Tag: ian

  • Pemkot Malang Bagikan 3.513 Stel Seragam Gratis

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Setelah beberapa waktu berjalan untuk proses verifikasi penerima, Pemkot Malang resmi menyerahkan bantuan seragam sekolah gratis, yang dibagikan secara simbolis, Kamis (23/7). Berbeda dari tahun sebelumnya, bantuan tahun ini diprioritaskan bagi keluarga prasejahtera atau kelompok desil 1 hingga desil 4, menyusul adanya efisiensi anggaran.

    Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menjelaskan, paket seragam gratis terdiri dari dua jenis seragam. Yakni seragam Pramuka dan seragam identitas sekolah, yaitu merah putih untuk jenjang SD dan putih biru untuk SMP, lengkap dengan atribut topi. Kesemuanya berupa bahan kain seragam.

    “Perbedaan dengan yang tahun kemarin, karena memang terkait dengan efisiensi, kami memprioritaskan kepada mereka yang masuk dalam keluarga prasejahtera atau kelompok desil 1 sampai desil 4. Kami cek itu semua agar mereka tepat sasaran,” terang Wahyu.

    Wahyu mengungkapkan, penyesuaian anggaran tahun ini untuk seragam gratis pun memang cukup signifikan, yakni dari Rp 6 Miliar pada 2025 menjadi Rp 1,5 Miliar di tahun ini. Hal ini membuat penyaluran tidak lagi bisa merata kepada semua siswa baru seperti tahun kemarin.

    Secara rinci, untuk jenjang kelas 1 SD dibagikan sebanyak 2.013 stel seragam dan 1.500 stel untuk siswa kelas 7 SMP. Sehingga totalnya yakni 3.513 stel seragam gratis. Wahyu memastikan, semua siswa dari keluarga kurang mampu baik sekolah negeri maupun swasta, akan mendapatkannya.

    “Yang sekarang ini kami pilah sesuai dengan data desil yang masuk, baik negeri maupun swasta ada. Kami pastikan agar tepat sasaran,” tegas Wahyu.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana menjelaskan, mekanisme penyaluran bantuan dilakukan melalui pendataan wali murid. Para wali murid yang termasuk desil 1 sampai 4 sebelumnya telah diminta mengisi formulir pengajuan, yang selanjutnya dikonfirmasi bersama Dinas Sosial (Dinsos).

    “Begitu dipastikan mereka memang butuh bantuan, baru kami dropping ke sekolah-sekolah. Sebenarnya barang sudah jadi sejak Juni, hanya saja kami menunggu proses pengumpulan data wali murid baru dan butuh penjelasan ke mereka terkait efisiensi,” jelas Suwarjana.

    Ia juga menampik anggapan bahwa penyaluran bantuan terlambat dari momen tahun ajaran baru. Menurutnya, penyerahan seragam gratis ini masih relatif tepat waktu karena masih berlangsung masa orientasi siswa atau MPLS

    “Kami juga tidak mematok kapan siswa harus sudah memakai seragam baru. Sampai sekarang pun saya memberi kebijakan kepada sekolah, baik negeri maupun swasta, tidak ada batasan waktu penggunaan seragam baru,” pungkasnya. (ian/aim)

  • Ternyata Banyak Sekolah Rusak di Kota Malang, Kini Baru Mulai Direnovasi

    MALANG POSCO MEDIA-Ternyata masih banyak sekolah rusak di Kota Malang. Pun butuh anggaran besar untuk renovasi. Bayangkan dari 90-an yang mendaftar, 83 sekolah yang rencananya mendapatkan perbaikan tahun ini. (baca grafis di Koran Malang Posco media)

    Untuk merenovasi sekolah rusak itu, butuh bantuan anggaran. Tidak hanya melalui program rehabilitasi dari pemerintah pusat tapi juga perbaikan dari daerah.

    Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah Disdikbud Kota Malang Muflikh Adhim menyebut, salah satu sekolah yang masuk program perbaikan yakni  SDN Purwantoro 4 Malang. Sekolah tersebut menjadi prioritas karena tingkat kerusakannya yang cukup berat.

    “Itu yang prioritas dan harus segera ditangani. Karena kuda-kuda atapnya ambruk. Jadi kami lakukan perbaikan,” jelas Adhim, Rabu (22/7) kemarin.

    Adhim menyebut, alokasi untuk perbaikan sekolah di APBD 2026 sangat terbatas, yakni hanya sekitar Rp 1 miliar. Jika mengacu besaran tersebut, maka hanya ada lima sekolah yang dilakukan perbaikan. Itu pun, Adhim menyebut alokasi dana bersifat stimulan itu khusus untuk sekolah yang sudah mendesak.

    “Jadi APBD kita hanya menangani yang mendesak, sangat mendesak. Contohnya plafonnya mau ambrol, kuda-kudanya yang rusak, yang membahayakan. Yang sekiranya kalau dipakai itu membahayakan,” jelas Adhim.

    Oleh karena itu, pihaknya sejak awal tahun ini telah mendorong sekolah sekolah yang mengalami kerusakan berat untuk mendaftar dan mengajukan rehabilitas sekolah ke pusat. Adhim menyebut, setelah sekolah mendaftar lewat Dapodik disertai data kerusakan, pemerintah kemudian melakukan verifikasi.

    “Dari 90-an yang mendaftar, hasilnya ada sebanyak 83 sekolah yang rencananya mendapatkan perbaikan tahun ini,” beber Adhim.

    Melalui program tersebut, jenis perbaikan akan menyesuaikan dengan tingkat kerusakan. Bisa hanya berupa perbaikan sebagian sesuai bagian yang rusak. Tapi jika memang kerusakan sudah terlalu parah, memang dimungkinkan bisa membangun baru.

    “Tapi yang dimaksud bangun baru itu bukan bangun sekolahnya baru, bukan. Tapi ada bangun kelas baru begitu ya. Salah satu contoh seperti kemarin itu di sekolah swasta, saya lupa. Jadi semua sekolah bisa, baik negeri maupun swasta, dari TK, SD, SMP,” tutup Adhim. (ian/van)

  • Akmal dan Asyifa Sulap Limbah Biji Mangga Jadi Minyak Goreng Alternatif

    Perjuangan Riset Arek Malang hingga Sukses Ciptakan Inovasi

    Hari ini Peringatan Hari Anak Nasional (HAN). Anak-anak Kota Malang punya prestasi luar biasa. Prestasi karena inovasi yang berdampak nyata bagi dunia. Itu dibuktikan Muhammad Ibnu Akmal Zahi dan Asyifa Nuriya Zahra, dua pelajar berprestasi dari  MAN 2 Malang.

    MALANG POSCO MEDIA-Berbekal rasa ingin tahu yang tinggi, kepedulian terhadap lingkungan, serta ketekunan luar biasa, Ibnu Akmal Zahi dan Asyifa Nuriya Zahra berhasil membuat inovasi yang cukup revolusioner.

    Yakni mengubah limbah biji mangga menjadi minyak goreng alternatif yang diberi nama Arum Oil. Inovasi brilian ini sukses mengantarkan mereka meraih Silver Medal (Medali Perak) dalam ajang bergengsi International Student Festival yang dihelat pada 4-6 Juli 2026.

    Sekitar awal 2025 lalu, Akmal dan Asyifa merasa gelisah melihat tingginya ketergantungan masyarakat terhadap minyak kelapa sawit. Dari situlah, Akmal dan Asyifa mulai melakukan riset. 

    “Kami mencari lebih dalam, apa solusi yang jarang disediakan untuk mengatasi masalah itu,’’ kata Akmal.

    Apalagi mereka ingin  minyak yang digunakan memiliki banyak manfaat. “Jadi kami mencoba mencari bahan lain yang bisa dijadikan alternatif,” sambung Akmal.

    Mereka kemudian menemukan ide ‘random’ ketika melirik tumpukan biji mangga di belakang madrasah tempat sekolah. Biji mangga itu berasal dari para pedagang jus buah. Melihat tumpukan limbah terbuang begitu saja, Akmal dan Asyifa langsung melakukan riset lebih jauh.

    “Kami melihat biji mangga itu kayak nggak terpakai dan langsung dibuang. Dari situ kami langsung mencari, kira-kira biji mangga ini apakah memang betul berpotensi sebagai minyak goreng atau tidak,” tambah  Asyifa, gadis kelahiran 10 Oktober 2008 tersebut.

    Sejak saat itulah, rasa penasaran itu berlanjut ke  riset mendalam terhadap biji mangga di   laboratorium. Dua remaja ini bahkan melakukan riset di Universitas Brawijaya (UB) dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

    Mereka menerapkan metode modern UAE (Ultrasound-Assisted Extraction) agar proses ekstraksi minyak dari biji mangga berjalan lebih efektif. Tantangan demi tantangan, mulai dari keterbatasan bahan baku musiman hingga rumitnya proses uji laboratorium, mereka hadapi dengan telaten.

    Perjuangan pun belum selesai. Akmal dan Asyifa harus menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti lomba yang digelar di Lombok, NTB itu. Dari Malang ke Lombok rela naik bus.

    Jerih payah itu pun akhirnya berbuah manis ketika hasil laboratorium menunjukkan bahwa minyak goreng dari biji mangga itu tidak hanya jernih dan layak pakai, tetapi juga memiliki tekstur unik yang potensial digunakan sebagai margarin sehat.

    “Di situ terdapat senyawa-senyawa yang unggul, saking banyaknya saya lupa dan itu menjadikan minyak biji mangga ini lebih bagus daripada kelapa sawit. Hasil dari ekstrak minyaknya pun lebih jernih,” beber Asyifa, alumnus MTsN 2 Kota Malang tersebut.

    Hasil inovasi ini pun terbukti sukses ketika diangkat dalam lomba esai tingkat internasional. Akmal dan Asyifa sukses meraih juara kedua atau meraih medali perak di International Student Festival pada 4-6 Juli 2026 lalu. Meski berhasil meraih predikat juara, mereka tidak jumawa dan mengakui masih ada tantangan yang menjadi PR mereka.

    “Untuk mencari mangga juga kesusahan karena tergantung musim. Jadi, ini apakah bisa dijadikan buat alternatif? Belum bisa, soalnya dari bahannya   masih bermusim, ” kata Akmal, alumnus SMP Islam Sabilillah tersebut.

    Oleh karenanya, kedepan ini, mereka belum muluk-muluk ingin langsung produksi massal dan mengkomersilkan inovasinya. Sebaliknya, keduanya masih ingin melakukan riset lebih jauh untuk menyempurnakan inovasinya.

    “Kami masih ingin coba-coba, apa yang bisa diperbaiki dan disempurnakan lagi. Terutama jumlah mililiternya, karena kami merasa masih sedikit. Kami ingin evaluasi itu, kami ingin mendapatkan hasil yang lebih, supaya bisa dikonsumsi dengan lebih baik oleh masyarakat,” tutur Akmal.

    Terlepas dari itu, perjuangan dan perjalanan riset kedua anak bangsa ini adalah bukti dan potret nyata tentang apa yang bisa dicapai anak-anak Indonesia ketika potensi mereka diwadahi dengan tepat. Dukungan penuh dari pihak madrasah dan keluarga menjadi kunci penting dalam menumbuhkan iklim inovasi sejak dini.

    Di momen Hari Anak yang diperingati pada 23 Juli ini, pencapaian dua remaja MAN 2 Malang tersebut menjadi pengingat berharga bagi semua pihak. Yakni bahwa anak-anak bukan sekadar penerima masa depan, melainkan arsitek masa depan itu sendiri.

    Dari biji mangga yang dibuang di tempat sampah, Akmal dan Asyifa telah mengajarkan bahwa tangan-tangan muda mampu mengubah hal yang remeh menjadi sesuatu yang bernilai emas.

    “Semoga ke depannya tidak hanya biji mangga yang bisa dijadikan minyak goreng, semoga bisa ditemukan bahan-bahan lain yang lebih mudah ditemukan untuk menjadi alternatif. Semoga inovasi ini nanti juga bisa memberikan manfaat lebih kepada masyarakat,” pungkas Akmal, Arek Malang kelahiran 12 Juni 2009 ini. (ian/van)

  • Gantangan Lowokdoro Butuh Anggaran Rp 20 Miliar

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG –Pengembangan kawasan Wisata Gantangan Malang Satu Titik di Lowokdoro Kota Malang belum dapat dilakukan secara maksimal. Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang masih membutuhkan anggaran sekitar Rp 20 miliar untuk menyelesaikan pembangunan sesuai grand design yang telah disusun.

    Kepala Disporapar Kota Malang, Baihaqi menyampaikan, dari total Rencana Anggaran Biaya (RAB) grand desain awal gantangan tersebut sekitar Rp 25 miliar hingga Rp 30 miliar. Namun sampai saat ini anggaran hanya sejumlah Rp 6 miliar saja.

    “Karena efisiensi belanja, kami belum bisa lagi menyentuh ke sana dan tahun depan juga belum ada. Tapi tidak mangkrak, gantangan itu masih aktif, bahkan ada kegiatan rutin,” ujar Baihaqi kepada Malang Posco Media, Rabu (22/7)

    Dengan anggaran yang ada, Baihaqi menyampaikan pihaknya memilih untuk memfokuskan alokasi dana pada perbaikan dan penataan lahan. Beberapa prioritas perbaikan tersebut nanti meliputi pemerataan kontur tanah, pengaspalan atau pavingisasi area parkir, penambahan pagar, serta pembangunan fasilitas pendukung seperti paddock, tempat istirahat burung sementara, dan penambahan pohon penghijauan.

    Meski pembangunan fisik belum optimal, Baihaqi menyebutkan bahwa aktivitas di Gantangan Lowokdoro tetap berjalan. Agenda rutin lomba burung telah tersaji secara berkala di hari tertentu.

    “Hari Senin biasanya itu untuk latihan-latihan. Lalu ada rutin di hari Rabu, Jumat dan Sabtu. Jadi tiap Senin, Rabu, Jumat, Sabtu itu sudah ada agenda rutin. Kejuaraan-kejuaraan lomba burung juga di sana,” sebut Baihaqi.

    Terkait adanya pembuangan sampah liar oleh oknum masyarakat di sekitar lokasi hingga kembali viral di media sosial, Baihaqi memastikan telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang untuk melakukan penanganan serta pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Termasuk, pihaknya juga telah memantau dan mengantongi identitas terduga oknum yang sering membuang sampah di lokasi tersebut.

    “Alhamdulillah ini dalam proses dan kami sudah koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup. Ada upaya-upaya untuk menanggulangi jangan sampai ada pembuangan sampah di sana,” pungkas Baihaqi. (ian/aim)

  • Viral Tong Sampah Alun-Alun Merdeka Rusak, DLH Ganti Tong Dorong

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang bergerak cepat menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait tong sampah rusak di Alun-Alun Merdeka yang sempat viral di media sosial. Fasilitas pembuangan sampah yang jebol tersebut kini telah dibongkar dan diganti dengan tong sampah dorong yang dinilai lebih praktis dan mudah dikelola.

    Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengatakan tong sampah yang menjadi sorotan publik merupakan fasilitas lama. Bahkan, beberapa hari sebelum viral, tong tersebut sudah dibersihkan dan dikembalikan ke lokasi saat pelaksanaan Gerakan Indonesia Asri. Namun, karena berada di ruang publik yang digunakan masyarakat selama 24 jam, kerusakan tetap terjadi di luar pengawasan petugas.

    “Itu memang tong sampah lama. Sebetulnya kemarin saat kegiatan Gerakan Indonesia Asri sudah kami bersihkan dan kami kembalikan. Tapi kami memang tidak bisa mengawasi selama 24 jam sehingga ditemukan ada kerusakan,” ujar Raymond saat dikonfirmasi, Selasa (21/7).

    Menindaklanjuti kondisi tersebut, DLH langsung membongkar tong sampah permanen yang rusak dan menggantinya dengan tong sampah dorong. Menurut Raymond, satu unit tong sampah permanen yang dilepas diganti dengan tiga unit tong sampah dorong yang ditempatkan di sekitar lokasi.

    “Jadi kami lepas tong sampah yang tertancap permanen, lalu kami gantikan dengan tong dorong. Yang kami bongkar satu unit, kami ganti tiga tong dorong di lokasi sekitar,” katanya.

    Raymond memastikan seluruh tong sampah lama yang kondisinya rusak dan sempat menjadi perbincangan di media sosial kini sudah tidak lagi digunakan. Penggantian ke sistem tong dorong juga diharapkan mempermudah petugas kebersihan dalam mengangkut sampah sekaligus memudahkan masyarakat saat membuang sampah.

    Saat ini, DLH telah menyiagakan sekitar 15 unit tong sampah dorong berwarna kuning di kawasan Alun-Alun Merdeka. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu menjaga kebersihan salah satu ruang publik utama di Kota Malang yang setiap hari ramai dikunjungi warga maupun wisatawan.

    Selain mengganti fasilitas, DLH juga memperketat pengawasan di kawasan tersebut. Petugas kebersihan diminta rutin memantau kondisi tong sampah dan segera melaporkan apabila ditemukan kerusakan agar dapat segera ditangani.

    “Petugas juga sudah kami minta untuk secara rutin melakukan pengawasan dan segera melaporkan jika terjadi kerusakan,” pungkas Raymond. (ian/aim)

  • Rp 7 Miliar Diusulkan untuk Rehabilitasi Jalan Rajasa

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Harapan perbaikan menyeluruh Jalan Rajasa semakin terbuka. Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPUPRPKP) Kota Malang mengusulkan rehabilitasi jalan tersebut melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah dengan nilai bantuan sekitar Rp 7 miliar.

    Usulan rehabilitasi bahkan telah melewati tahap verifikasi di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur. Kini, proposal tersebut memasuki proses verifikasi lanjutan di tingkat kementerian untuk menentukan kelayakan memperoleh pendanaan dari pemerintah pusat.

    Kepala DPUPRPKP Kota Malang Dandung Julhardjanto mengatakan, jika seluruh tahapan dapat dilalui, Kota Malang berpeluang memperoleh bantuan sekitar Rp 7 miliar untuk membenahi ruas Jalan Rajasa.

    “Sekarang prosesnya sedang di kementerian. Mudah-mudahan kalau nanti lolos, ada potensi mendapatkan bantuan dari Inpres Jalan Daerah sekitar Rp 7 miliar,” ujar Dandung, Selasa (21/7).

    Menurut Dandung, usulan rehabilitasi Jalan Rajasa sebenarnya bukan kali pertama diajukan. Pada tahun sebelumnya, proposal serupa belum berhasil memperoleh pendanaan karena kalah bersaing dengan usulan dari daerah lain. Tahun ini, Pemkot Malang kembali mengusulkan proyek tersebut dengan harapan peluangnya lebih besar.

    Ruas yang diajukan untuk direhabilitasi memiliki panjang sekitar 700 meter di masing-masing sisi jalan. Karena Jalan Rajasa merupakan jalan kembar, total panjang penanganan mencapai sekitar 1,4 kilometer, mulai simpang empat dekat Jembatan Pasar Gadang hingga simpang tiga Jalan Mayjen Sungkono.

    Tak hanya memperbaiki permukaan jalan, proyek tersebut juga dirancang mencakup pembangunan sistem drainase agar kerusakan jalan tidak mudah kembali terjadi.

    “Termasuk nanti juga lengkap dengan pengerjaan drainase. Jadi memang satu paket di sana nanti,” tegasnya.

    Untuk metode pekerjaan, DPUPRPKP mengusulkan rehabilitasi menggunakan sistem overlay atau pelapisan ulang aspal. Awalnya, ketebalan pelapisan direncanakan dua lapis. Namun setelah dilakukan penilaian teknis, kondisi jalan dinilai masih cukup baik sehingga cukup dilakukan overlay satu lapis.

    “Dari hasil penilaian kondisi jalannya masih dinilai cukup baik sehingga cukup satu lapis saja. Yang jelas semoga prosesnya lancar dan bantuan itu bisa kita dapatkan,” pungkas Dandung.

    Apabila usulan tersebut disetujui pemerintah pusat, rehabilitasi Jalan Rajasa diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan sekaligus memperlancar arus lalu lintas di kawasan selatan Kota Malang yang menjadi salah satu jalur penghubung menuju wilayah industri dan perdagangan. (ian/aim)

  • Festival Mbois 11 Digelar di Stadion Gajayana, Bidik Perputaran Ekonomi Kreatif Rp 50 Miliar

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Festival Mbois 11 kembali hadir sebagai panggung terbesar bagi pelaku ekonomi kreatif di Kota Malang. Tahun ini, ajang yang digagas Malang Creative Fusion (MCF) berkolaborasi dengan Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Pemerintah Kota Malang itu akan digelar di Stadion Gajayana pada 21–23 Agustus 2026 dengan target perputaran ekonomi mencapai Rp 50 miliar.

    Berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya yang dipusatkan di Malang Creative Center (MCC), Festival Mbois 11 kali ini mengusung tema “Malang Menyala” dan memilih Stadion Gajayana sebagai lokasi utama. Stadion yang telah berusia sekitar 100 tahun itu dinilai memiliki nilai historis sekaligus mampu menampung kegiatan berskala besar.

    Ketua Pelaksana Festival Mbois 11, Gedeon Soerja, mengatakan hingga saat ini sudah lebih dari 500 pelaku ekonomi kreatif Kota Malang dipastikan ambil bagian. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah menjelang pelaksanaan acara.

    “Setidaknya sampai saat ini sudah lebih dari 500 pelaku ekonomi kreatif Kota Malang yang akan terlibat. Itu pun masih akan berkembang terus, akan bertambah terus,” ujar Gedeon saat Taklimat Media Festival Mbois 11 di MCC, Selasa (21/7) malam.

    Selama tiga hari pelaksanaan, festival akan menghadirkan beragam agenda dari 17 subsektor ekonomi kreatif. Mulai kompetisi e-sport, lomba vokal, konferensi internasional, business matching, hingga pameran produk kreatif.

    Dari sisi hiburan, panggung musik akan diisi genre yang berbeda setiap harinya. Hari pertama menampilkan band-band lokal Malang, hari kedua menghadirkan Iksan Skuter, sedangkan hari ketiga dimeriahkan musisi etnik Arca Tatasawara.

    Untuk meningkatkan jumlah kunjungan, panitia juga menyiapkan rangkaian kegiatan olahraga. Yakni Fun Walk bersama Dekopin dengan target 10 ribu peserta dan Fun Run bersama KONI yang juga membidik 10 ribu peserta. Selain itu, pelajar dari berbagai sekolah di Kota Malang turut akan dilibatkan melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan.

    Besarnya jumlah pengunjung tersebut menjadi dasar optimisme panitia terhadap dampak ekonomi yang akan tercipta selama festival berlangsung.

    “Kami memprediksi minimum perputaran uang mencapai Rp 50 miliar. Itu berasal dari penjualan tiket, transaksi produk UMKM dan ekonomi kreatif, hingga tiket konser,” jelas Gedeon.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi menegaskan pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Festival Mbois 11.

    Menurutnya, pemilihan Stadion Gajayana bukan hanya karena kapasitasnya yang memadai, tetapi juga sebagai upaya mengangkat kembali nilai sejarah stadion tertua di Indonesia yang kini memasuki usia satu abad.

    “Momentum ini ingin menunjukkan nilai sejarah Stadion Gajayana sekaligus membangkitkan seluruh stakeholder di Kota Malang untuk terus membangun kreativitas yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi kreatif,” katanya.

    Festival Mbois 11 juga akan melibatkan berbagai kementerian, di antaranya Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi, serta Utusan Khusus Presiden yang berkolaborasi dengan Pemkot Malang dan komunitas ekonomi kreatif.

    Baihaqi optimistis Stadion Gajayana siap menjadi tuan rumah festival tersebut. Pengalaman menjadi lokasi berbagai agenda berskala nasional, termasuk peringatan Harlah NU yang dihadiri lebih dari 100 ribu orang, menjadi modal penting untuk menyukseskan Festival Mbois 11.

    “Kami bersama OPD terkait siap mendukung agar Festival Mbois 11 berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata bagi ekonomi kreatif Kota Malang,” pungkasnya. (ian/aim)

  • Akses Dibuka Tutup, Pemkot Tetap Lanjut Rencana Uji Coba Jalan Tembus Griya Shanta

    MALANG POSCO MEDIA – Hanya berselang beberapa hari setelah Pemkot Malang berencana melakukan uji coba jalan tembus, warga Perum Griyashanta  melakukan pembatasan di akses utama.

    Pembatasan dengan sistem buka tutup itu menyusul hasil musyawarah warga RW 12 Griya Shanta yang digelar di Masjid Ramadhan Griyashanta, Minggu (19/7) lalu.

    Berdasarkan berita acara bernomor 302/BA/RW.12/GS/VII/2026, warga menegaskan proses hukum akan tetap dilanjutkan melalui banding, kasasi, hingga gugatan PTUN untuk memperkuat sikap penolakan jalan tembus.

    “Sistem portal buka tutup ini berlaku sampai adanya putusan pengadilan dengan berkekuatan hukum tetap,” tegas Ketua RW 12 Kelurahan Mojolangu Perum Griyashanta,
    Jusuf Thojib, Selasa (21/7) kemarin.

    Sistem portal buka-tutup di gerbang utama berlaku mulai awal pekan kemarin dengan jadwal buka pukul 06.00-08.00 WIB dan 15.00-17.00 WIB, serta tutup pukul 08.00-15.00 WIB dan 17.00-06.00 WIB.

    Langkah ini ditegaskan tetap memberikan akses bagi siswa SMPN 18, SD-SMP Insan Amanah, TK ABA, dan PAUD Omah Bocah yang ada di dalam komplek perumahan tersebut. Adapun aktivitas umum warga saat portal ditutup diarahkan melalui akses portal depan Masjid Ramadhan Griya Shanta.

    Menanggapi penutupan portal tersebut, Kepala Bagian Hukum Setda Kota Malang Suparno, memastikan rencana uji coba fungsional jalan tembus tetap berjalan pekan ini. Ia menegaskan akses jalan tembus yang tengah dipermasalahkan tersebut adalah kewenangan Pemkot Malang.

    “Gak masalah, karena jalan tersebut statusnya sudah aset Pemkot Malang, sudah jalan umum. Nanti akan kami koordinasikan dengan Dishub, Satpol PP seperti apa tindak lanjutnya kalau terjadi penutupan jalan yang memang aksesnya jalan umum,” ujar Suparno.

    Ia menambahkan, untuk rencana uji coba saat ini masih menunggu kelengkapan infrastruktur jalan, seperti penyempurnaan marka dan penambahan penerangan jalan umum (PJU). Uji coba rencananya dilakukan di sisi barat jalan, yang menurutnya masih memiliki akses keluar lain sehingga tidak akan menutup total akses warga.

    “Kami selalu mengedepankan komunikasi baik-baik. Nanti akan kami komunikasikan juga dengan pak RW, dengan masyarakat, supaya bisa dibuka,” tambahjya.

    Suparno menjelaskan, proses hukum terkait jalan tembus tersebut akan berjalan paralel dengan rencana uji coba. Namun ia menegaskan Pengadilan Negeri sudah memutus perkara, dan putusan banding yang keluar pada 9 Juli 2026 tetap menguatkan putusan PN. Saat ini warga disebut telah mengajukan kasasi.

    “Tetapi itu sudah aset Pemkot, makanya kami berani mengajukan uji coba. Gak masalah proses hukum tetap berjalan, uji coba juga berjalan,” tegasnya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Widjaja Saleh Putra menyampaikan, saat ini di jalan tembus tersebut masih dipasang sejumlah alat kelengkapan jalan. Pada Selasa (11/7) kemarin, pihaknya telah menyelesaikan pemasangan pembatas kendaraan berukuran besar.

    “Tinggal memasang spanduk atau papan informasi terkait jalan tembus di situ. Kami upayakan secepatnya karena uji coba masih tetap sesuai rencana,” tandasnya. (ian/van)

  • Belanja Modal Hanya 8,54 Persen, DPRD Minta Naik hingga 15 Persen

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – DPRD Kota Malang menyoroti komposisi belanja dalam APBD Kota Malang Tahun Anggaran 2025 yang dinilai belum ideal untuk mendorong pembangunan. Pasalnya, belanja operasional masih mendominasi hingga 91,40 persen dari total realisasi belanja, sedangkan belanja modal hanya mencapai sekitar 8,54 persen.

    Catatan tersebut menjadi salah satu rekomendasi Badan Anggaran (Banggar) DPRD dalam Rapat Paripurna Penyampaian Laporan Hasil Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 yang digelar, Selasa (21/7).

    Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita mengatakan, rekomendasi tersebut merupakan bagian yang melekat dalam Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan wajib menjadi perhatian pemerintah daerah.

    Menurut perempuan yang akrab disapa Mia itu, rendahnya porsi belanja modal merupakan persoalan yang terus berulang hampir setiap tahun. Padahal, belanja modal memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur maupun penyediaan sarana pelayanan publik yang langsung dirasakan masyarakat.

    “Sekarang ini pencapaiannya masih 8 persen untuk belanja modal. Harapan kami, di dalam rekomendasi sudah kami sampaikan target belanja modal bisa berada di kisaran 10 sampai 15 persen paling tidak,” tegas Mia usai rapat paripurna.

    Ia menambahkan, DPRD akan mengawal implementasi rekomendasi tersebut melalui pembahasan perubahan APBD 2026 hingga penyusunan APBD 2027. Menurutnya, peningkatan belanja modal harus menjadi komitmen agar pembangunan daerah berjalan lebih optimal.

    “Nanti di penganggaran Perubahan APBD 2026 akan kami cek kembali. Kemudian kami tindak lanjuti juga pada pembahasan APBD 2027,” ujarnya.

    Sementara itu, Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menyatakan seluruh rekomendasi DPRD diterima sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan daerah. Menurut Ali, berbagai catatan dari legislatif akan menjadi acuan bagi seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), terutama dalam menyusun arah kebijakan APBD Tahun Anggaran 2027.

    “Catatan-catatan ini penting menjadi legitimasi bagi kita, sekaligus masukan dan kritik untuk memperbaiki anggaran APBD 2027,” katanya.

    Ali menjelaskan, penataan struktur belanja juga akan mengacu pada ketentuan Undang-Undang tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD). Pemkot Malang akan mengevaluasi kembali komposisi belanja agar semakin berpihak pada kebutuhan pembangunan dan peningkatan pelayanan publik.

    “Nanti tanggal 27 Juli diagendakan pandangan akhir fraksi dalam rangkaian pembahasan laporan pertanggungjawaban. Kami menunggu seluruh pandangan fraksi sehingga semua rekomendasi dapat kami tindak lanjuti,” tambahnya.

    Dalam rapat tersebut, turut disoroti besarnya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) APBD 2025 yang mencapai lebih dari Rp 300 miliar. Menurut Ali, besaran SiLPA dipengaruhi efisiensi pelaksanaan belanja sekaligus realisasi pendapatan asli daerah (PAD) yang melampaui target.

    Ia memastikan, anggaran tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung program-program prioritas yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, terutama pada sektor pendidikan dan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM).

    “Paling banyak akan terserap di pendidikan dan kesehatan. SPM itulah yang menjadi standar kami, pelayanan minimal yang kemudian menjadi keutamaan dan tentu kebutuhan-kebutuhan primer masyarakat,” pungkas Ali. (ian/aim)

  • Relokasi Tahap II Pasar Gadang Capai 95 Persen

    MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Pembangunan lokasi relokasi tahap II bagi pedagang Pasar Induk Gadang (PIG) Kota Malang terus dikebut. Hingga Senin (20/7), progres pengerjaannya diklaim telah mencapai sekitar 95 persen. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menargetkan area tersebut segera dapat ditempati agar proses penataan kawasan pasar berjalan sesuai rencana.

    Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sriyuliadi mengatakan, pekerjaan yang tersisa hanya penyelesaian atap dan pengecoran lantai. Secara umum, pembangunan telah memasuki tahap akhir.

    “Tinggal pasang atap sama pengecoran saja. Secara keseluruhan sudah hampir selesai,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (20/7).

    Menurut Eko, lokasi relokasi tahap II disiapkan untuk menampung hampir 700 pedagang yang hingga kini masih menempati lapak lama. Pemindahan pedagang menjadi prioritas agar pembangunan infrastruktur di kawasan Pasar Gadang dapat berjalan tanpa hambatan.

    Ia enggan menyebutkan tenggat waktu penyelesaian pembangunan. Namun, pihaknya memastikan proses pengerjaan akan dipercepat mengingat pembangunan dilakukan secara swadaya.

    “Pokoknya secepatnya. Tidak perlu bicara tanggal, karena ini anggarannya swadaya,” katanya.

    Relokasi pedagang menjadi bagian penting dari penataan kawasan Pasar Gadang. Setelah seluruh pedagang berpindah ke lokasi baru, pemerintah dapat melanjutkan pekerjaan perbaikan jalan yang didanai Dana Alokasi Khusus (DAK). Saat ini proyek tersebut telah dimulai dengan pembangunan saluran drainase.

    Eko menegaskan, begitu atap dan lantai di lokasi relokasi rampung, pedagang akan langsung dipindahkan secara bertahap. Terlebih, sebagian area di bagian depan telah siap digunakan.

    “Kalau atapnya sudah selesai dan lantainya sudah dipasang, langsung kita tempati. Yang bagian depan kan sudah siap,” pungkasnya. (ian/aim)