MALANG POSCO MEDIA – Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) kembali menjadi pelopor. FTAB resmi meluncurkan fasilitas pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun berskala fakultas. Ini merupakan fasilitas pertama dan satu-satunya di lingkungan Universitas Brawijaya hingga saat ini.
Peluncuran ini menjadi tonggak penting FTAB UB dalam mengokohkan diri sebagai Fakultas Zero Waste yang peduli lingkungan dan bertanggung jawab terhadap keselamatan sivitas akademika.
Selama ini limbah B3 dari laboratorium, seperti sisa bahan kimia, pelarut, dan reagen, harus ditangani khusus agar tidak mencemari tanah, air, dan udara. Kini, FTAB UB memiliki sistem pengolahan internal berbasis 3 tahap: segregasi, netralisasi, dan pengurangan volume sebelum diserahkan ke pihak berizin.

“Ini praktik baik yang harus ditiru fakultas lain. Kampus tidak hanya mencetak ilmuwan, tapi juga menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang aman dan berkelanjutan,” ujar Prof. Dr. Sukarmi, SH.M.Hum., assesor yang juga guru besar UB yang hadir dalam penilaian lapangan terkait SDGs, Jumat (03/07/2026).
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.T.P., M.App.Life.Sc., Ph.D., menegaskan program ini terintegrasi dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
“Fasilitas ini langsung menjawab SDGs 3: Good Health and Well-being, SDGs 6: Clean Water and Sanitation, dan SDGs 12: Responsible Consumption and Production. Zero Waste bukan slogan. Kami mulai dari hulu: memisah, mengolah, dan mengurangi limbah B3 di sumbernya,” jelasnya.

Sebagai bagian dari Smart Green Campus, seluruh proses pengolahan dipantau secara digital. Setiap laboratorium wajib mencatat jenis, volume, dan tanggal pembuangan B3 melalui dashboard. FTAB juga rutin mengadakan pelatihan K3 dan praktik laboratorium hijau bagi mahasiswa dan tenaga kependidikan.
“Komitmen kami jelas: riset boleh maju, tapi lingkungan harus tetap aman. Dengan fasilitas ini, FTAB UB ingin membuktikan bahwa fakultas teknologi bisa menjadi fakultas paling bertanggung jawab secara ekologis,” tutup Prof. Yusuf. (*/bua)

