Malang Posco Media, Jakarta – Nama Ferdi Setiawan menjadi salah satu peserta seleksi calon Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Berbekal pengalaman lebih dari 20 tahun di industri penyiaran, jurnalisme, dan dunia akademik, ia menawarkan gagasan penguatan kualitas penyiaran nasional yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital tanpa meninggalkan kepentingan publik.
Karier Ferdi dimulai dari stasiun televisi lokal hingga nasional. Pria kelahiran Jakarta yang menghabiskan masa kecil di Daerah Istimewa Yogyakarta itu pernah berkiprah di Jogja TV, TV7 (kini Trans7), DAAI TV, Jak TV, tvOne, hingga Metro TV. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Sinpo TV dan Sinpo.id.
Pengalaman panjang di berbagai media tersebut membentuk pemahamannya mengenai proses produksi berita, manajemen redaksi, etika jurnalistik, regulasi penyiaran, hingga dinamika industri media yang terus berubah di tengah disrupsi digital.
Tak hanya berkecimpung di industri media, Ferdi juga aktif sebagai dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (Undira) Jakarta. Menurutnya, perpaduan pengalaman sebagai praktisi dan akademisi memberikan perspektif yang utuh dalam melihat kebutuhan pengembangan dunia penyiaran nasional.
“Pengalaman sebagai praktisi sekaligus akademisi memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan industri, regulasi, dan pengembangan sumber daya manusia di bidang penyiaran,” ujarnya.

Perjalanan profesional Ferdi juga diwarnai pengalaman sebagai petugas Media Center Haji tahun 2026. Dalam penugasan tersebut, ia bertanggung jawab menyebarluaskan informasi penyelenggaraan ibadah haji kepada masyarakat Indonesia.
Bagi Ferdi, tugas tersebut bukan sekadar pekerjaan jurnalistik, melainkan bagian dari pengabdian melayani tamu Allah yang mengantarkannya ke Tanah Suci.
“Allah selalu memiliki cara sendiri untuk mempertemukan seorang hamba dengan rumah-Nya. Terkadang jalan itu datang melalui antrean panjang, terkadang melalui pengabdian,” tuturnya.
Pengalaman bertugas di Arab Saudi dinilainya menjadi bekal penting dalam bekerja di bawah tekanan, sekaligus menjaga akurasi dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Di tengah kesibukannya, Ferdi mengaku tetap menjalani kehidupan sederhana. Setiap pagi ia mengantar dua putrinya ke sekolah, sementara putra sulungnya menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Banten. Selepas memimpin aktivitas redaksi dan mengajar mahasiswa, ia kembali menjalankan perannya sebagai kepala keluarga.
“Tidak ada yang spesial dari saya. Saya hanya menjalani kehidupan sederhana, bekerja, mengurus keluarga, mengajar, dan berusaha menjalankan kewajiban sebaik mungkin,” katanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Ferdi memegang tiga prinsip, yakni menjaga silaturahmi, tidak meremehkan siapa pun, dan selalu berbuat baik tanpa menghitung untung maupun rugi.
“Saya percaya silaturahmi akan menambah berkah dan rezeki. Jangan pernah meremehkan orang lain, karena di hadapan Allah semua sama,” ujarnya.
Selain aktif di dunia jurnalistik, Ferdi juga tergabung dalam sejumlah organisasi profesi, seperti Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Forum Jurnalis Zakat dan Wakaf Indonesia (Forjukafi), Asosiasi Konten Kreator untuk Nusantara (AKKuN), serta aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi memperluas perspektif dalam memahami berbagai persoalan publik, termasuk isu penyiaran, jurnalistik, dan keterbukaan informasi.
“Semakin banyak ruang diskusi dan jejaring yang dimiliki, semakin luas pula perspektif dalam menganalisis berbagai persoalan, termasuk yang berkaitan dengan kepenyiaran,” tegasnya.
Maju dalam seleksi Komisioner KPI Pusat, Ferdi membawa komitmen memperkuat kualitas penyiaran Indonesia agar mampu menjawab tantangan era digital.
Menurutnya, penyiaran memiliki fungsi strategis sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial, pelestarian budaya, sekaligus perekat persatuan bangsa. Karena itu, kualitas isi siaran harus terus ditingkatkan agar tetap relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menilai industri penyiaran saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari persaingan dengan platform digital, maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi, perubahan perilaku audiens, hingga kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Ferdi menempatkan penguatan literasi media sebagai salah satu prioritas. Menurutnya, masyarakat yang memiliki literasi media yang baik akan lebih kritis dalam menerima informasi, mampu membedakan fakta dan disinformasi, serta turut menciptakan ekosistem penyiaran yang sehat.
Selain itu, ia mendorong lembaga penyiaran menghasilkan program yang edukatif, inovatif, menghormati keberagaman budaya Indonesia, serta memberikan perlindungan terhadap anak dan remaja dari konten yang tidak sesuai.
Ferdi menegaskan KPI harus hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi lembaga penyiaran dalam meningkatkan kualitas industri penyiaran nasional.
Berbekal pengalaman sebagai jurnalis, pimpinan redaksi, praktisi televisi, akademisi, hingga petugas Media Center Haji, Ferdi berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat peran KPI sebagai pengawal kualitas penyiaran Indonesia.
“Kualitas penyiaran yang baik bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga penyiaran, tetapi juga tanggung jawab bersama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. KPI harus hadir sebagai mitra yang mendorong lahirnya penyiaran yang profesional, beretika, inovatif, dan selalu berpihak kepada kepentingan masyarakat,” pungkasnya. (aim)

