Gigih Selamatkan Mangrove, Kini  Masuk Lima Besar Wonderful Indonesia Awards 2026

Berita Lainya

Berita Terbaru

Dedikasi Lia Putrinda Anggawa Mukti Misi Konservasi di Pesisir Malang Selatan

MALANG POSCO MEDIA – Di balik deburan ombak pesisir Malang Selatan, terekam jejak langkah telaten konservasi benteng hijau.  Ialah Lia Putrinda Anggawa Mukti, penggerak Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna. Atas didekasinya, Lia Putrinda masuk lima besar Wonderful Indonesia Awards 2026 dalam kategori Local Hero in Tourism.

Lia Putrinda, lahir dan besar di pesisir Pantai Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumawe, Kabupaten Malang. Ketertarikannya terhadap ekologi sudah terlihat sajak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama.

 Pada saat berseragam SMP itu, Lia aktif menulis isu krisis ekologi. Ia mengenang cerita ayahnya, dahulu di pesisir Malang Selatan terdapat hutan mangrove lebat dan hutan pesisir yang sehat.

“Saya menulis tentang kegiatan lingkungan dan sekaligus membantu mempublikasikan gerakan lokal di Sendangbiru melalui majalah dinding sekolah dan mengajak teman-teman di Malang Kota untuk mendukung penanaman, sering ditolak dan ada juga yang mendukung,” kenang Lia, Rabu (29/7) kemarin.

Namun krisis ekologi pada tahun 1998 membuat 81 hektare hutan mangrove mengalami kerusakan. Ekosistem benteng hijau pun runtuh. Hamparan lahan menjadi gersang yang minim vegetasi seperti hutan, rumput, atau semak.

Singkat cerita, Lia dan ayahnya, Saptoyo, berinisiatif menanam mangrove berdua.

“Pada tahun 2011, saya dan ayah membentuk Pokmaswas Gara Olah Alam Lestari (GOAL). Dari sini penanaman mangrove terus kami lakukan untuk konservasi,” ujar Lia.

Kepeduliannya pada mangrove tumbuh karena keinginan untuk mengembalikan bahkan mewariskan kondisi pesisir Malang Selatan yang lebih baik untuk generasi selanjutnya dan ekosistem yang ada, berbagai tantangan dihadapi, berbagai inovasi dilakukan oleh Lia. 

Mangrove memiliki berbagai fungsi krusial bagi lingkungan seperti benteng alami penahan abrasi dan gelombang badai serta menjadi habitat bagi berbagai keanekaragaman hayati dan biota laut.

Pada awal-awal menggalang dana untuk konservasi, Lia sempat diduga melakukan pungutan liar (pungli) kepada masyarakat. Ia menggerakkan 78 relawan konservasi. Yang tersisa hanya enam orang relawan yang masih setia.

“Hanya enam orang relawan yang tersisa saat itu kami terus yakin bergerak, yakin melangkah karena niat kami baik,” kenangnya.

Tetapi Lia tidak meyerah, bersama enam orang relawan ya masih tersisa, ia membangun kawasan konservasi bernama Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumawe, Kabupaten Malang.

Kini, CMC Tiga Warna menjadi kawasan ekosistem yang memadukan hutan mangrove, hutan pantai, dan snorkeling untuk melihat upaya rehabilitasi terumbu karang.

Berkat perjuangan pantang menyerahnya, Lia masuk lima besar Wonderful Indonesia Awards 2026 kategori Local Hero in Tourism.

Kawasan CMC Tiga Warna kini populer. Nama Tiga Warna diberikan karena gradasi air lautnya yang memiliki tiga warna berbeda akibat perbedaan kedalaman.

Kawasan CMC meliputi enam pantai. Yakni Pantai Tiga Warna, Pantai Clungup, Pantai Gatra, Pantai Sapana, Pantai Mini, dan Pantai Batu Pecah.

“CMC mulai dibuka untuk umum sejak tahun 2014. Kawasan ini sejak awal sepenuhnya dikelola masyarakat secara mandiri. Kelompok masyarakat diwadahi secara legal dalam Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru,” kata Lia.

Ia menjelaskan Kawasan CMC Tiga Warna memadukan fungsi konservasi alam dengan pariwisata berkelanjutan.

Kawasan ini melindungi ekosistem hutan mangrove, terumbu karang, dan hutan lindung.

Kini area konservasi hutan pesisir lebih dari 50 hektare di seluruh area sempadan pantai. Sementara area konservasi terumbu karang seluas 10 hektare di Pantai Sapana, Pantai Mini, Pantai Batu Pecah, dan Pantai Tiga Warna.  Sedangkan area konservasi mangrove seluas 77,7 hektare meliputi Pantai Clungup dan Pantai Gatra.

Kiprah CMC dalam konservasi mangrove ini mendapat atensi dari dewan juri Wonderful Indonesia Awards kategori Local Hero in Tourism. Dewan juri melakukan kunjungan langsung ke Kawasan CMC Tiga Warna, beberapa waktu lalu.

Selain itu, CMC Tiga Warna telah menoreh sebuah penghargaan di antaranya ASEAN Tourism Awards pada tahun 2025, Program Bantuan Pemerintah Infrastruktur Ekonomi Kreatif dan 5 Destinasi Pilot Project – Carbon Footprint dari Kemenparekraf tahun 2022, dan Juara 1 – Wana Lestari Kategori Hutan Kemasyarakatan dari         Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan      tahun 2024, dan masih banyak lagi deretan penghargaan yang diraih.

Uniknya, di Pantai Tiga Warna jumlah kunjungan wisatawan dibatasi minimal 100 orang dalam dua jam. Hal ini dilakukan untuk perlindungan kawasan konservasi, begitu juga di lima pantai lainnya di Ekowisata CMC Tiga Warna.

Sebab banyaknya pengunjung akan meningkatkan resiko rusaknya terumbu karang dan objek konservasi lainnya. Banyak program lain yang diiniasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang menjadi pusat study berbagai lembaga dan daya tarik bagi pengunjung.

Lia menambahkan kini di kawasan Ekowisata CMC Tiga Warna teradapat sejumlah program ekologi, sosial, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

Selain itu, melalui Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru telah bekerjasama dengan berbagai pihak.

“Kami memiliki program pemberdayaan ekonomi masyarakat yaitu merintis usaha hilirisasi hasil produk hutan dan perikanan serta optimalisasi inovasi produk ekowisata,” tutupnya. (den/van)

Pilihan Editor