yang bisa memberinya peluang untuk belajar lebih luas lagi. Ia menyadari betul bahwa proses tersebut tidaklah instan dan membutuhkan mental yang tangguh.

    Ibnu pun mencoba melamar sejumlah beasiswa. Dari sekian banyak pintu yang diketuk, sebagian besar berujung pada penolakan. Namun, ia memandang setiap penolakan bukan sebagai kegagalan akhir, melainkan sebuah proses yang sarat makna.

    “Saya sebenarnya enggak terlalu banyak waktu. Mungkin ya ada 20 program beasiswa itu saya coba-coba.  Ditolak itu betul-betul berkesan buat saya, karena sebenarnya setelah penolakan itu selalu ada rezekinya,” sebut Ibnu.

    Setelah terus mencoba, atas kegigihan dan kerja keras itu, akhirnya berbuah manis ketika ia berhasil diterima di Li Po Chun United World College (LPCUWC) yang terletak di kawasan Wu Kai Sha, Hong Kong. Kepindahan sekolahnya dari MAN 2 Malang ke UWC ini pun menjadi titik balik besar dalam hidupnya, di mana ia harus meninggalkan zona nyaman di Malang dan hidup mandiri di luar negeri.

    Tantangan pertama yang ia hadapi adalah perbedaan sistem pendidikan yang sangat kontras dengan Indonesia. Sistem pendidikan di UWC yang sangat menekankan pada kemampuan riset, penulisan esai, dan berpikir kritis, alih-alih hafalan semata.

    “Saya kan belum pernah tinggal di luar Malang ya, mas. Jadi mungkin awalnya saya concern-nya lebih ke Bahasa Inggris, tapi karena di Hong Kong itu kan pakai bahasa Kanton, makanya awal itu saya sempat merasa takut,” kenang Ibnu.

    Kendati demikian, setelah berjalannya waktu, sistem pendidikan di sana  ternyata menuntutnya untuk beradaptasi dengan cepat. Tidak hanya soal akademik, dunia penelitian di lingkungan barunya juga memberikan kejutan tersendiri.

    Berbekal pengalaman masa lalunya mengikuti KIR di Indonesia, Ibnu ternyata merasa terbantu, meski ia tetap harus menyesuaikan diri dengan struktur dan pola pikir penulisan ilmiah internasional yang jauh lebih lugas dan langsung pada pokok pembahasan.

    “Penelitian di luar (luar negeri) itu langsung to the point. Apa metodenya, dan seterusnya,” beber Ibnu.

    Puncak perjalanan akademiknya di tingkat sekolah menengah diwarnai dengan sebuah karya tulis akhir atau skripsi yang mendalam. Ibnu memilih untuk membedah karya sastra besar, yakni buku karya Leila S. Chudori yang berjudul Laut Bercerita. Dalam penelitian tersebut, ia menganalisis bagaimana dampak otoritarianisme terhadap keluarga dan para korban utama atau protagonisnya.

    Lewat sudut pandang sastra, Ibnu ingin melihat bagaimana nilai-nilai kemanusiaan, cinta, dan ikatan keluarga diuji di tengah hantaman faktor eksternal seperti kondisi politik serta ekonomi yang represif.

    “Karena saya ingin melihat bagaimana manusia itu sendiri, nilai kemanusiaan itu bisa dilihat dari novelnya, dari bagaimana kita melihat keluarga, bagaimana kita sebagai manusia itu melihat keluarga, melihat cinta, melihat hal-hal yang membuat kita sebagai manusia itu. Menurut saya, itu sangat-sangat ‘deep’ (bermakna) sekali,” tutur Ibnu.

    Singkat cerita, setelah menyelesaikan babak pendidikannya di Hong Kong, semangat petualangan akademik Ibnu tidak lantas padam. Ia kembali melakukan perburuan kampus impian dan memfokuskan diri untuk mendaftar ke Amerika Serikat.

    Pilihan utamanya jatuh ke negeri Paman Sam karena negara tersebut memiliki jaringan kampus yang luas bekerja sama dengan sekolahnya. 

    Program beasiswa ini memungkinkan para alumni UWC yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi mitra di Amerika untuk mendapatkan pendanaan penuh (full funding), termasuk biaya akomodasi.

    “Ada namanya ‘Davis Scholarship’, jadi setiap alumni UWC itu kalau ke Amerika dan memilih dari sekolah-sekolah Davis, sekolah-sekolah yang berkaitan dengan Davis Scholarship ini, nanti bisa dapat full funding dari mereka,” jelasnya.

    Ibnu  pun akhirnya berkuliah di kampus Sarah Lawrence College, dengan jurusan perencanaan tata kota. Dengan kebiasaan masa kecilnya bermain SimCity hingga MineCraft, ternyata hal tersebut menjadi modal berharga baginya.

    Ia melihat bahwa perencanaan kota bukanlah sekadar ilmu menggambar bangunan, melainkan sebuah disiplin holistik yang merangkum berbagai sektor kehidupan manusia secara komprehensif. Tantangannya bukan pada mata kuliah, namun   perbedaan kultur.

    “Kalau di Amerika, culture shock-nya mungkin ya budaya tip. Dimana saja, belanja kopi, selain tax (pajak) itu selalu ada tip. Bahkan ada pilihannya tip itu berapa besar nominalnya,” sebut Ibnu dengan sedikit tertawa.

    Tidak hanya itu, ia juga membedakan corak masyarakat Hong Kong yang cenderung kolektif, dengan masyarakat Amerika yang lebih menjunjung tinggi individualisme. Perbedaan gaya bahasa, hingga cara orang Amerika memandang dan menganalisis sesuatu sempat menjadi warna tersendiri dalam proses adaptasinya selama sebulan pertama.

    Kendati demikian, bagi Ibnu, perbedaan tersebut bukanlah sebuah masalah, melainkan bagian dari dinamika memperkaya wawasan antarbangsa.

    Di tengah kesibukan akademisnya yang telah berjalan selama satu setengah tahun, Ibnu saat ini juga memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri dengan mengambil pekerjaan paruh waktu (part-time) sebagai penjaga lab komputer kampus. Keputusan ini didasari tekad kuat untuk mandiri secara finansial tanpa harus membebani orang tua demi uang jajan sehari-hari.

    “Nilai plusnya, ya saya bisa belajar software-software baru, seperti Adobe, tata ruang, dan lain-lain yang sangat berguna untuk menunjang kuliah,” ungkapnya.

    Menariknya, pekerjaan tersebut justru difasilitasi langsung oleh pihak kampus sebagai bentuk prioritas dukungan bagi mahasiswa internasional untuk bekerja di lingkungan kampus. Kuliah gratis, mendapatkan pengalaman kerja, bahkan dibayar di tempat yang sama, menjadikannya sebuah ‘kombo’ impian yang berhasil ia manfaatkan dengan baik.

    Ketika ditanya mengenai rencana jangka panjang setelah merampungkan studinya, pemuda yang memiliki hobi panjat tebing dan membaca buku ini mengaku masih ingin melanjutkan jenjang pendidikan magister (S2) di New York. Ia berkeinginan untuk tetap berkarier di kancah internasional guna mengasah keterampilan dan memperluas jejaring profesionalnya.

    Meski demikian, kecintaannya pada Tanah Air tidak lantas luntur. Ibnu  tetap memegang komitmen kuat untuk mendedikasikan ilmu dan keterampilannya bagi pembangunan kota-kota di Indonesia, khususnya kota kelahirannya, Malang.

    Walaupun langkah ke depan masih bersifat kondisional dan ia memilih untuk fokus menuntaskan kuliah S2-nya terlebih dahulu, semangat Ibnu membuktikan bahwa generasi muda Indonesia mampu menembus batas global tanpa melupakan akar identitas bangsa. Baginya, kunci utama dalam menggapai cita-cita adalah keberanian untuk melangkah dan menepis ketakutan akan kegagalan.

    “Terlalu takut untuk ditolak atau terlalu takut untuk dicoba. Padahal selalu ada jalan. Untuk setiap mimpi, itu selalu ada jalan, apapun se-impossible apapun dengan kehendak Tuhan dan kehendak sendiri pasti ada jalannya,” pesan Ibnu. (ian/van)

  • Dimulai dari Rasa Penasaran, Usaha Berawal di Halaman Rumah

    Fena Ria Kembangkan Ayam Kampung Unggul hingga Tembus Pasar Luar Pulau

    MALANG POSCO MEDIA – Fena Ria membuktikan keterbatasan lahan bukan penghalang untuk mengembangkan usaha peternakan modern. Fena, sapaan akrab Fena Ria ini terbilang gigih. Ia memulai dari  masa sulit,  saat pandemi Covid-19. Di balik deretan rumah Perumahan Villa Bukit Tidar Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, terdengar suara kokok ayam bersahut-sahutan. Siapa sangka, dari lahan seluas sekitar 5×12 meter itu, seorang perempuan muda berhasil membangun usaha peternakan ayam kampung unggul yang kini memasok kebutuhan pasar Malang Raya hingga luar Pulau Jawa.

    Dialah Fena Ria, atau yang akrab disapa Fena. Alumni Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (UB) asal Lampung itu membuktikan, bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk mengembangkan usaha peternakan modern.

    Usaha yang kini dikenal sebagai Fena Farm itu justru lahir dari masa sulit saat pandemi Covid-19. Berawal dari rasa penasaran mencari peluang usaha rumahan, Fena mulai belajar secara otodidak melalui media sosial, berbagai referensi digital, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

    “Awalnya hanya ingin mencoba sesuatu yang bisa dikerjakan dari rumah. Saya belajar sendiri pelan-pelan, mulai dari membaca, melihat media sosial, sampai mencari berbagai referensi,” katanya.

    Modal awalnya pun sangat sederhana. Ia hanya memelihara enam ekor ayam betina dan seekor ayam jantan di pekarangan rumah. Selama hampir satu tahun, Fena fokus mempelajari karakter ayam kampung sekaligus teknik pemeliharaan sebelum akhirnya mengembangkan populasi ternaknya.

    Kini, kandangnya dihuni sekitar 140 ekor ayam kampung unggul yang didominasi varietas Kampung Unggul Balitbangtan (KUB), disandingkan dengan ayam Pancamurti.

    Menurutnya, ayam KUB memiliki banyak keunggulan dibanding ayam kampung biasa. Selain dapat dimanfaatkan sebagai ayam petelur sekaligus pedaging, produktivitas telurnya jauh lebih tinggi.

    “Dalam setahun satu ekor ayam KUB bisa menghasilkan sekitar 160 sampai 180 butir telur. Kalau ayam kampung biasa rata-rata hanya sekitar 80 sampai 100 butir,” jelas perempuan kelahiran 1996 itu.

    Dengan tingkat produksi harian mencapai sekitar 70 persen, dari 100 ayam produktif mampu dihasilkan sekitar 60 hingga 70 butir telur setiap hari.

    Menariknya, produktivitas tersebut tidak dicapai melalui sistem kandang intensif. Fena justru membiarkan ayam-ayamnya tetap bergerak bebas sehingga naluri alaminya tetap terjaga.

    “Kalau ayam tidak stres, produksi telurnya lebih stabil. Mereka tetap bisa mengais tanah, bermain, dan bergerak bebas sehingga sifat alaminya tidak hilang,” katanya.

    Selain itu, kandang miliknya yang dibuat di atas tanah langsung juga tak menghasilkan aroma tak sedap. Bermodalkan sekam padi, dan ketekutan membersihkan setiap hari,  peternakan miliknya tetap higienis dan produktif.

    “Ini bisa tidak bau, karena pola pembibitan sederhana, hanya ditambah sekam dan rutin dibersihkan. Ayam lebih sehat dan kandang juga tidak bau,” terangnya.

    Di tengah tingginya minat masyarakat terhadap telur ayam kampung, Fena mengakui masih ada tantangan besar yang harus dihadapi. Yakni persoalan kepercayaan konsumen.

    Menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang ragu terhadap keaslian telur ayam kampung yang beredar di pasaran. Karena itu, ia memilih melakukan edukasi secara langsung kepada pembeli.

    “Saya biasanya langsung membuka telurnya di depan pembeli supaya mereka bisa melihat sendiri kualitasnya. Dari rasa juga lebih gurih dan kandungan nutrisinya lebih tinggi,” ungkapnya.

    Harga telur ayam kampung di Fena Farm dipasarkan sekitar Rp 2.500 per butir. Meski lebih tinggi dibanding telur ayam ras, permintaannya relatif stabil karena memiliki segmen pasar tersendiri. Terutama masyarakat yang mengonsumsinya untuk menjaga kesehatan maupun sebagai bahan campuran jamu tradisional.

    Tak hanya menjual telur konsumsi, Fena juga mengembangkan lini pembibitan berupa telur fertil siap tetas serta DOC (day old chick) atau anak ayam umur satu hingga dua hari.

    Jika telur konsumsi dan daging masih didominasi pasar Malang Raya, pembibitan justru telah menjangkau berbagai daerah di luar Pulau Jawa, seperti Sumatera hingga Sulawesi.

    “Permintaan bibit terus bertambah karena banyak peternak yang ingin mengembangkan ayam KUB di daerahnya masing-masing,” tuturnya.

    Melihat tingginya potensi tersebut, Fena berharap semakin banyak masyarakat mulai melirik budidaya ayam kampung unggul sebagai peluang usaha. Baginya, usaha peternakan bukan hanya soal menghasilkan telur atau daging, tetapi juga membangun kepercayaan melalui kualitas dan edukasi kepada konsumen.

    “Dengan lahan terbatas pun sebenarnya tetap bisa berkembang. Yang terpenting konsisten belajar, menjaga kualitas, dan berani mengedukasi pasar,” tandasnya. (rex/van)

  • Hari Pertama Uji Coba Jalan Tembus Griya Shanta Langsung Dilawan, Alasannya Proses Hukum Belum Tuntas

    MALANG POSCO MEDIA-Hari pertama uji coba  Jalan Terusan Griya Shanta Kota Malang sebagai jalan tembus langsung didemo, Senin (27/7) kemarin. Itu dilakukan  warga setempat, RW 12 Perum Griyashanta.

    Mereka  membentangkan poster penolakan uji coba jalan tembus dan menyanyikan yel-yel.

    Tidak hanya itu, warga juga melakukan blokade di gerbang utama dengan memasang pagar bambu dan menempatkan sejumlah mobil di tengah jalan tersebut. Ketua RW 12 Perum Griyashanta Jusuf Thojib menjelaskan, aksi penolakan ini dilakukan karena masih ada upaya atau proses hukum yang sedang berjalan.

    “Ada gugatan class action yang masih proses kasasi di Mahkamah Agung RI, ada gugatan Amdal yang masih proses banding di Pengadilan Tinggi Surabaya, dan ada PTUN yang sedang kami proses. Kelihatannya pihak Pemkot Malang memaksakan kehendak untuk itu, sehingga tampak melanggar hukum,” terang Jusuf.

    Saat aksi tersebut, petugas mencoba untuk bernegosiasi dengan warga supaya blokade dibuka. Di tengah proses negosiasi dan dialog yang cukup panas, terjadi  saling dorong antara warga setempat dengan warga luar perumahan atau orang tidak dikenal.

    Bahkan, diduga terjadi pemitingan oleh orang tidak dikenal yang membuat suasana makin tegang.

    “Semua orang bisa emosi dalam situasi seperti ini. Semua orang tidak ada identitasnya, bisa ngawur dan sebagainya, itu di luar prediksi kami. Kami berusaha memakai baju merah putih dengan inisial seperti ini, sebagai tanda itu warga kami. Kalau ada yang berbaju beda, itu bukan termasuk,” beber Jusuf.

    Jusuf menegaskan, warga bersikukuh untuk tetap melakukan buka tutup akses utama seperti sebelumnya.

    Yakni hanya dibuka pada jam masuk dan pulang sekolah, selebihnya ditutup total. Akses masuk ke Perum Griya Shanta, tetap dibuka melalui akses samping di gerbang Masjid Ramadhan.

    “Kami menyambut tamu yang datang dengan baik, itikad baik, jangan sampai terprovokasi anarkisme dan kami punya hak untuk membela diri,” tegasnya.

    Jusuf menyoroti sikap Pemkot Malang yang selalu tidak merespon atau membalas surat yang dilayangkan oleh warga. Sementara pihaknya selalu menjawab dan membalas tiap kali ada surat dari Pemkot Malang. Artinya, Pemkot Malang dinilainya tidak mengindahkan proses hukum yang sedang berjalan, sesuai dengan surat jawaban yang telah dilayangkan.

    Sebaliknya ia tetap bersedia untuk dialog, namun pihaknya meminta agar Wali Kota Malang Wahyu Hidayat turun langsung menemui warga.

    “Kami tidak pindah. Kami tetap di sini. Wali Kota itu yang ganti-ganti. Pejabat kami yang bayar, rakyat yang bayar melalui pajak. Tetapi mereka tidak melayani kami sebagaimana mestinya. Yang tanda tangan surat itu atas perintah Sekda. Wali Kota mana? Diam saja. Datang ke sini, gentle. Jangan hanya minta suara saja,” tantang Jusuf.

    Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Widjaja Saleh Putra menyampaikan, aksi blokade itu jelas melanggar peraturan karena status jalan di akses utama itu merupakan jalan umum. Atas aksi tersebut, tentu ada konsekuensi hukumnya.

    “Sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dilarang melakukan penutupan jalan yang menghambat dan mengganggu lalu lintas. Itu pun, kalau dilakukan harus ada izin kepada pihak yang berwenang. Jadi ada konsekuensinya, tapi mungkin beliau tidak paham,” ujar Jaya, sapaannya.

    Jaya menyebut, uji coba Jalan Terusan Griya Shanta tetap dilakukan meski belum bisa tembus hingga Jalan Soekarno Hatta. Ia menyebut keduanya itu merupakan hal berbeda. Uji coba jalan baru tetap dilakukan, sementara untuk penutupan atau blokade jalan adalah persoalan lain. Sesuai rencana, uji coba akan berlangsung selama 10 hari.

    “Jadi ini adalah uji coba fungsional jalan terusan Griya Shanta. Ini objek yang sudah dibuka, tidak ada permasalahan.

    Tetapi ada timbul masalah baru, yakni warga RW 12 yang dipimpin oleh ketua RW, itu melakukan penutupan jalan yang merupakan akses umum,” tandasnya.

    Untuk langkah berikutnya, Jaya masih menunggu dan melihat situasi kondisi yang ada. Pihaknya tetap mengedepankan upaya persuasif dan memberikan pemahaman kepada warga secara baik. (ian/van)

  • Milad ke-2 Majelis Al-Rawdah Berlangsung Khidmat di Hillda + Hana Social Palace

    MALANGPOSCOMEDIA, MALANG – Milad ke-2 Majelis Al-Rawdah berlangsung khidmat di Hillda + Hana Social Palace di Jalan Tondano Raya Sawojajar Kota Malang, Minggu (26/7).

    H. Arie Aripin Ketua Jamaah Al-Rawdah (kanan) bersama H. Ir. Musthofa, M.M (Direktur Keuangan dan Administrasi Agung Wisata Tour & Travel) dan H. Hamzah Yusuf, SH (Direktur Operasional dan SDM Agung Wisata Tour & Travel) mengikuti rangkaian acara milad.

    Kegiatan diawali pembacaan Al Quran dilanjutkan tausiyah dibawakan oleh K.H. Dr. Muhammad Yahya, Ph. D. dan Ustadz H. Mansur.

    K.H. Dr. Muhammad Yahya, Ph.D. menekankan tentang kewajiban untuk selalu istiqomah dalam beribadah. Serta selalu membangun jalinan persaudaraan dan silaturahmi.

    Ia menambahkan, Istiqomah dapat menjadi tiga bentuk utama yang harus selalu dijalankan bersamaan. Yaitu Istiqomah dengan lisan, dengan batin dan dengan jiwa atau perbuatan. Yaitu ketaatan penuh dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya secara terus menerus tanpa putus.

    Acara kemudian dilanjutkan ramah tamah dalam suasana penuh keakraban dan persaudaraan. Ibu-ibu juga merasa gembira karena mendapat pelatihan membuat bakery dan pastry.

    Ibu-ibu gembira mendapat pelatihan membuat bakery dan pastry.

    Hillda Naura A. Aripin selaku CEO Hillda + Hana Social Palace kepada Malang Posco Media menjelaskan pihaknya sudah beberapa kali menggelar pelatihan membuat bakery dan pastry seperti ini.

    “Tidak saja untuk ibu-ibu, tetapi juga untuk kaum muda. Kami ingin tempat ini dapat terus memberikan banyak manfaat bahkan nilai tambah secara ekonomis kepada semua lapisan masyarakat,” tegas Hillda, sapaan akrabnya.

    Hillda Naura A. Aripin (CEO Hillda + Hana Social Palace) disela-sela milad.

    Gadis berkacamata ini menambahkan tamu dari Riau dan Jakarta beberapa hari lalu juga telah mendapatkan pelatihan mengenai mengolah berbagai usaha. Seperti membuat bakery dan pastry, memproses dan menyeduh kopi, berkebun di pagar rumah dengan cara hidroponik dan lain-lain.

    “Kami sangat senang karena mereka selalu antusias mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang kami lakukan,” pungkasnya. (nug)

  • Komunitas MATA; Saling Menguatkan Lewat Tarot

    MALANG POSCO MEDIA – Lutfi Firmansyah, 34 tahun mengambil peran unik sebagai pembaca kartu tarot (tarot reader). Ia biasanya menjadikan kedai kopi di sejumlah sudut Malang menjadi ruang dialog personal yang mendalam.

    Selain itu, alumnus salah satu universitas negeri ternama di Malang jurusan Teknologi Pertanian itu juga kerap mengikuti event sebagai reader tarot.

    Bagi pria kelahiran Madura itu, tarot sama sekali tidak berurusan dengan dunia mistis atau ramalan nasib mutlak.

    Bersama komunitas Malang Tarot (MATA) yang dibentuknya sejak 2012 lalu, Lutfi menempatkan 78 lembar kartu tarot sebagai media interaktif untuk membedah persoalan hidup secara psikologis.

    “Kita tidak diajari untuk berpikir secara mistik, tapi secara psikologi,” ujar Lutfi saat ditemui, Kamis (23/7) kemarin.

    Berbagai pihak telah mengundang komunitas Malang Tarot seperti Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang hingga mengisi event.

    Menurut Lutfi, proses membaca tarot sejatinya adalah proses mendengarkan dan menguatkan sesama manusia. Pengalaman mendampingi klien kerap menghadirkan dinamika menarik.

    Lutfi bercerita, tak sedikit warga Malang yang sejatinya menyimpan rasa penasaran tinggi terhadap tarot, tetapi kerap sungkan atau ragu untuk melangkah.

    Banyak calon klien yang sengaja mendorong rekannya terlebih dahulu untuk duduk di kursi dengan suasana mencair di kedai kopi.

    “Cara pembacaan tarot ini santai dan seru, Jadi kayak teman curhat, diskusi, benalar, dan berbagi,” tutur Lutfi.

    Rentang usia mereka yang datang berkonsultasi cukup beragam. Mulai dari mahasiswa awal hingga masyarakat umum hingga para pekerja ataupun pengusaha. Komposisi gender klien berada di angka sekitar 60 persen perempuan dan 40 persen laki-laki.

    Dalam praktiknya, pembacaan tarot kerap kali menyentuh akar persoalan hingga ketepatannya dirasakan mendekati 98 persen oleh para peminatnya. Selain berkomunikasi, para tarot reader kini juga berkembang secara individu.

    Bagi Lutfi, mengurai benang kusut pikiran klien bukan berarti menggantikan keputusan hidup mereka. Sering kali klien sebenarnya sudah memiliki gambaran solusi sendiri, namun membutuhkan penegasan.

    “Ketika dijabarkan dan ditambahi lebih dalam, mereka jadi lebih yakin dan merasa lega. Kami cuma menguatkan,” tambahnya.

    Tak hanya membuka sesi pembacaan personal atau mengisi acara pop-up di berbagai tempat, Lutfi bersama komunitasnya yang beranggotakan sekitar 10 orang aktif menyebarkan edukasi kesadaran literasi ke sekolah-sekolah menengah.

    Namun menjadi seorang tarot reader haruslah memiliki kompetensi. Karena itu, anggota komunitas Malang Tarot yang didirikan Lutfi rata-rata alumnus jurusan Psikologi.

    Ke depan, mereka merancang berbagai kegiatan mulai dari penyerapan “pesan semesta” hingga meditasi self-healing untuk mengajak masyarakat berdamai dengan keadaan diri sendiri.

    Lutfi menambahkan, yang ingin belajar pembacaan tarot  atau mengikuti sesi media konseling, dapat menghubungi media sosial komunitas Malang Tarot dengan memperkenalkan diri dan motivasi mengikuti.

    “Gathering kami rutin. Bagi teman-teman yang ingin belajar pembacaan tarot, bisa berkolaborasi. Kita belajar bareng di satu tempat yang sama, di naungan yang sama,” tandas Lutfi. (den/van)

  • Komunitas MATA; Setiap Kartu Simbol Realita Kehidupan

    MALANG POSCO MEDIA –  Di tengah hiruk pikuk anak muda di Malang, seni membaca kartu tarot perlahan menemukan ruang tersendiri. Bukan lagi dipandang semata sebagai hal mistis atau ramalan nasib.

    Bagi Imroatul M. yang lebih akrab disapa Elma, tarot justru menjadi media konseling dialog psikologis dan sarana bercerita yang hangat.

    Di balik ketegasan dan wibawanya mengelola lembaga pendidikan sebagai kepada sekolah, Elma menyimpan sisi kehidupan lain yang penuh empati.

    Perempuan lulusan Sastra Inggris itu menyelami dunia pembacaan tarot dari panggilan hati. Sebagai seorang pendidik, Elma memandang kartu tarot sebagai cermin simbolis dari perjalanan hidup manusia.

    Ia menjelaskan bahwa struktur kartu tarot yang berjumlah tepat 78 lembar telah memiliki pakem tersendiri secara universal.

    “78 lembar kartu memang sudah pakemnya. Sebanyak 22 kartu mayor menggambarkan siklus kehidupan manusia, seperti fase kehidupan, pengadilan, hingga fase akhir. Selebihnya adalah kartu minor yang terdiri dari swords, wands, cups, dan pentacles. Semuanya merujuk pada realitas kehidupan manusia sehari-hari,” papar Elma, Kamis (23/7) kemarin.

    Keterlibatannya dalam dunia konseling tarot berakar dari pengalaman emosional saat mendampingi orang lain. Elma mengenang salah satu momen paling berkesan ketika ia mendampingi seorang klien yang berada di titik terendah dalam hidupnya. Selama hampir lima hingga delapan tahun, Elma secara telaten menemani proses pemulihan jiwa klien tersebut hingga mampu bangkit berdiri tegak kembali.

    “Dari situ saya merasa ada kepuasan tersendiri. Ketika kita melihat klien bisa keluar dari zona kesedihannya dan menjadi pribadi yang lebih baik, itu jadi motivasi saya untuk terus berkarya di sini. Ini semacam panggilan hati,” ungkapnya penuh haru.

    Pengalaman berharga tersebut membawa Elma aktif dalam gerakan edukasi literasi tarot. Melalui komunitas Malang Tarot yang ia selami bersama suami, Lutfi Firmansyah dan rekan-rekannya, Elma ingin mengikis stigma negatif yang melekat pada tarot.

    Saat masuk ke lingkungan sekolah menengah, ia giat membagikan sudut pandang bahwa tarot dapat dimanfaatkan sebagai media introspeksi dan edukasi psikologis, bukan ramalan gaib.

    Bagi Elma, selain rutin menggelar sesi membaca tarot secara online maupun kegiatan pop-up di berbagai lokasi, tujuan utamanya tetap sama yaitu menyediakan wadah berdialog yang aman.

    Di balik lembaran kartu yang terkocok, ada ruang untuk mendengarkan, berdamai dengan keadaan, dan menemukan kembali keyakinan diri.

    “Di tarot itu memang lebih banyak menggambarkan kehidupan manusia sehari-hari, ” tutup Elma. (den/van)

  • Awas Kebakaran! Penentu di Menit Pertama

    MALANG POSCO MEDIA- Musim kemarau rawan kebakaran. Warga diimbau tingkatkan kewaspadaan dini. Segera bertindak agar tak berakibat fatal. Salah satu contohnya seperti kerawanan  karena korsleting listrik yang kerap terjadi.

    Berkaca di sepanjang tahun 2025 lalu, kasus kebakaran di Kota Malang tercatat mencapai 118 kejadian yang tersebar di lima kecamatan.

    Dari jumlah tersebut, penyebab paling dominan berasal dari korsleting listrik. Bahkan menyumbang setengah dari total kasus kebakaran pada tahun lalu.

    Pasalnya, kejadian korsleting listrik ini, juga kerap mengintai saat musim kemarau, yang kerap menyebabkan sambungan listrik terkelupas dan berujung pada korsleting hingga musibah kebakaran.

    Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang Pandu Rizki Darmawan menjelaskan, dari jumlah kejadian sepanjang 2025, Kecamatan Lowokwaru menjadi wilayah dengan angka kejadian tertinggi. Tercatat, selama 12 bulan, sebanyak 30 kasus atau 25,4 persen dari keseluruhan kejadian terjadi di kawasan kecamatan yang berada di sisi Barat Kota Malang, tersebut.

    “Kemudian disusul Kecamatan Kedungkandang sebanyak 26 kasus dengan persentase 22 persen, Kecamatan Sukun 24 kasus atau 20,3 persen, serta Kecamatan Klojen dan Blimbing masing-masing 19 kasus atau 16,1 persen,” jelasnya beberapa waktu lalu.

    Jika dilihat dari objek kebakaran, Pandu menjabarkan, mayoritas musibah ini terjadi di kawasan permukiman atau rumah warga dengan 45 kasus atau 38,1 persen. Selain itu, kebakaran juga kerap terjadi pada instalasi listrik seperti gardu PLN sebanyak 19 kasus.

    “Selain itu, kami juga menangani beberapa kasus seperti di kawasan pertokoan atau ruko dengan jumlah 12 kasus maupun kejadian kebakaran lahan  di kawasan terbuka atau lahan kosong, yang mencapai 15 kasus,” sebutnya.

    Sementara beberapa kejadian lain, menimpa restoran maupun kendaraan. Dari sisi penyebab, korsleting listrik menjadi faktor utama dengan 59 kejadian atau 50 persen.

    Selain itu, kebocoran saluran LPG menyumbang 16 kasus, disusul kelalaian atau kecerobohan manusia sebanyak 15 kasus. Bentuk kelalaian ini antara lain membakar sampah atau obat nyamuk yang kemudian ditinggalkan hingga memicu api.

    “Kami juga mendapati kasus kebakaran yang disebabkan unsur kesengajaan, dengan total kejadian mencapai lima kasus,” imbuh Pandu.

    Kasus kebakaran, juga bisa disebabkan perambatan api atau panas, dengan jumlah kejadian di 2025 mencapai lima kasus. Perambatan ini umumnya terjadi akibat gesekan ranting kering dengan instalasi listrik, terutama saat musim kemarau.

    “Kami mengingatkan, terkait potensi kebakaran saat musim kemarau cenderung meningkat, terutama akibat kelalaian dan perambatan api. Hal ini bisa disebabkan karena kondisi cuaca kering dan suhu tinggi, sehingga mempercepat penyebaran api, khususnya jika terdapat material mudah terbakar di sekitar lokasi,” terangnya.

    Pandu juga mengingatkan agar lebih waspada, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, seperti membakar sampah. Selain itu, pemangkasan ranting pohon yang dekat dengan jaringan listrik juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya kebakaran.

    “Kesadaran dan kehati-hatian masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah kebakaran, terutama saat memasuki musim kemarau,” tegasnya.   

    Sementara itu faktor kelalaian masih menjadi momok terjadinya kebakaran di wilayah Kabupaten Malang. Berdasarkan laporan kejadian yang diterima Malang Posco Media selama 10 hari terakhir, terhitung ada enam insiden kebakaran.

    Dari jumlah tersebut, tiga penyebab kebakaran diindikasikan karena adanya aktivitas bermain korek api, aktivitas pembakaran, dan tidak menyadari gas bocor. Penyebab kebakaran lainnya diduga dipicu adanya korsleting listrik kabel.

    Salah satu kebakaran rumah disebabkan karena kelalaian sempat terjadi di Dusun Binangun, Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Rabu (8/7) pagi lalu. Penyebabnya  karena adanya aktivitas anak bermain korek api.

    Komandan Pleton Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (PPK) Satpol PP Kabupaten Malang, Andik Minarko, mengungkapkan bahwa indikasi sumber api dari adanya kelalaian.

    “Pemilik rumah ke Dispenduk untuk mengurus KK. Sang anak tidak mau diajak karena ingin di rumah menemani neneknya. Di dalam kamar mungkin bermain korek api sehingga membakar selimut dan menjalar ke ruangan rumah,” beber Andik.

    Melihat kobaran api semakin membesar,  sang anak yang diketahui berusia enam tahun dan neneknya berhasil menyelamatkan diri ke luar rumah. Warga sekitar kemudian menghubungi Damkar Kabupaten Malang untuk meminta bantuan pemadaman api. Kerugian materil dalam peristiwa ini ditaksir mencapai Rp 30 juta.

    Dalam periode 4 Juli – 13 Juli 2026 ini, masih adanya peristiwa kebakaran terjadi dua kali dalam satu hari. Dan, adapula berturut-turut dalam dua hari di tempat yang berbeda. Beruntung tidak ada korban jiwa.

    Objek kebakaran di Kabupaten Malang beragam. Mulai dari rumah, gudang mebel, warung kopi dan bengkel las, lahan seluas satu hektare, hingga yang terbaru kebakaran TPS dekat Pasar Sayur Turen, Senin (13/7).

    “Kebakaran paling sering terjadi karena kelalaian kecil,” beber Andik.

    Ia mengimbau kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran dengan melakukakan beberapa langkah; mencabut colokan jika tidak dipakai, terutama setrika, mejikom, kipas angin, dan charger HP.

    “Jangan colokan bertumpuk di satu stop kontak, bisa panas dan korslet. Cek kabel; ganti kalau sudah terkelupas, getas, atau digigit tikus. Pakai peralatan SNI dan hindari listrik ilegal,” urai Andik.

    Terkait aktivitas di dapur, petugas pemadam mengingatkan kepada masyarakat agar tidak meninggalkan kompor menyala saat memasak. Bila harus pergi, kompor dipastikan benar-benar mati terlebih dahulu.

    Selain itu, agar mengecek selang dan regulator gas secara rutin. Diimbau untuk mengganti selang minimal dua tahun sekali.

    Andik juga mengimbau agar kompor dijauhkan dari hal yang mudah terbakar seperti kain, tisu, plastik, dan minyak. Guna antisipasi, masyarakat diimbau untuk menyediakan karung goni basah atau APAR ringan di dapur.

    “Kemudian dalam kebiasaan sehari-hari, kami mengimbau kepada masyarakat agar mematikan lilin dan obat nyamuk bakar sebelum tidur atau keluar rumah,” lanjut Andik seraya meminta agar puntung rokok dibuang di asbak dan dipastikan benar-benar padam total.

    Ia juga meminta agar korek api agar dijauhkan dari jangkauan anak anak. Selain itu, masyarakat diimbau membersihkan untuk  tumpukan sampah kering di sekitar rumah, terutama saat musim kemarau.

