Komunitas MATA; Saling Menguatkan Lewat Tarot

MALANG POSCO MEDIA – Lutfi Firmansyah, 34 tahun mengambil peran unik sebagai pembaca kartu tarot (tarot reader). Ia biasanya menjadikan kedai kopi di sejumlah sudut Malang menjadi ruang dialog personal yang mendalam.

Selain itu, alumnus salah satu universitas negeri ternama di Malang jurusan Teknologi Pertanian itu juga kerap mengikuti event sebagai reader tarot.

Bagi pria kelahiran Madura itu, tarot sama sekali tidak berurusan dengan dunia mistis atau ramalan nasib mutlak.

Bersama komunitas Malang Tarot (MATA) yang dibentuknya sejak 2012 lalu, Lutfi menempatkan 78 lembar kartu tarot sebagai media interaktif untuk membedah persoalan hidup secara psikologis.

“Kita tidak diajari untuk berpikir secara mistik, tapi secara psikologi,” ujar Lutfi saat ditemui, Kamis (23/7) kemarin.

Berbagai pihak telah mengundang komunitas Malang Tarot seperti Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang hingga mengisi event.

Menurut Lutfi, proses membaca tarot sejatinya adalah proses mendengarkan dan menguatkan sesama manusia. Pengalaman mendampingi klien kerap menghadirkan dinamika menarik.

Lutfi bercerita, tak sedikit warga Malang yang sejatinya menyimpan rasa penasaran tinggi terhadap tarot, tetapi kerap sungkan atau ragu untuk melangkah.

Banyak calon klien yang sengaja mendorong rekannya terlebih dahulu untuk duduk di kursi dengan suasana mencair di kedai kopi.

“Cara pembacaan tarot ini santai dan seru, Jadi kayak teman curhat, diskusi, benalar, dan berbagi,” tutur Lutfi.

Rentang usia mereka yang datang berkonsultasi cukup beragam. Mulai dari mahasiswa awal hingga masyarakat umum hingga para pekerja ataupun pengusaha. Komposisi gender klien berada di angka sekitar 60 persen perempuan dan 40 persen laki-laki.

Dalam praktiknya, pembacaan tarot kerap kali menyentuh akar persoalan hingga ketepatannya dirasakan mendekati 98 persen oleh para peminatnya. Selain berkomunikasi, para tarot reader kini juga berkembang secara individu.

Bagi Lutfi, mengurai benang kusut pikiran klien bukan berarti menggantikan keputusan hidup mereka. Sering kali klien sebenarnya sudah memiliki gambaran solusi sendiri, namun membutuhkan penegasan.

“Ketika dijabarkan dan ditambahi lebih dalam, mereka jadi lebih yakin dan merasa lega. Kami cuma menguatkan,” tambahnya.

Tak hanya membuka sesi pembacaan personal atau mengisi acara pop-up di berbagai tempat, Lutfi bersama komunitasnya yang beranggotakan sekitar 10 orang aktif menyebarkan edukasi kesadaran literasi ke sekolah-sekolah menengah.

Namun menjadi seorang tarot reader haruslah memiliki kompetensi. Karena itu, anggota komunitas Malang Tarot yang didirikan Lutfi rata-rata alumnus jurusan Psikologi.

Ke depan, mereka merancang berbagai kegiatan mulai dari penyerapan “pesan semesta” hingga meditasi self-healing untuk mengajak masyarakat berdamai dengan keadaan diri sendiri.

Lutfi menambahkan, yang ingin belajar pembacaan tarot  atau mengikuti sesi media konseling, dapat menghubungi media sosial komunitas Malang Tarot dengan memperkenalkan diri dan motivasi mengikuti.

“Gathering kami rutin. Bagi teman-teman yang ingin belajar pembacaan tarot, bisa berkolaborasi. Kita belajar bareng di satu tempat yang sama, di naungan yang sama,” tandas Lutfi. (den/van)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *