MALANG POSCO MEDIA– Kendati sekarang musim kemarau tapi waspadalah sejak dini. Harus ada aksi nyata peduli lingkungan dan pencegahan bencana. Itu menyusul ditemukannya potensi ancaman banjir maupun luapan air.
Langkah proaktif dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana itu digencarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu. Tim BPBD dan gabungan baru saja merampungkan aksi menyusuri Aliran Sungai Coban Peteng di Desa Giripurno yang dilaksanakan selama dua hari, mulai 27 hingga 28 Juli 2026.
Penyisiran intensif ini menyusuri aliran sungai sepanjang 6,8 kilometer dengan waktu tempuh mencapai lima jam. Yakni membentang dari titik hulu di Coban Peteng hingga ke area hilir sungai.
Dari hasil kegiatan tersebut, penelusuran tim di lapangan membuahkan temuan penting terkait potensi ancaman banjir maupun luapan air.
Petugas mencatat sedikitnya 28 titik hambatan yang berpotensi menyumbat aliran air, dengan rincian 18 titik tumpukan rumpun bambu, empat titik kayu atau pohon tumbang, serta dua titik penumpukan sampah domestik.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, menegaskan bahwa temuan ini menjadi perhatian serius dan telah ditindaklanjuti sebelum memasuki musim dengan intensitas hujan tinggi.
“Dari hasil penyisiran selama dua hari ini, kami mendeteksi setidaknya 28 titik krusial yang dapat memicu sumbatan aliran sungai. Mayoritas disebabkan oleh rumpun bambu dan kayu tumbang, disusul tumpukan sampah,” ujar Gatot kepada Malang Posco Media Rabu (29/7) kemarin.
Sebagai langkah antisipasi dini, pihak BPBD merekomendasikan penanganan cepat berupa pembersihan material dan normalisasi di titik-titik lokasi kayu tumbang, bambu, maupun sampah tersebut.
“Dari temuan sumbatan, tim gabungan melakukan aksi pembersihan dan normalisasi pada titik-titik yang teridentifikasi. Dengan pembersihan dan normalisasi material ini bertujuan untuk menghilangkan bendung alam yang membahayakan kawasan sekitar saat debit air meningkat,” imbuhnya.
Sebelumnya, BPBD bersama Tim Gabungan terus mematangkan langkah mitigasi non-struktural menjelang datangnya musim penghujan. Melalui program unggulan bertajuk “Miss U” (Mitigasi Susur Sungai) Kota Batu, tim gabungan menyisir berbagai aliran sungai kritis guna mengurangi risiko bencana banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.
Diuraikan Gatot bahwa kegiatan tahunan yang rutin digelar sejak tahun 2023 ini krusial dilakukan untuk meminimalkan dampak material maupun korban jiwa, berkaca pada sejarah banjir bandang yang pernah melanda Kota Batu pada tahun 2021 silam.
“Kondisi geografis Kota Batu memang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi saat musim hujan. Oleh karena itu, program Miss U tahun 2026 ini sengaja kami laksanakan jauh hari sebelum musim hujan tiba, yakni sepanjang periode 2 Juni hingga 31 Juli,” paparnya.
Berdasarkan hasil pemetaan lapangan yang dilakukan secara kolaboratif bersama TNI, Polri, DLH, PUPR, Perhutani, Tahura R. Soeryo, relawan desa, dan instansi terkait lainnya, petugas berhasil mengidentifikasi ratusan titik material berbahaya yang berpotensi menyumbat aliran sungai.
Dari hasil susur sungai di beberapa lokasi utama, ditemukan berbagai hambatan signifikan.
Contohnya Sumber Darmi (2-3 Juni) ditemukan total 16 titik kayu tumbang dan satu titik longsoran tanah. BPBD langsung bergerak melakukan eksekusi pembersihan dengan memotong batang pohon serta merapikan ranting.
Kemudian Sungai Krecek (8-9 Juni) penyisiran sepanjang 7,5 hingga 8 km mendeteksi adanya puluhan hambatan, meliputi 21 titik kayu, 27 rumpun bambu, lima titik longsor, serta belasan titik gangguan aliran.
Sungai Glagah Wangi (10-11 Juni) ditemukan 26 titik hambatan, termasuk sumbatan berupa sampah pertanian.
Di aliran Sungai Brantas Bon 8, Coban Peteng, dan Pusung Lading (12-25 Juni) petugas mendeteksi tumpukan material kayu, puluhan rumpun bambu yang menutup sungai, penumpukan sampah, hingga titik longsor yang mengancam kelancaran arus air.
“Fokus utama kami adalah mengidentifikasi dan langsung mengeksekusi penanganan di titik-titik longsoran, pohon roboh, dahan, hingga rumpun bambu yang menyumbat aliran. Jika dibiarkan, material-material ini bisa membentuk bendung alam yang sewaktu-waktu dapat jebol dan memicu banjir bandang di hilir,” jelas Gatot.
Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana dan perbandingan indeks ancaman bahaya banjir dari tahun 2022 ke tahun 2024, beberapa wilayah di Kecamatan Bumiaji, Batu, dan Junrejo masih menunjukkan indikator warna merah untuk kelas bahaya/ancaman tinggi. Menyikapi hasil temuan lapangan dan data analitis tersebut, Gatot Noegroho memaparkan beberapa rekomendasi strategis BPBD Kota Batu ke depan.
“Rekomendasi meliputi pembersihan aliran secara berkala dengan eksekusi pemotongan kayu dan pembersihan rumpun bambu yang menghambat sungai harus terus dipantau, terutama di sungai yang bersifat periodik (intermittent) di mana debit airnya bisa membesar secara drastis saat musim hujan,” ungkapnya.
Selain itu dibutuhkan sinergi lintas sektor dan masyarakat sebagai penguatan kapasitas masyarakat sekitar pinggiran sungai dan pengaktifan peran FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Desa untuk ikut menjaga kelestarian ekosistem sungai.
Serta penguatan sistem informasi darurat melalui imbauan BPBD kepada masyarakat untuk memanfaatkan kanal pengaduan cepat jika melihat adanya potensi sumbatan baru di sungai melalui Call Center/WhatsApp BPBD di nomor 0812 1710 4099 atau layanan darurat Pemkot di 112.
“Mitigasi non-struktural seperti susur sungai ini tidak akan maksimal tanpa adanya kesadaran bersama. Kami berharap masyarakat tidak membuang sampah atau limbah pertanian ke aliran sungai agar fungsi hidrologi sungai di Kota Batu tetap terjaga dengan aman,” pungkasnya. (eri/van)