    Andik memberikan langkah untuk menanggulangi jika terjadi kebakaran kecil yaitu jangan siram menggunakan air, melainkan menutupnya dengan penutup panci atau karung basah.

    Jika api muncul dari listrik, matikan MCB atau listrik utama dulu, baru padamkan dengan APAR jenis CO2 atau tepung kimia, lalu segera menghubungi pos pemadam kebakaran terdekat.

    “ingat, satu menit awal adalah waktu emas untuk memadamkan api. Lebih baik mencegah daripada menyesal,” tandas Andik. 

    Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mencatat total 107 kejadian bencana alam dan non-alam yang melanda wilayah setempat sepanjang semester pertama hingga pertengahan tahun ini, tepatnya sejak 1 Januari hingga 15 Juli 2026. Dari ratusan kasus tersebut, potensi ancaman bencana kebakaran kini menjadi salah satu perhatian serius otoritas penanggulangan bencana, khususnya menjelang puncak musim kemarau.

    Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Batu, Suwoko, mengungkapkan bahwa meskipun secara akumulatif angka peristiwa kebakaran terbilang kecil dibandingkan dengan bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan cuaca ekstrem, dampaknya terhadap sektor ekonomi dan lingkungan tetap tidak boleh diremehkan.

    Berdasarkan data terkini, terdapat tiga kasus kebakaran gedung dan bangunan (pemukiman) serta satu kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kota Batu. Dampak dari kebakaran struktural tersebut turut menyumbang kerusakan fasilitas ekonomi, di antaranya mencakup kerusakan rumah.

    “Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi kebakaran, baik yang menimpa kawasan pemukiman maupun area hutan dan lahan. Memasuki fase pergantian musim, kelalaian kecil seperti pembakaran sampah yang tidak diawasi atau jaringan instalasi listrik yang tidak standar bisa memicu dampak fatal,” kata  Suwoko, Rabu (15/7). (rex/den/eri/van)

  • Cerita Liburan ke Tiongkok dan Thailand (2-Habis); Wisata Mal hingga The Ancient City dan Wat Arum

    Malang Posco Media-Setelah empat hari menikmati keindahan Kota Guangzhou di Tiongkok, wartawan Malang Posco Media Jon Soeparijono bersama keluarga menuju ke Kota Bangkok, Thailand, Senin (6/7). Pukul 00.10 kami terbang dari Bandara Baiyun menuju Bandar Udara Internasional Don Mueang dengan mengunakan maskapai penerbangan Air Asia.

    Perjalanan ditempuh sekitar dua  jam lebih dan mendarat sekitar pukul 02.30 waktu setempat. Tujuan utama kami langsung menuju Hotel Siam Best Inn di  37 Soi Somprasong 3, Thanon Phayathai, Pratunam, Ratchathewi, Bangkok. Namun karena masih pagi, bus yang menuju ke Pratunam baru ada sekitar pukul 06.20 dan kami memilih istirahat di bandara.

    Dari bandara ke hotel dengan menggunakan bus. Selama perjalanan, kemacetan mulai terasa karena padatnya kendaraan di Ibu Kota Thailand itu. Apalagi di jalan poros di Bangkok sedang ada pembangunan besar-besaran di tengah jalan. Selama dua hari pertama, tujuan wisata dari mal ke mal.

    Di Kota Bangkok, sudah banyak ditemui resto atau rumah makan halal. Bahkan di mal-mal ada foodcourt khusus halal. Seperti di Platinum Fashion Mall terdapat Sawasdee Foodie Hun yang merupakan area food court halal berada di Zone 3, lantai 5. Di tempat ini ada beragam menu seperti phad tai, tom yum dengan harga terjangkau. Di tempat ini, banyak warga Indonesia maupun dari Timur Tengah yang makan sambil menghabiskan waktu untuk istirahat usai jalan-jalan.

    Begitu juga di Platinum Night Market, PHENIX Pratunam lantai 2, Pratunam Night Market serta PKL-PKL juga sudah banyak yang berjualan dengan tulisan halal. Termasuk di warung Muslim Food di Pasar Pratunam. Selain itu kami juga ke MBK Mall Center explore anime merchandise Assassination Classroom Pop-Up Store JAM SPACE, MBK CENTER FL. 4 Zone A.

    Sedangkan tempat wisata yang kami kunjungi selama empat hari di Bangkok hanya dua yakni The Ancient City atau Muang Boran dan Wat Arum.  Tidak banyak tempat wisata yang kami kunjungi karena sepuluh tahun lalu, kami sudah ke berbagai wisata baik di Bangkok maupun luar kota.

    The Ancient City yang kami kunjungi pertama merupakan museum terbuka dan terbesar di dunia yang berlokasi di Samut Prakan. Lokasi ini berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Bangkok. Tiket masuk standar untuk wisatawan sekitar 700 Baht.

    Di lahan seluas sekitar 200 hektare terdapat lebih dari 100 replika dan rekonstruksi dari situs bersejarah Thailand.  Karena areanya sangat luas, pengunjung di antar menggunakan kereta mirip odong-odong atau menyewa sepeda.

    Sebelum balik ke tanah air, kami terlebih dahulu mengunjungi Wat Arun, disebut juga sebagai Kuil Fajar di 158 Thanon Wang Doem, Wat Arun, Bangkok Yai, Bangkok. Tempat ini merupakan  salah satu landmark paling ikonik di Thailand dan wajib dikunjungi para wisatawan. Lokasinya terletak di tepi barat Sungai Chao Phraya.

    Tampat ini memiliki daya tarik karena ada menara setinggi 80 meter yang dihiasi ribuan pecahan porselen Tiongkok yang memukau.  Kami menuju ke Wat Arum naik taksi.

    Hampir semua pengunjung yang baru turun dari taksi, sudah banyak orang yang menawarkan jasa sewa pakaian tradisional Thailand serta foto.  Pengunjung bisa menyewa fotografer di lokasi dengan biaya mulai sekitar 500 THB atau sekitar Rp250.000 untuk sesi singkat, atau memesan paket lengkap berupa baju, makeup, dan fotografer dengan harga mulai dari 700 – 2000 THB  atau sekitar Rp330.000 – Rp950.000,  tergantung durasi waktunya.

    Setiap pengunjung yang telah membeli tiket mendapatkan satu botol minum kemasan.

    Usai berfoto ria dan naik ke Wat Arum, kami membeli oleh-oleh kaus yang harganya lebih murah daripada di pusat Kota Bangkok. Jika di rupiahkan sekitar Rp 50 ribuan.

    Usai belanja oleh-oleh, tiba saatnya kembali ke tanah air. Harusnya kami tiba di Juanda Surabaya, Kamis (9/7) malam. Namun karena delay cukup lama, akhirnya baru tiba di rumah Jumat, (10/7) sekitar pukul 07.00 WIB.(jon)

  • Specta Flora Festival 2026 di Baloga Perkuat Ekosistem Florikultura Kota Batu

    MALANG POSCO MEDIA- Panggung kreativitas di Batu Love Garden (Baloga) penuh warna Minggu (5/7) siang hingga sore kemarin. Gelaran Lomba Fashion Baloga dan Costume Carnival sukses memukau pengunjung yang memadati theme park edukasi flora tersebut.

    Dengan menampilkan busana-busana megah bernuansa flora hasil kreativitas para peserta, dua agenda estetik ini resmi menjadi gong penutup yang manis bagi seluruh rangkaian Specta Flora Festival (SFF) 2026 yang telah berlangsung sejak Kamis (2/7) lalu.

    Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, festival bunga bergengsi ini hadir dengan skala yang jauh lebih besar dan semarak. Tidak tanggung-tanggung, pihak panitia menggandeng 10 kolaborator dari lintas sektor serta melibatkan 41 pelaku UMKM yang ikut memeriahkan stan pameran.

    Ketua Pelaksana SFF 2026, Dwi Lili Indayani, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar panggung hiburan semata. SFF dirancang sebagai ruang promosi strategis sekaligus upaya memperkuat ekosistem florikultura di Kota Batu. Target utamanya menyokong sektor pertanian bunga lokal agar penyerapan produksi bunga potong karya petani bisa bergerak lebih optimal.

    “Specta Flora Festival menjadi salah satu upaya nyata untuk mendukung pertanian bunga di Kota Batu. Harapannya, keterserapan bunga potong dari petani kita semakin baik dan produk mereka makin dikenal luas oleh masyarakat,” ujar Dwi Lili kepada Malang Posco Media.

    Ditambahkan Direktur Batu Love Garden, Isha Mey bahwa SFF 2026 ini menyimpan misi taktis bagi roda perekonomian lokal. Pihak penyelenggara sengaja menggelar acara ini untuk merangsang pasar florikultura Kota Batu yang biasanya lesu pada periode bulan Suro.

    Selama ini, bulan Suro kerap diidentikkan dengan masa low season atau penurunan permintaan bunga dari masyarakat. Kehadiran festival dengan tema “Mekar Bersama Tumbuhkan Kreativitas” ini diharapkan mampu membalikkan keadaan dan menjaga stabilitas ekonomi para petani.

    “Melalui festival ini, kami berharap masyarakat tidak hanya menikmati keindahan flora, tetapi juga semakin mengenal potensi florikultura lokal serta berbagai karya kreatif yang lahir dari komunitas dan pelaku usaha di Kota Batu,” ungkap Isha.

    Sepanjang empat hari berturut-turut, Baloga menyuguhkan sekitar 20 rangkaian kegiatan menarik yang dibagi ke dalam beberapa kategori. Selain menghadirkan Flora Expo yang menampilkan aneka tanaman hias langka, ada pula ruang edukasi seperti Floral Photography Workshop, Biodiversity Kids Trail, serta berbagai sesi talkshow lingkungan.

    Untuk sektor kompetisi, selain Lomba Fashion Baloga yang digelar kemarin, sebelumnya telah sukses dilaksanakan Lomba Merangkai Wedding Bouquet, Flower to Wear Competition, Zumba Flower Party, lomba mewarnai, hingga prosesi sakral Gregeb Bunga yang sukses menyedot perhatian wisatawan.

    Apresiasi tinggi datang dari Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, yang hadir langsung untuk membuka festival pada hari pertama. Menurutnya, SFF 2026 mengukuhkan posisi Kota Batu sebagai salah satu sentra bunga terbesar di Indonesia. Namun, ia mengingatkan agar potensi florikultura ini tidak berhenti pada tahap produksi saja.

    “Perlu ada langkah konkret pada penguatan hilirisasi, inovasi, hingga ekspansi pasar. Kita ingin karya para seniman bunga (florist) dan pelaku usaha lokal tidak hanya jago kandang, tetapi mampu menembus pasar nasional hingga internasional,” tutur Heli.

    Heli juga memberikan pujian khusus kepada generasi muda Kota Batu yang sukses menunjukkan semangat kolaborasi luar biasa dalam mengemas acara ini. Keterlibatan anak muda melalui organisasi seperti Young Ambassador Agriculture (YAA) dan Duta Petani Milenial Andalan (DPMA) dinilai menjadi energi vital demi menjaga keberlanjutan sektor pertanian modern.

    Kesuksesan SFF 2026 merupakan buah manis dari sinergi multipihak. Festival ini lahir dari inisiasi kuat Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Kota Batu yang bergerak bersama BALOGA, Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI), dengan dukungan penuh dari PT Pupuk Indonesia serta Pemkot Batu.

    “Tak hanya organisasi kakap, kolaborasi ini juga menyentuh berbagai komunitas lokal, seperti Komunitas MUA SFF Glam Team, Supplier Bunga Potong Kota Batu (Bungkalas), Sinema Batu Adem (SIMBA), dan PERWOSI Kota Batu,” timpal Lili.

    Lewat perpaduan konsep edukasi, hiburan, dan promosi lokal yang ditutup meriah oleh kemegahan kostum carnival sore kemarin, SFF 2026 semakin mengukuhkan posisi Kota Batu sebagai kiblat wisata berbasis florikultura dan ekonomi kreatif yang tangguh di Indonesia. (eri/van)