Bangun Budaya Saling Menghargai, Cegah Perundungan

Written by

in

SDN Blimbing 3 Kota Malang Hadirkan MPLS Ramah

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – SDN Blimbing 3 Kota Malang mengimplementasikan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan melalui pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027.

Selama lima hari pelaksanaan, sekolah menanamkan nilai-nilai karakter, membangun budaya anti-perundungan, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik baru.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala SDN Blimbing 3 Kota Malang Sri Utami, S.Pd., M.Pd.

Ia menjelaskan bahwa implementasi MPLS Ramah 2026 diawali dengan pembentukan panitia yang bertugas mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan. Seluruh guru mempelajari petunjuk teknis (juknis) sebelum tugas dibagi sesuai tanggung jawab masing-masing agar pelaksanaan berjalan optimal.

“Kami memastikan seluruh kegiatan mengacu pada juknis MPLS Ramah. Guru-guru juga sudah dibekali materi sehingga penyampaian kepada siswa berlangsung terarah dan menyenangkan,” ujarnya, Selasa, (14/7).

Selama kegiatan MPLS siswa mengikuti berbagai materi yang dikemas secara interaktif. Materi tersebut sesuai pada pedoman MPLS Ramah, di antaranya pengenalan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, edukasi pencegahan perundungan (bullying), pembiasaan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, serta pengenalan budaya dan tata tertib sekolah.

Menurut Sri Utami, materi tersebut selaras dengan amanat Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang menegaskan bahwa satuan pendidikan wajib menjadi ruang yang aman, bebas dari kekerasan, perundungan, diskriminasi, dan intoleransi. “Melalui MPLS Ramah, kami ingin membangun budaya saling menghargai sekaligus memperkuat karakter peserta didik sejak hari pertama masuk sekolah,” imbuhnya.

Tahun ajaran 2026/2027, SDN Blimbing 3 menerima 56 peserta didik baru yang terbagi dalam dua rombongan belajar dan seluruh kuota telah terpenuhi. Selama MPLS, siswa mengenakan topi identitas sekolah, berwarna biru untuk siswa laki-laki dan merah muda untuk siswa perempuan.

Sekolah juga melibatkan orang tua melalui program Gerakan Ayah Mengantar Siswa ke Sekolah (GAMAS) pada hari pertama. Keterlibatan ayah dalam mengantar anak mengikuti pembukaan MPLS diharapkan bisa memberikan dukungan terhadap siswa dan lebih percaya diri mengikuti kegiatan.

“Harapan kami, anak-anak dapat beradaptasi lebih cepat, mengenal lingkungan sekolah dengan baik, tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, serta mampu bersosialisasi dengan teman-temannya dalam suasana belajar yang aman dan bebas dari perundungan,” pungkas Sri Utami.(hud/lim).

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *