Mengukir Asa di Negeri Orang, Perjuangan Muhammad Alvin Ibnu Raffy Menembus Pintu Kampus Dunia
MALANG POSCO MEDIA-Rambutnya gondrong bak seorang rocker. Gayanya santai, senyumannya ramah. Itulah Muhammad Alvin Ibnu Raffy. Dia mahasiswa asal Malang yang berprestasi di luar negeri.
Muhammad Alvin Ibnu Raffy, arek Malang kelahiran 4 Februari 2006 yang sudah melalui panjangnya perjuangan sejak duduk di bangku sekolah. Dia mampu membuktikan bahwa mimpi besar anak daerah bisa menembus batas geografis hingga mendarat di panggung global. Berasal dari keluarga yang sederhana, Gen-Z satu ini membuktikan bahwa kesuksesan berasal dari kegigihan dan semangat juang yang tinggi.
Saat ini, Ibnu sapaannya, tercatat sebagai mahasiswa Sarah Lawrence College di Amerika Serikat. Sebuah kampus yang cukup bergengsi yang menjadi buah dari ketekunan, segudang prestasi, serta sederet penolakan yang pernah ia telan mentah-mentah.
Perjalanan Ibnu menuju bangku kuliah luar negeri tidak terjadi dalam semalam. Sejak belia, ia sudah menanamkan cita-cita tinggi untuk mengenyam pendidikan internasional demi mengharumkan nama Indonesia.
Langkah awalnya dimulai dengan aktif mengikuti berbagai perlombaan yang sesuai dengan minatnya, seperti kompetisi penelitian bergengsi seperti Karya Ilmiah Remaja (KIR).
“Awalnya saya dari dulu itu ikut lomba-lomba terlebih dahulu yang sesuai interest (ketertarikan) saya ya. Misalnya dulu itu sering ikut lomba penelitian seperti Karya Ilmiah Remaja. Jadi mungkin dari situ saya mulai terbiasa melakukan semacam riset dan sebagainya,” kata Ibnu mengenang awal perjalanannya.
Tekad kuat itu diiringi dengan aksi nyata. Sejak duduk di bangku kelas 10 di MAN 2 Malang, Ibnu langsung aktif memburu informasi dan mendaftarkan diri pada berbagai program beasiswa. Menurut Ibnu, dengan jalur sekolah gratis seperti inilah yang bisa memberinya peluang untuk belajar lebih luas lagi. Ia menyadari betul bahwa proses tersebut tidaklah instan dan membutuhkan mental yang tangguh.
Ibnu pun mencoba melamar sejumlah beasiswa. Dari sekian banyak pintu yang diketuk, sebagian besar berujung pada penolakan. Namun, ia memandang setiap penolakan bukan sebagai kegagalan akhir, melainkan sebuah proses yang sarat makna.
“Saya sebenarnya enggak terlalu banyak waktu. Mungkin ya ada 20 program beasiswa itu saya coba-coba. Ditolak itu betul-betul berkesan buat saya, karena sebenarnya setelah penolakan itu selalu ada rezekinya,” sebut Ibnu.
Setelah terus mencoba, atas kegigihan dan kerja keras itu, akhirnya berbuah manis ketika ia berhasil diterima di Li Po Chun United World College (LPCUWC) yang terletak di kawasan Wu Kai Sha, Hong Kong. Kepindahan sekolahnya dari MAN 2 Malang ke UWC ini pun menjadi titik balik besar dalam hidupnya, di mana ia harus meninggalkan zona nyaman di Malang dan hidup mandiri di luar negeri.
Tantangan pertama yang ia hadapi adalah perbedaan sistem pendidikan yang sangat kontras dengan Indonesia. Sistem pendidikan di UWC yang sangat menekankan pada kemampuan riset, penulisan esai, dan berpikir kritis, alih-alih hafalan semata.
“Saya kan belum pernah tinggal di luar Malang ya, mas. Jadi mungkin awalnya saya concern-nya lebih ke Bahasa Inggris, tapi karena di Hong Kong itu kan pakai bahasa Kanton, makanya awal itu saya sempat merasa takut,” kenang Ibnu.
Kendati demikian, setelah berjalannya waktu, sistem pendidikan di sana ternyata menuntutnya untuk beradaptasi dengan cepat. Tidak hanya soal akademik, dunia penelitian di lingkungan barunya juga memberikan kejutan tersendiri.
Berbekal pengalaman masa lalunya mengikuti KIR di Indonesia, Ibnu ternyata merasa terbantu, meski ia tetap harus menyesuaikan diri dengan struktur dan pola pikir penulisan ilmiah internasional yang jauh lebih lugas dan langsung pada pokok pembahasan.
“Penelitian di luar (luar negeri) itu langsung to the point. Apa metodenya, dan seterusnya,” beber Ibnu.
Puncak perjalanan akademiknya di tingkat sekolah menengah diwarnai dengan sebuah karya tulis akhir atau skripsi yang mendalam. Ibnu memilih untuk membedah karya sastra besar, yakni buku karya Leila S. Chudori yang berjudul Laut Bercerita. Dalam penelitian tersebut, ia menganalisis bagaimana dampak otoritarianisme terhadap keluarga dan para korban utama atau protagonisnya.
