Tag: ian

  • Muscab IKA PMII, Malang Ditegaskan Jadi Poros Pergerakan

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kota Malang dinilai memiliki posisi penting dalam sejarah pergerakan dan perkembangan intelektual kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kota Malang bahkan disebut menjadi salah satu poros pergerakan penting di tingkat nasional bersama Jakarta dan Yogyakarta. Hal itu disampaikan Ketua Umum PB IKA PMII Fathan Subchi saat hadir dalam Musyawarah Cabang (Muscab) IV IKA PMII Kota Malang di Gedung Arshaka, Minggu (26/7) sore.

    Fathan menyebut, terdapat kedekatan yang kuat antara Jakarta dan Malang dalam dinamika pergerakan. Menurutnya, Jakarta, Malang, dan Yogyakarta memiliki karakteristik masing-masing yang membentuk kekuatan gerakan dan intelektualitas.

    “Sebetulnya ada segitiga poros Jakarta, Malang, Jogja. Kader Jakarta terkesan ‘gado-gado’ (beragam), nah Jogja terkenal intelektualitas, menata manhaj untuk pergerakan. Malang ini intelektualnya ada, pergerakannya ada, jadi pusat pergerakan dan intelektualitas,” tegas Fathan.

    Menurut Fathan, kekuatan tersebut menjadi modal penting bagi kader dan alumni PMII untuk terus berkontribusi dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Ia pun mendorong para aktivis untuk kembali menghidupkan tradisi kajian dan pemikiran yang sejak dulu menjadi tradisi di Malang. Sebab, aktivis pergerakan tanpa dilandasi pemikiran yang kuat dinilai akan kehilangan arah.

    “Aktivisme tanpa pemikiran itu hampa. Tidak boleh aktivisme membabi buta, tapi tidak mengerti misalnya barang apa pemerintah ini,” tegas dia.

    Oleh karena itu, Fathan menantang kader dan alumni PMII Kota Malang untuk terus memperkuat tradisi intelektual sekaligus menjaga tradisi pergerakan yang selama ini telah menjadi kekuatan organisasi. Ia menilai, PMII Kota Malang memiliki modal yang kuat karena tradisi intelektual dan pergerakannya telah terbentuk.

    Soliditas para kader dan alumni juga diyakini mampu melahirkan kekuatan besar dalam mendorong berbagai perubahan. Ia pun menyampaikan apresiasi dan penghormatan kepada IKA PMII Kota Malang yang dinilai mampu menjaga persatuan dan soliditas organisasi.

    “Rasa hormat kepada IKA PMII Kota Malang karena persatuan dan soliditas kita menghasilkan suatu kekuatan yang luar biasa,” tambahnya.

    Sementara itu, Ketua Umum PC IKA PMII Jawa Timur Thoriqul Haq mengapresiasi pelaksanaan Muscab IV IKA PMII yang pada kali ini memutuskan Ketua Umum PC IKA PMII Kota Malang terpilih adalah Edi Purwanto. Ia langsung mengenalkan Edi ketika naik memberikan sambutan pada seremoni penutup. Ia bahagia karena ketua terpilih bisa diputuskan melalui proses musyawarah dan berjalan lancar.

    “Kami di IKA PMII Jawa Timur sudah menetapkan, semua musyawarah cabang harus musyawarah mufakat. Kami ini berkeinginan untuk seluruh keputusan jalurnya adalah kebersamaan,” tutur Thoriq. (ian/aim)

  • Dewi Pertiwi Perluas Gerakan Perempuan Malang Raya

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Gerakan perempuan di Malang Raya memasuki babak baru. Srikandi Malang Raya resmi bertransformasi menjadi Dewi Pertiwi. Gerakan perempuan dari PSI (Partai Solidaritas Indonesia) tersebut tidak hanya fokus pada kegiatan kebugaran, tetapi juga memperluas peran dalam pemberdayaan perempuan melalui penguatan UMKM, pendidikan politik, hingga pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

    Hal itu disampaikan Ketua Srikandi Kota Malang, Kristina Yanuarti, S.S., saat senam Zumba Party yang digelar di McD Arjosari, Minggu (26/7). Kristina mengatakan, senam Zumba Party yang diikuti sekitar 200 peserta dari wilayah Malang Raya tersebut menjadi salah satu langkah awal untuk memperkenalkan Dewi Pertiwi kepada masyarakat secara lebih luas, setelah sebelumnya, kegiatan serupa juga telah digelar untuk internal anggota.

    “Ke depannya kami akan lebih luas lagi, bukan cuma senam. Kami akan mewadahi UMKM, pendidikan politik, juga kalau ada permasalahan anak-anak atau kekerasan perempuan, kami akan terjun di situ,” terang Kristina.

    Menurut dia, transformasi dari Srikandi menjadi Dewi Pertiwi turut memperluas cakupan kegiatan, khususnya dalam pendidikan politik dan regenerasi perempuan. Perempuan, kata Kristina, tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pelengkap dalam pemilu maupun pilkada.

    Kristina menegaskan, Dewi Pertiwi terbuka bagi seluruh perempuan. Keanggotaan organisasi tersebut tidak terbatas pada kader atau anggota partai tertentu. Saat ini, jumlah anggota Dewi Pertiwi di Kota Malang telah mencapai sekitar 110 orang.

    “Intinya, kami mewadahi perempuan-perempuan ini supaya bisa lebih optimal lagi untuk berkontribusi,” tegas Kristina yang juga merupakan Anggota Komisi B DPRD Kota Malang ini.

    Sementara itu, Ketua Panitia Zumba Party Srikandi Malang Raya, Merlin Debora N. S.Psi, SE., menambahkan, kegiatan olahraga ini dipilih karena kesehatan perempuan dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam keluarga dan masyarakat.

    “Perempuan harus sehat dulu. Kalau perempuannya sehat, otomatis keluarganya, anak-anaknya pasti akan terpelihara dengan baik,” tuturnya.

    Debora menyampaikan, kegiatan Zumba ini akan terus digelar secara rutin. Setiap Sabtu pada pekan ketiga, kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor DPD PSI Sawojajar. Sementara Zumba Party di McD Arjosari digelar sebagai bagian dari pengenalan Dewi Pertiwi kepada masyarakat sekaligus hasil kerja sama dengan pihak McD.

    Pembina Srikandi Malang Raya, Saila El Azkiya, menilai kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas kebugaran. Zumba Party juga menjadi ruang silaturahmi dan mempererat kebersamaan antarperempuan.

    “Tidak hanya aktivitas kebugaran, tapi juga sebagai ajang silaturahmi dan simbol kebersamaan untuk saling mengenal satu dengan yang lain,” katanya.

    Saila berharap, transformasi Srikandi menjadi Dewi Pertiwi semakin mendorong perempuan untuk aktif bergerak, berdaya dan berkontribusi dalam perubahan bangsa. “Karena kalau perempuannya berdaya, nanti akan lahir keluarga yang kuat dan masyarakat yang sejahtera pastinya,” tandas istri Wakil Wali Kota Malang tersebut. (ian/aim)

  • Pengemudi Nantikan Program Angkot Pelajar Segera Bergulir

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Program Angkutan Kota (Angkot) Pelajar gratis yang akan dijalankan oleh Pemkot Malang sudah dinantikan oleh para sopir angkot. Program tersebut menjadi salah satu harapan dan jalan keluar bagi para sopir untuk mendapatkan pemasukan lebih di tengah ketatnya persaingan dengan transportasi online.

    Ketua Forum Komunikasi Angkot Malang Stefanus Hari Wahyudi atau dikenal Sam Obek, menyebut hampir seluruh tahapan sudah selesai dilakukan dan dipersiapkan oleh para sopir angkot bersama koperasi sopir yang menjadi mitra dalam program tersebut. Ia berharap program itu bisa segera berjalan karena relatif secara umum semuanya telah siap.

    “Kami apresiasi program dari Pemkot Malang ini, karena sudah bagus perencanaanya. Dishub dengan para sopir sudah deal, sudah didata siapa saja yang akan ikut. Kemungkinan bisa mulai berjalan awal Agustus nanti,” ungkap Sam Obek, Minggu (26/7).

    Disampaikan Sam Obek, saat ini para sopir juga tengah memperbaiki armada angkotnya masing masing. Pihaknya berupaya semua armada angkot yang nantinya akan mengakomodir para pelajar ini bisa lebih nyaman dan sesuai dengan kriteria keamanan. Armada yang telah memenuhi semua kriteria akan diberi penanda stiker.

    “Rekan rekan sopir sudah kami sampaikan dan beri pengertian supaya kendaraan mereka bisa dibenahi sesuai dengan KPs (Kartu Pengawasan). Jadi mereka supaya sudah uji KIR dan harus memenuhi syarat,” tambahnya.

    Dijelaskannya, program Angkot Pelajar ini dibagi ke seluruh trayek. Selain itu nantinya para sopir di tiap trayek bisa saling bergantian, sepanjang armadanya telah memenuhi kriteria dan ditandai stiker.

    “Jadi misal di jalur trayek LDG, itu ada lima armada yang ikut program. Nah nanti bisa bergantian, misalnya Minggu pertama atau bulan pertama itu sopir A, B, C, D, E, lalu bergantian berikutnya sopir F, G, H, I, dan J, sesuai armada yang memenuhi kriteria,” jelas Sam Obek.

    Dengan bergulirnya program ini, Sam Obek berharap kesejahteraan para sopir bisa terangkat. Ia menilai, program ini menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah dalam menyediakan transportasi publik sesuai amanah Undang Undang. “Saya rasa apapun program pemerintah yang berdampak baik, wajib kita support. Apalagi pendapatan angkot ini memang agak menurun terus. Prinsipnya kami siap menjalankan,” tandasnya. (ian/aim)

  • Nyalip dari Kiri, Brio Terpental Ditabrak Truk Fuso

    Tiga Orang Luka Akibat Kecelakaan Mobil di Rampal

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Manuver berisiko saat mendahului kendaraan dari lajur kiri berujung kecelakaan lalu lintas di Jalan Panglima Sudirman, Kota Malang. Sebuah mobil Honda Brio menghantam pohon sebelum terpental ke badan jalan dan ditabrak truk Mitsubishi Fuso di dekat simpang empat Rampal, Sabtu (25/7) malam.

    Kanit Gakkum Satlantas Polresta Malang Kota Iptu Eko Prasetyo menyebut, peristiwa itu bermula ketika mobil Honda Brio kuning bernopol N-1623-FF yang dikemudikan Fahriyanto (59) melaju cukup kencang dari arah utara ke selatan dan berusaha mendahului dari lajur kiri.

    “Diduga tidak cukup ruang, sehingga mobil Brio membentur sebuah pohon yang berada di sebelah kiri jalan raya,” terang Eko, dikonfirmasi Minggu, (26/7).

    Usai menabrak pohon yang ada di pinggir jalan, mobil Brio tersebut kemudian terpental di badan jalan. Di saat yang bersamaan, Truk Fuso sedang melaju searah di lajur kanan dan akhirnya terjadi tabrakan kedua kendaraan tersebut sekitar pukul 20.30 malam.

    “Setelah menabrak pohon, bagian belakang Brio terpental dan ditabrak truk yang sedang melaju di lajur kanan,” tambahnya.

    Usai peristiwa tersebut, kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan langsung dievakuasi oleh petugas dari Satlantas Polresta Malang Kota untuk ditangani lebih lanjut. Akibat kecelakaan tersebut, baik pengemudi dan penumpang Honda Brio disebutkan mengalami luka-luka. Sementara sopir truk Fuso bernopol KT-8769-DG yaitu Agus Subagiyo (44), warga Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang tidak mengalami luka.

    “Selain pengemudi, dua penumpang di dalam Brio yaitu Munawaroh (53) dan Fahmi Firdaus (31) juga mengalami sejumlah luka-luka. Ketiganya langsung dilarikan oleh tim medis ke IGD Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut,” tandasnya. (ian/aim)

  • Gelar RedTalks di Malang, PDI-P Jatim Ajak Diskusi Anak Muda Bahas Beragam Isu Krusial

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur menggelar diskusi publik bertajuk RedTalks di Malang Creative Center (MCC), Sabtu (25/7). Acara yang menghadirkan narasumber dari beragam latar belakang, seperti akademisi, seniman, hingga politisi ini berhasil menyedot antusiasme luar biasa dari kalangan anak muda dan aktivis di Malang Raya.

    Sejumlah narasumber diantaranya seperti pengamat politik Rocky Gerung, budayawan Dwi Cahyono, akademisi Universitas Airlangga Suko Widodo, komika Dewangga, hingga komedian Abdel Achrian. Kehadiran para tokoh lintas latar belakang ini, khususnya ulasan dari Rocky Gerung dengan gaya khasnya, menjadi magnet utama yang memadati ruang acara hingga meluber keluar ruangan.

    Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono mengaku terkesan atas membludaknya peserta yang hadir di luar dugaan tersebut. Menurutnya, tingginya partisipasi generasi muda menunjukkan bahwa isu-isu kebangsaan dan ideologi sebenarnya masih memiliki tempat di hati anak muda, asalkan dikemas dengan ruang dialog yang terbuka.

    “Antusiasme anak-anak muda khususnya di Malang Raya ini luar biasa. Kursi terisi penuh dan sampai ada yang berdiri, bahkan di luar. Kami mohon maaf atas keterbatasan tempat, tetapi ini menjadi tantangan sekaligus PR besar bagi kami di PDI Perjuangan Jawa Timur,” terang Deni.

    Ia menegaskan, pemikiran dan kritik yang disampaikan oleh para narasumber, termasuk relevansi ajaran Bung Karno mengenai Marhaenisme di masa kini, harus diterjemahkan menjadi bahan diskusi lanjutan yang lebih membumi. Beberapa isu krusial pun turut dibedah dan didiskusikan, mulai dari kecemasan generasi muda terhadap masa depan lapangan pekerjaan hingga pergeseran lanskap sosial ke dunia digital.

    Menanggapi hal tersebut, Deni menyebut pihaknya di PDI Perjuangan berkomitmen untuk mengubah citra partai politik yang selama ini kerap diidentikkan dengan kesan kaku dan tertutup. Bahkan pihaknya membuka ruang seluas-luasnya bagi anak muda untuk berpartisipasi dan memberikan masukan, walaupun tanpa harus bergabung dalam struktur formal partai atau menjadi calon legislatif.

    “Salah satu tantangannya adalah bagaimana menciptakan atau mengubah imej partai politik agar tidak terkesan tertutup dan antipati bagi anak-anak muda. Kami membuktikan PDI Perjuangan membuka ruang itu. Tidak harus menjadi struktur partai, tidak harus menjadi caleg, tapi kami membuka ruang-ruang diskusi agar masukan dari anak-anak muda bisa ditampung dan dijadikan program perjuangan,” tegasnya.

    Menyoroti rendahnya ketertarikan generasi muda terhadap politik praktis yang kerap terjebak dalam pragmatisme uang, Deni pun menyebut hal ini menjadi tantangan dan tugas utama partai politik. Pihaknya di PDI Perjuangan Jatim bertekad untuk mengambil pendekatan aktif dengan mendatangi langsung komunitas-komunitas anak muda.

    “Kami ingin membuat politik itu menjadi hal yang lebih asyik, hal yang lebih enak untuk diterima dan diperbincangkan. Kalau anak muda tidak terlibat, baik secara aktif maupun pasif dalam artian mengetahui politik, maka dunianya juga tidak bisa ditentukan arahnya,” pungkas Deni. (ian/jon)

  • Pindah ke Islamic Global School, Suyadi Jadi Bapak Asuh

    MALANGPOSCOMEDIA – Anggota Komisi D DPRD Kota Malang Suyadi langsung turun tangan dengan persoalan yang dialami MF, siswa SD Negeri Gadang 1 Kota Malang. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Partai NasDem Kota Malang yang berlatar seorang pendidik, pernah menjadi guru, kepala sekolah dan mengelola sekolah, sangat menyayangkan adanya peristiwa ini.

    Bertepatan dengan Hari Anak Nasional, Suyadi menyatakan menjadi bapak asuh MF dan bersedia bertanggungjawab untuk pendidikannya. MF tidak boleh berhenti sekolah karena tidak naik kelas, sehingga Suyadi mengajaknya untuk bersekolah di SD Islamic Global School yang lokasinya masih di wilayah Kecamatan Sukun.

    “Saya merasa terpanggil, ini menjadi syiar kami terhadap institusi pendidikan. Rasanya kalau Kota Malang sebagai Kota Pendidikan ada begini kurang elok. Maka di momentum Hari Anak Nasional, kami memberikan apresiasi kepada F untuk segera kembali ke sekolah. Senin sudah masuk di SD Islamic Global School, tentunya di kelas 6,” ujar Suyadi.

    Suyadi tidak menyatakan peristiwa ini adalah kesalahan sekolah. Namun demikian, semestinya kebijakan untuk tidak menaikkan kelas yang bersangkutan bisa ditinjau kembali dan menjadi bahan evaluasi kedepannya.

    Jika karakter menjadi alasannya, nyatanya teman teman sekolah justru menilai F sangat baik dan dicintai temannya. Bahkan beberapa siswa sampai mengirim ‘surat cinta’ untuk mengajak masuk sekolah lagi. Oleh karena itu, Suyadi menyebut peristiwa ini menjadi perhatian pihaknya di Komisi D dalam fungsi pengawasan kebijakannya dan harus menjadi evaluasi khususnya di Disdikbud Kota Malang.

    “Janganlah menghukum anak hanya gara gara ada kesalahan, tapi perlu dibina. Sesuai tupoksi kami, fungsi pengawasan dalam kebijakan. Saya rasa ada kebijakan yang mungkin salah oleh kepala sekolah. Mungkin didorong sepertinya ada rasa tidak nyaman dengan anak itu. Padahal memutuskan (kebijakan) itu tidak boleh dengan perasaan, harus logika, rasional,” tandasnya. (ian/jon)

  • Siswa Berprestasi Tak Naik Kelas, Malu Tak Mau Sekolah

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Hari Anak Nasional 2026 di Kota Malang diwarnai adanya kabar yang kurang mengenakkan. MF, seorang siswa di SDN Gadang 1  tidak naik ke kelas 6 padahal cukup berprestasi dengan nilai akademis yang bagus. Akibatnya, anak usia 12 tahun itu tidak mau masuk sekolah lagi, hingga kemarin. Kejadian ini pun menjadi perhatian publik.

    Rumsiah, orang tua MF mengakui,  sebelumnya anaknya memang sempat melakukan pelanggaran bersama teman. Namun ia menyayangkan tidak naik kelas anaknya ini disebutkan karena karakter, tanpa mempertimbangkan nilai akademis. Nilai akademis anaknya terbilang sangat bagus, karena mayoritas nilainya diatas 9 dan hanya satu saja nilai 8. Di absensi pun hanya sekali tidak masuk sekolah.

    “Akibatnya anak saya tidak mau sekolah karena tidak dinaikkan kelas. Kemudian anak saya juga merasa trauma, ketakutan. Karena masalah ini tidak hanya tidak naik kelas, dari bulan empat saya pernah dipanggil, tidak ada toleransi, jadi satu kali dipanggil langsung dikasih surat mau dikeluarkan dari sekolah,” ungkap Rumsiah didampingi suaminya, Jamaludin, Kamis (23/7)

    Tidak hanya itu, beredar pula informasi bahwa F tidak menerima pembelajaran ketika mendapatkan hukuman atas pelanggarannya. MF dibiarkan sendirian di perpustakaan sehingga tidak mendapatkan pelajaran dengan baik.

    Di sisi lain, Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah Disdikbud Kota Malang Muflikh Adhim memberi klarifikasi terhadap persoalan tersebut mewakili SDN Gadang 1. Adhim menyebut, sudah cukup lama memproses permasalahan tersebut.

    “Kajiannya sudah diproses sangat lama. Kami harap kerja sama orang tua dan sekolah, terutama orang tua untuk melakukan pembinaan. Karena mutlak sebagian besar waktunya ada di rumah untuk menjadikan anak anak ini berkarakter bagus,” urai Adhim.

    Menurut Adhim, sekolah memiliki kriteria untuk menaikkan dan meluluskan siswa. Proses penilaian juga telah dilakukan secara berimbang dan menyeluruh. Adhim menyebut, penilaian tidak hanya mencakup nilai akademik saja, tapi juga yang sangat penting justru adalah karakternya.

    “Nilai bagus, tapi karakternya tidak bagus, nanti seperti apa jadinya. Kita kan mencoba membentuk satu karakter yang baik, menjadikan lulusan yang baik, sehingga anak anak ini kedepannya menjadi anak yang berperilaku baik. Pintar itu nomor sekian. Ilmu tanpa adab bagaimana jadinya,” sebut Adhim.

    Sementara terkait dipisahkannya siswa tersebut di perpustakaan, Adhim menyebut hal tersebut masih dalam koridor pembinaan disiplin. Siswa yang bersangkutan disendirikan hanya sementara waktu agar tidak mempengaruhi siswa lain.

    “Tetap diberikan pembelajaran, sekaligus memberikan pembinaan. Bukan tidak mendapatkan pelajaran. Jadi pembelajarannya tetap, tapi diluar teman temannya,” tegas Adhim. (ian/jon)

  • 3.513 Seragam Gratis untuk Siswa Prasejahtera

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Pemerintah Kota Malang mulai menyalurkan bantuan seragam sekolah gratis bagi siswa baru tahun ajaran 2026/2027. Berbeda dengan tahun lalu yang menyasar seluruh siswa baru, program kali ini diprioritaskan bagi keluarga prasejahtera yang masuk kelompok desil 1 hingga desil 4 sebagai dampak penyesuaian anggaran.

    Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Kamis (23/7). Total sebanyak 3.513 stel seragam disiapkan untuk siswa kelas 1 SD dan kelas 7 SMP, baik di sekolah negeri maupun swasta.

    Wahyu Hidayat menjelaskan, setiap penerima memperoleh dua jenis seragam, yakni seragam Pramuka dan seragam identitas sekolah. Untuk siswa SD berupa seragam merah putih, sedangkan siswa SMP menerima seragam putih biru. Bantuan juga dilengkapi atribut berupa topi. Seluruh bantuan diberikan dalam bentuk bahan kain.

    “Perbedaannya dengan tahun kemarin, karena memang terkait efisiensi anggaran, kami memprioritaskan mereka yang masuk keluarga prasejahtera atau kelompok desil 1 sampai desil 4. Kami cek semuanya agar tepat sasaran,” ujar Wahyu.

    Ia mengakui, anggaran program seragam gratis tahun ini mengalami penurunan cukup tajam. Jika pada 2025 Pemkot mengalokasikan sekitar Rp6 miliar, tahun ini anggarannya hanya Rp1,5 miliar sehingga bantuan tidak lagi dapat diberikan kepada seluruh siswa baru.

    Rinciannya, sebanyak 2.013 stel disiapkan untuk siswa kelas 1 SD dan 1.500 stel bagi siswa kelas 7 SMP. Menurut Wahyu, seluruh siswa dari keluarga kurang mampu, baik yang bersekolah di lembaga negeri maupun swasta, tetap menjadi sasaran program tersebut.

    “Yang sekarang ini kami pilah sesuai data desil yang masuk, baik negeri maupun swasta ada. Kami pastikan agar tepat sasaran,” tegasnya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana menjelaskan, proses penentuan penerima dilakukan melalui pendataan wali murid. Orang tua yang masuk kategori desil 1 hingga 4 diminta mengisi formulir pengajuan, kemudian datanya diverifikasi bersama Dinas Sosial Kota Malang.

    Setelah dipastikan memenuhi kriteria, bantuan langsung didistribusikan ke masing-masing sekolah.

    “Begitu dipastikan mereka memang membutuhkan bantuan, baru kami dropping ke sekolah-sekolah. Sebenarnya barang sudah selesai sejak Juni, tetapi kami menunggu proses pendataan wali murid baru sekaligus memberikan penjelasan terkait efisiensi anggaran,” jelas Suwarjana.

    Ia juga menepis anggapan bahwa penyaluran bantuan terlambat dibanding dimulainya tahun ajaran baru. Menurutnya, distribusi masih berlangsung pada masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) sehingga belum mengganggu aktivitas belajar siswa.

    Disdikbud juga memberikan keleluasaan kepada sekolah terkait penggunaan seragam baru.

    “Kami tidak mematok kapan siswa harus mulai memakai seragam baru. Sampai sekarang saya memberi kebijakan kepada sekolah, baik negeri maupun swasta, tidak ada batasan waktu penggunaan seragam baru,” pungkasnya. (ian/aim)

  • Kukuhkan Dewan Pendidikan Kota Malang, Fokus Jaga Mutu Pendidikan dan Cegah Bullying

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, resmi mengukuhkan jajaran pengurus Dewan Pendidikan Kota Malang di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV), Kamis (23/7). Dalam pengukuhan tersebut, Wahyu menekankan pentingnya peran strategis Dewan Pendidikan sebagai mitra pemerintah dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Malang.

    Ia menjelaskan, pengurusan Dewan Pendidikan periode kali ini diisi oleh wajah-wajah baru dari beragam latar belakang, mulai dari perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta, pemerhati pendidikan, hingga para pelaku pendidikan, dengan hanya menyisihkan satu orang pengurus dari periode sebelumnya.

    MPM-DANA

    “Kami berharap pengurus baru ini dapat meneruskan kolaborasi, kemitraan, pendampingan, serta pergerakan pendidikan yang sudah berjalan baik sebelumnya,” ujar Wahyu, usai prosesi pengukuhan.

    Ia menambahkan, keberadaan Dewan Pendidikan yang heterogen ini diharapkan mampu memberikan masukan konstruktif bagi Pemerintah Kota Malang. Sehingga turut berkontribusi dalam mempertahankan predikat Kota Malang sebagai Kota Pendidikan yang menjadi rujukan nasional.

    Apalagi, Wahyu menyebut Kota Malang ini didukung oleh demografi yang kondusif, fasilitas yang lengkap, serta institusi pendidikan berkualitas dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi, baik umum maupun berbasis keagamaan. Untuk prioritas kerja kedepan, Wahyu menyoroti pentingnya untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang telah ada.

    Dari aspek akademik, selama ini Kota Malang sebenarnya telah berada pada posisi unggul. Hal ini seperti ditunjukkan dalam berbagai indikator seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan capaian nilai TKA (Tes Kemampuan Akademik) tertinggi di Jawa Timur beberapa waktu kemarin. Namun, peran Dewan Pendidikan sangat dibutuhkan untuk peningkatan kualitasnya.

    “Walaupun sebenarnya prestasi siswa dan mahasiswa di Kota Malang ini secara umum sudah baik, tapi masukan dari pakar pendidik dari Dewan Pendidikan ini penting bagi kami. Sehingga kualitas pendidikan di Kota Malang kedepannya akan makin baik,” tutur Wahyu.

    Termasuk, yang tidak boleh ketinggalan untuk menjadi perhatian khusus Dewan Pendidikan adalah adanya kasus kekerasan anak yang notabene justru terjadi di lingkungan sekolah. Berdasarkan data dari Kementerian PPA, 71 persen kasus kekerasan anak, kebanyakan terjadi di lingkungan yang bernafas pendidikan. Sehingga harus ada upaya pencegahan kekerasan dengan kerjasama dan sinergi lintas sektor.

    “Kami berharap nanti kita saling berjalan, juga bisa menekan, terkait perundungan anak, bullying dan hal-hal yang lain yang akhirnya mempengaruhi terkait dengan tempat pendidikan yang ada di Kota Malang,” tutupnya. (ian/aim)

    Anggota Dewan Pendidikan Kota Malang Periode 2026-2030

    1. Tri Oky Rudianto Prastijo, S.E., M.Si.;

    2. Dr. Ir. Aladin Eko Purkuncoro, S.T., M.T.;

    3. Wahyu Widodo, S.H., M. Hum, Ph.D.;

    4. Muchammad Fahazza, S.T.;

    5. Ir. Maria Anisa, S.T., M.M., C.SS.C.Pst., C.PS., C.CL;

    6. Arif Subekti, S.Pd., M.A.;

    7. Khalikussabir, S.E., M.M.;

    8. Dodik Teguh Pribadi, M.Pd;

    9. Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, MA;

    10. Drs. Syamsul Arifin, M.Ed.;

    11. Prof. Ir. Ratih Indri Hapsari, S.T., M.T., Ph.D., IPM, ASEAN Eng.

  • Bergulir di Meja Hijau, MPD Kawal Kasus Kekerasan Seksual oleh Ayah Tiri

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Sidang perdana kasus dugaan kekerasan yang menimpa Bunga (14), anak di bawah umur, mulai bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (23/7). Persidangan kemarin berfokus pada pemeriksaan saksi korban, pelapor, serta sejumlah saksi lainnya.

    Kasus yang mulai terungkap pada awal tahun ini dikawal penuh oleh berbagai elemen. Salah satunya dari Malang Peduli Demokrasi (MPD) yang ikut berangkat ke PN Surabaya bersama penasihat hukum, perwakilan keluarga korban serta Kadinsos Kota Malang.

    Kuasa hukum korban, Gunadi Handoko menjelaskan, persidangan kemarin menghadirkan tiga orang saksi dari pihak korban dan pelapor untuk tahap pembuktian awal.

    “Ini merupakan sidang pertama untuk pembuktian, di mana kami mendampingi pihak korban dan pelapor. Setelah ini agenda berikutnya akan dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi lainnya,” terang Gunadi

    Kasus kekerasan seksual ini bermula saat korban berusia 10 tahun dan berkenalan dengan seorang pria berinisial T yang menjadi ayah tirinya. Kejadian kekerasan itu ditengarai mulai terjadi usai perkenalan tersebut dan berlangsung selama empat tahun sampai saat ini berusia 14 tahun.

    Korban yang masih dibawah umur ini merasa tertekan dan memilih bungkam. Kasus ini baru terungkap setelah sang ibu melihat gelagat dan perilaku korban yang tidak wajar. Ibunya pun kemudian melaporkan ke Polrestabes Surabaya, meski domisilinya diakui berpindah pindah, terkadang di Gresik, Malang dan Surabaya.

    “Kami berharap pengadilan bisa mengambil keputusan yang setimpal dengan perbuatannya karena ini sangat biadap. Bayangkan masih 10 tahun kan tidak tahu apa apa,” beber dia.

    RF, perwakilan keluarga korban menyampaikan, kondisi korban saat ini masih trauma dan dilakukan pendampingan oleh Dinsos dan kepolisian. Sementara ini korban tidak masuk sekolah, tapi akan belajar secara homeschool.

    “Alhamdulillah Pemkot Malang cepat, dari Gresik langsung dipindah ke Kota Malang dalam sehari saja. Sekarang sudah aman di Malang,” tutur RF.

    Sementara itu, Presiden Malang Peduli Demokrasi (MPD), Imam Muslich mengaku akan terus mengawal kasus tersebut. Berkat sinergi yang baik dengan berbagai pihak, kasus ini bisa berjalan sangat baik.

    “Saya merasa, ini menjadi sesuatu yang harus saya bantu. Untuk kasus seperti ini, saya rasa ini yang paling cepat sepertinya. Saya sangat respek atas kerja sama dari Mbak Yaqud Ananda, Pak Gunadi, maupun pihak kepolisian yang luar biasa,” sebut dia.

    Sementara itu, Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Donny Sandito menegaskan, pihaknya sangat berkomitmen dalam mencegah dan memerangi kekerasan terhadap anak. Selain akan terus mengawal kasus tersebut, pihaknya juga akan mendampingi dan memenuhi hak korban. 

    “Berapapun laporannya kami tidak peduli, yang penting kami bisa menyelamatkan korban. Jadi untuk menyelamatkan korban, pemenuhan hak korban, sehingga korban bisa cepat pulih dan bisa melaksanakan aktivitas seperti sediakala,” tandasnya. (ian/aim)