MALANG POSCO MEDIA, MALANG – SMP Kartika IV-9 Malang kembali menggelar Haul ke-441 Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai upaya menanamkan nilai religius sekaligus melestarikan budaya Jawa kepada para siswa. Kegiatan yang memasuki penyelenggaraan tahun keempat ini berlangsung selama dua hari di lapangan eks SMP Narotama, awal Juli 2026.
Rangkaian haul dibuka pada Kamis (2/7) dengan pagelaran wayang kulit yang menyedot perhatian warga dan keluarga siswa. Dalang muda berbakat, Ki Vigo Rama Vinggala (15), dipercaya membawakan lakon Sisrané Pedhut Angkara, sebuah kisah tentang kemenangan kebaikan atas angkara murka.
Pagelaran diawali Tari Remo Malangan dari Sanggar Tari Kartika Mubyar, kemudian dilanjutkan prosesi penyerahan gunungan oleh Kepala SMP Kartika IV-9 kepada sang dalang. Suasana semakin semarak berkat iringan gamelan Kartika Laras yang seluruh pengrawitnya merupakan siswa-siswi sekolah tersebut. Pertunjukan berlangsung hingga tengah malam.
Pada hari kedua, Jumat (3/7), kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Yasin, tahlil, shalawat yang diiringi Hadrah Al-Banjari Nurul Musthafa, serta pengajian yang disampaikan Dr. KH. Anas Fauzi, S.Ag., Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rozzaq, Jabung, Kabupaten Malang.
Dalam tausiyahnya, KH. Anas Fauzi mengaku mengapresiasi langkah SMP Kartika IV-9 yang menggelar haul seorang wali di lingkungan sekolah umum. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk meneladani perjuangan dan akhlak Kanjeng Sunan Kalijaga. Ia juga membagikan empat kunci meraih kesuksesan dunia dan akhirat kepada para peserta.

Kepala SMP Kartika IV-9, Didik Ismanadi, S.Pd., Gr., mengatakan kegiatan ini menjadi wujud komitmen sekolah dalam menyelaraskan pendidikan karakter, nilai keagamaan, dan pelestarian budaya.
“Haul Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus mengenalkan budaya adiluhung kepada peserta didik,” ujarnya.
Didik menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan identitas sekolah yang sejalan dengan lima nilai Yayasan Kartika Jaya, yakni berbudi luhur, disiplin, cinta tanah air, cerdas, dan terampil. Ia berharap tradisi ini terus dilaksanakan sebagai warisan budaya yang mampu membentuk karakter generasi muda. (hud/udi).