Lewat sudut pandang sastra, Ibnu ingin melihat bagaimana nilai-nilai kemanusiaan, cinta, dan ikatan keluarga diuji di tengah hantaman faktor eksternal seperti kondisi politik serta ekonomi yang represif.
“Karena saya ingin melihat bagaimana manusia itu sendiri, nilai kemanusiaan itu bisa dilihat dari novelnya, dari bagaimana kita melihat keluarga, bagaimana kita sebagai manusia itu melihat keluarga, melihat cinta, melihat hal-hal yang membuat kita sebagai manusia itu. Menurut saya, itu sangat-sangat ‘deep’ (bermakna) sekali,” tutur Ibnu.
Singkat cerita, setelah menyelesaikan babak pendidikannya di Hong Kong, semangat petualangan akademik Ibnu tidak lantas padam. Ia kembali melakukan perburuan kampus impian dan memfokuskan diri untuk mendaftar ke Amerika Serikat.
Pilihan utamanya jatuh ke negeri Paman Sam karena negara tersebut memiliki jaringan kampus yang luas bekerja sama dengan sekolahnya.
Program beasiswa ini memungkinkan para alumni UWC yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi mitra di Amerika untuk mendapatkan pendanaan penuh (full funding), termasuk biaya akomodasi.
“Ada namanya ‘Davis Scholarship’, jadi setiap alumni UWC itu kalau ke Amerika dan memilih dari sekolah-sekolah Davis, sekolah-sekolah yang berkaitan dengan Davis Scholarship ini, nanti bisa dapat full funding dari mereka,” jelasnya.
Ibnu pun akhirnya berkuliah di kampus Sarah Lawrence College, dengan jurusan perencanaan tata kota. Dengan kebiasaan masa kecilnya bermain SimCity hingga MineCraft, ternyata hal tersebut menjadi modal berharga baginya.
Ia melihat bahwa perencanaan kota bukanlah sekadar ilmu menggambar bangunan, melainkan sebuah disiplin holistik yang merangkum berbagai sektor kehidupan manusia secara komprehensif. Tantangannya bukan pada mata kuliah, namun perbedaan kultur.
“Kalau di Amerika, culture shock-nya mungkin ya budaya tip. Dimana saja, belanja kopi, selain tax (pajak) itu selalu ada tip. Bahkan ada pilihannya tip itu berapa besar nominalnya,” sebut Ibnu dengan sedikit tertawa.
Tidak hanya itu, ia juga membedakan corak masyarakat Hong Kong yang cenderung kolektif, dengan masyarakat Amerika yang lebih menjunjung tinggi individualisme. Perbedaan gaya bahasa, hingga cara orang Amerika memandang dan menganalisis sesuatu sempat menjadi warna tersendiri dalam proses adaptasinya selama sebulan pertama.
Kendati demikian, bagi Ibnu, perbedaan tersebut bukanlah sebuah masalah, melainkan bagian dari dinamika memperkaya wawasan antarbangsa.
Di tengah kesibukan akademisnya yang telah berjalan selama satu setengah tahun, Ibnu saat ini juga memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri dengan mengambil pekerjaan paruh waktu (part-time) sebagai penjaga lab komputer kampus. Keputusan ini didasari tekad kuat untuk mandiri secara finansial tanpa harus membebani orang tua demi uang jajan sehari-hari.
“Nilai plusnya, ya saya bisa belajar software-software baru, seperti Adobe, tata ruang, dan lain-lain yang sangat berguna untuk menunjang kuliah,” ungkapnya.
Menariknya, pekerjaan tersebut justru difasilitasi langsung oleh pihak kampus sebagai bentuk prioritas dukungan bagi mahasiswa internasional untuk bekerja di lingkungan kampus. Kuliah gratis, mendapatkan pengalaman kerja, bahkan dibayar di tempat yang sama, menjadikannya sebuah ‘kombo’ impian yang berhasil ia manfaatkan dengan baik.
Ketika ditanya mengenai rencana jangka panjang setelah merampungkan studinya, pemuda yang memiliki hobi panjat tebing dan membaca buku ini mengaku masih ingin melanjutkan jenjang pendidikan magister (S2) di New York. Ia berkeinginan untuk tetap berkarier di kancah internasional guna mengasah keterampilan dan memperluas jejaring profesionalnya.
Meski demikian, kecintaannya pada Tanah Air tidak lantas luntur. Ibnu tetap memegang komitmen kuat untuk mendedikasikan ilmu dan keterampilannya bagi pembangunan kota-kota di Indonesia, khususnya kota kelahirannya, Malang.
Walaupun langkah ke depan masih bersifat kondisional dan ia memilih untuk fokus menuntaskan kuliah S2-nya terlebih dahulu, semangat Ibnu membuktikan bahwa generasi muda Indonesia mampu menembus batas global tanpa melupakan akar identitas bangsa. Baginya, kunci utama dalam menggapai cita-cita adalah keberanian untuk melangkah dan menepis ketakutan akan kegagalan.
“Terlalu takut untuk ditolak atau terlalu takut untuk dicoba. Padahal selalu ada jalan. Untuk setiap mimpi, itu selalu ada jalan, apapun se-impossible apapun dengan kehendak Tuhan dan kehendak sendiri pasti ada jalannya,” pesan Ibnu. (ian/van)