Mengenang Hj. Khusniyah, S.Ag., M.Pd.I: Berpulangnya “Teman Baik” dan Kekuatan di Balik Waskita Dharma

Berita Lainya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Lantunan ayat suci Alquran dan zikir biasanya selalu terdengar di kediaman Dr. H. Sigit Wahyudi, MM. Demikian salat malam menjadi ritual sunyi yang selalu ditunaikan bersama sang istri, Hj. Khusniyah, S.Ag., M.Pd.I. Namun, tujuh hari yang lalu, tepat pada Minggu, 12 Juli 2026, ritual kebersamaan itu mendadak sunyi. Sang belahan jiwa berpulang pada usia 54 tahun, sebuah usia yang masih sangat produktif.

​Kepergian Ketua Yayasan Waskita Dharma ini meninggalkan duka mendalam. Bagi Dr. Sigit, sang istri bukan sekadar pendamping hidup selama 28 tahun. Beliau adalah kompas moral, pilar kekuatan, dan “teman baik” tempatnya melabuhkan seluruh keluh kesah.

​Tempat Sandaran dan Senyum yang Tak Pernah Pudar

​Membangun Yayasan Waskita Dharma bukanlah perkara mudah. Namun, di balik setiap langkah besar Dr. Sigit, ada sosok Bu Khusniyah yang menjadi sumber kekuatannya. Beliau adalah tipe istri yang tidak pernah mengeluh. Apa pun yang diminta dan dikatakan sang suami, almarhumah selalu mengiyakan dengan penuh keikhlasan.

​Menariknya, almarhumah memiliki cara unik untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Beliau pernah berjanji tidak akan pernah mencurahkan isi hatinya kepada orang lain, kecuali kepada suaminya sendiri.

​”Kalau ada sesuatu masalah di luar, maka buang sampahnya itu di saya,” kenang Dr. Sigit menirukan ucapan almarhumah.

​Bagi Dr. Sigit, menjadi “tempat sampah” bagi keluh kesah sang istri adalah sebuah kehormatan. Hal itu menjadi bukti kedekatan jiwa mereka yang tak terbantahkan.

​Di mata rekan-rekan dan para pelayat yang datang bertakziah, Bu Khusniyah adalah sosok yang luar biasa sabar. Murah senyum dan selalu sumringah. Senyuman ceria yang tak pernah pudar. Hampir tidak pernah marah.

Bahkan Sigit mencatat, selama 28 tahun mendampingi, almarhumah hanya dua kali marah. Salah satunya karena sikap murah hati yang terabaikan oleh suami. Seperti saat ada orang membutuhkan bantuan namun sengaja ditunda-tunda oleh suaminya.

TELADAN: Hj. Khusniyah, S.Ag., M.Pd.I akan selalu menjadi teladan bagi keluarganya dan civitas akademika Universitas Waskita Dharma Malang

​Warisan Nilai: Salat dan Totalitas dalam Pendidikan

​Sebagai seorang pendidik, Hj. Khusniyah meninggalkan warisan nilai yang sangat kuat bagi keluarganya. Kepada anak-anaknya, satu pesan yang paling gencar beliau wanti-wanti:
“Jangan pernah tinggalkan salat.” Nilai religius ini menjadi fondasi utama yang beliau tanamkan dalam keseharian.

​Sementara untuk urusan pengabdian, almarhumah adalah teladan tentang totalitas. Beliau selalu mengingatkan agar tidak tanggung-tanggung dalam membantu sesama.

​”Hidupilah Waskita Dharma, hidupilah majelis ilmu. Jangan cari kehidupan dari situ, dijamin hidup kita itu dari situ,” begitu pesan mendalam almarhumah yang terus terngiang.

​Bagi Bu Khusniyah, mengabdi pada pendidikan harus dilakukan secara utuh, tanpa pernah mengharapkan pamrih atau balasan dari manusia.

​Firasat Akhir dan Puasa 40 Hari

​Sebelum berpulang, almarhumah sempat menunjukkan beberapa isyarat tak biasa yang baru disadari keluarga setelah kepergiannya. Pada bulan Besar (Dzulhijjah) saat musim haji, almarhumah meminta izin untuk melaksanakan puasa hajat selama 40 hari berturut-turut.

​Selama masa puasa tersebut, beliau menggerakkan seluruh anggota keluarga untuk rutin mengaji. Targetnya tidak main-main. Setiap satu minggu, keluarga harus mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an. Setoran hafalan ayat dari anak-anak dipantau langsung dan ditulis di grup WhatsApp keluarga.

​Firasat lain yang membekas adalah keputusannya memajang foto. Selama puluhan tahun, keluarga ini tidak pernah membiasakan diri memajang foto keluarga di dinding rumah. Namun, sekitar empat atau lima hari sebelum wafat, almarhumah mendesak suaminya untuk memajang foto dirinya.

Saat ditanya alasannya, almarhumah hanya menjawab sederhana dalam bahasa Jawa, “Biar buat dilihat-lihat,” Kini, foto tersebut menjadi pengobat rindu yang abadi bagi keluarga.

​Profesionalitas hingga Akhir Hayat

​Keteladanan lain yang patut ditiru dari sosok Hj. Khusniyah adalah profesionalitasnya. Almarhumah selalu berpesan agar masalah pribadi atau kesehatan keluarga jangan sampai mengganggu roda organisasi yayasan.

​Bahkan saat harus dilarikan ke rumah sakit pada hari Sabtu—di mana kampus sedang ramai aktivitas mahasiswa—beliau meminta agar kondisi sakitnya tidak usah dikabar-kabarkan. Beliau ingin sistem pendidikan tetap berjalan normal tanpa harus terhenti karena keadaan dirinya. Kampus adalah rumahnya, dan beliau menjaga rumah itu dengan segenap rasa tanggung jawab hingga napas terakhir.

​Melangkah Maju dalam Kebersamaan

​Kini, sang pekerja keras itu telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Dr. Sigit Wahyudi memandang kepergian istrinya dengan keikhlasan yang tegar. Ia meyakini, Allah SWT lebih mencintai Bu Khusniyah sehingga memanggilnya lebih cepat untuk menggugurkan dosa-dosa dan menjaganya dari potensi keburukan duniawi.

​Sesuai pesan yang dititipkan Dr. Sigit saat almarhumah masih dalam masa koma, kini anak-anak mereka berdiri saling menguatkan. Yang tua menjadi teladan bagi yang muda, dan yang muda menghormati yang tua. Mereka bersatu, menjaga warisan cinta dan dedikasi yang telah ditinggalkan oleh sang ibu tercinta.

​Selamat jalan, Hj. Khusniyah. Dedikasi dan senyumanmu akan selalu hidup dalam denyut nadi Yayasan Waskita Dharma. (*)

Pilihan Editor