Wujudkan Pertanian Modern dan Berkelanjutan Penerapan Smart Integrated Farming, Pemkot Siapkan Lahan 2,2 Hektar di Giripurno

Written by

in

MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Pemerintah Kota Batu terus berinovasi dalam menguatkan sektor pertanian lokal agar lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan. Melalui penerapan Smart Integrated Farming (Pertanian Terpadu Berbasis Teknologi), Pemkot Batu berupaya mentransformasi sistem pertanian tradisional menuju pengelolaan digital yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu Aries Setiawan menjelaskan bahwa Smart Integrated Farming merupakan sistem pertanian modern yang memanfaatkan teknologi digital modern untuk membantu para petani mengelola lahan secara presisi.

“Teknologi yang digunakan mencakup penggunaan Sensor dan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), hingga analisis data dan sistem digital. Lewat teknologi ini, petani dapat memantau kondisi lahan secara real-time, memprediksi masa panen dengan akurat, serta meminimalkan risiko gagal panen,” ujar Aries Setiawan kepada Malang Posco Media, Selasa (28/7) kemarin.

Aries menambahkan, keunggulan utama dari Smart Integrated Farming terletak pada keterhubungannya. Seluruh rangkaian proses mulai dari tahap menanam hingga distribusi ke pasar berada dalam satu ekosistem sistem digital yang saling terintegrasi.

Selain itu, program ini mengintegrasikan berbagai unit usaha dalam satu kesatuan pengelolaan yang padu. Meliputi tanaman (Hortikultura), peternakan, perikanan, pengolahan limbah dan energi.

“Tujuan utama kami adalah mengembangkan pertanian modern di Kota Batu, membangun kolaborasi yang kuat dengan masyarakat, serta mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan. Dampak positifnya tidak hanya meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani serta membuka lapangan kerja baru,” tambah Aries.

Guna merealisasikan konsep tersebut, Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan rencana kawasan pengembangan Smart Integrated Farming yang berlokasi di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, dengan luas area mencapai ± 2,2 hektare. Kawasan ini nantinya akan dibagi menjadi empat zona utama.

Zona A untuk Visitor Center dan Pusat Edukasi Pertanian, Zona B untuk Pertanian Hortikultura dengan komoditas unggulan apel, jeruk, dan sayur-mayur. “Kemudian Zona C sebagai Area Peternakan dan Perikanan. Dan Zona D untuk Pengolahan Limbah dan Energi Terbarukan dengan pemanfaatan biogas, pembuatan kompos, dan budidaya maggot,” paparnya.

Pengembangan kawasan ini menjadi langkah konkrit dalam mewujudkan visi mBatu SAE, yakni bersama-sama membangun sektor pertanian Kota Batu yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.(eri/lim)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *