
MALANG POSCO MEDIA – Ternyata sudah tiga bulan kami tinggal di Cape Town – South Africa. Ibarat seorang Ibu yang sedang mengandung, ini adalah tri-semester pertama. Fase dimana banyak sekali penyesuaian dengan tubuh sendiri karena adanya si jabang bayi yang masih berukuran se-biji kecil. Sama pula dengan kehidupan merantau, tiga bulan pertama adalah fase berat untuk beradaptasi di lingkungan baru. Apa yang diaspora rasakan saat pertama kali merantau keluar negeri???
Pindahan rumah adalah salah satu pengalaman yang paling menggambarkan arti love and hate relationship. Di satu sisi, prosesnya melelahkan, penuh kekacauan, dan sering kali menguji kesabaran. Mulai dari membongkar tumpukan barang yang tak lagi diingat asal-usulnya hingga berhadapan dengan kardus yang seolah tak pernah habis.

Namun di sisi lain, justru di tengah kerepotan itu tersimpan momen-momen yang begitu personal. Setiap benda yang kembali disentuh membawa kenangan, setiap sudut rumah baru perlahan menjadi ruang untuk membangun cerita yang berbeda. Bagi banyak ibu, pindahan bukan sekadar memindahkan isi rumah, melainkan juga menata kembali ritme kehidupan keluarga.
Itulah mengapa pengalaman ini terasa begitu spesial di hati. Prosesnya mungkin membuat ingin menyerah, tetapi hasil akhirnya selalu menghadirkan perasaan hangat yang membuat semua lelah terasa layak dijalani.
Ada satu hal yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah pindahan rumah. Rumah ternyata tidak hanya berisi barang, tetapi juga waktu, tenaga, dan kenangan yang diam-diam menumpuk. Dari luar, pindahan terlihat sesederhana mengemas lalu memindahkan semuanya ke alamat baru. Padahal, setiap kardus menyimpan cerita, dan setiap keputusan untuk membawa atau melepaskan barang selalu melibatkan sedikit rasa sayang. Mungkin karena itu, kalimat, “Santai saja, paling juga sehari selesai,” hampir selalu diucapkan oleh mereka yang belum pernah benar-benar mengurus pindahan sendiri.

Alhamdulillah, perpindahan kami dari Portugal ke Afrika Selatan berjalan lancar. Mungkin karena ini bukan pertama kalinya kami pindahan benua. Hal pertama yang tidak membuat kami stress adalah “Bahasa”. Hampir semua orang di Cape Town bisa berbahasa inggris. Jadi kami tidak perlu belajar bahasa baru selama penugasan di sini. Komunikasi dengan pihak sekolah dan landlord (si pemilik rumah) juga jadi simple. Hanya saja aksen English mereka memakai logat British. Jadi ya siap-siap seperti ujian listening aja setiap waktu, hihihi.
Hal kedua yang tak kalah penting saat pindahan adalah urusan perut. Bayangkan saja, seorang arek Surabaya yang tiba-tiba harus menetap di Jakarta, cepat atau lambat pasti akan merindukan sepiring tahu tek atau rujak cingur dengan petis yang khas. Apalagi jika perpindahannya lintas pulau, misalnya ke Sumatera. Meski sama-sama berada di Indonesia, cita rasanya bisa terasa begitu berbeda.
Pada akhirnya, pindahan bukan hanya soal beradaptasi dengan rumah dan lingkungan, tetapi juga belajar berdamai dengan lidah yang diam-diam ikut “pindah” paling belakangan.

Surprisingly, makanan di Afrika Selatan justru lebih cocok di lidah kami dibandingkan makanan di Portugal. Bukan berarti makanan di Portugal tidak enak yaa… Menurut kami makanan Portugal tuh enak-enak dibanding makanan di negara Eropa lainnya, khususnya di Swiss ya. Makanan swiss itu hambar dan mahal pula. Hahahaha.
Hampir setiap restoran di Cape Town yang kami datangi selalu meninggalkan kesan yang menyenangkan. Entah itu hidangan lokal ala supermarket, order di ubereats, sajian bergaya Eropa, hingga kafe-kafe kecil yang tersebar di berbagai sudut kota, rasanya jarang sekali ada yang mengecewakan. Akibatnya, selama dua bulan pertama menetap di Cape Town, dapur di rumah nyaris tidak tersentuh.

Alih-alih sibuk menyusun menu harian, kami justru menikmati “petualangan” mencicipi tempat makan baru hampir setiap akhir pekan, bahkan sesekali di weekday. Rasanya seperti sedang berbulan madu dengan dunia kuliner. Tentu saja kebiasaan itu tidak berlangsung selamanya, tetapi untuk ukuran keluarga yang biasanya cukup sering memasak di rumah, pengalaman ini benar-benar di luar dugaan.
Daaan akhirnya kami menemukan toko Asia yang lokasinya dekat dari rumah. Harta karun yang kami temukan ada tempe, tahu putih, tahu pong, kecap ABC, dan aneka bumbu asia. Sedihnya, di Cape Town belum ada toko spesifik yang menjual produk Indonesia. Kalau stok tolak angin habis, bisa pusing niiihhh!!! Berbeda dengan di Portugal yang bisa mendapatkan pasokan barang Indonesia lebih mudah karena ada pusatnya di Belanda. Yuk kawan pembaca yang mau buka usaha di Cape Town bisa banget nih kayaknya. Hehehe.

Allahumma barik, Allah benar-benar menghadirkan pertolongan dengan cara yang tak disangka. Belum lama menetap di Cape Town, saya berkenalan dengan sesama orang Indonesia yang mengelola Java Kitchen, layanan open order makanan Indonesia setiap Jumat – Minggu. Sejak itu, hampir setiap pekan kami selalu memesan masakannya.
Kehangatan masakan rumahan memang mampu sedikit mengobati rindu pada kampung halaman. Yang lebih menyenangkan lagi, pemilik Java Kitchen ternyata seumuran dengan saya dan sudah lebih dari satu dekade tinggal di Cape Town. Hubungan kami pun berkembang, bukan lagi sekadar penjual dan pelanggan, melainkan teman berbagi cerita dan saling menguatkan di negeri yang jauh dari rumah.

Hal ketiga yang tak kalah menantang adalah beradaptasi dengan udara, kelembapan, dan kualitas air. Sekilas terdengar sepele, tetapi ketiganya sangat memengaruhi kenyamanan sehari-hari. Produk perawatan yang cocok digunakan di Indonesia belum tentu memberikan hasil yang sama di negara dengan udara yang lebih kering. Kulit menjadi lebih mudah kering, sementara kandungan mineral tinggi pada air dapat membuat rambut terasa lebih kasar atau rontok. Tak heran jika masa-masa awal pindah sering diwarnai dengan mencoba berbagai produk hingga menemukan yang paling sesuai.
Di balik proses adaptasi itu, ada satu hal yang sejak awal kami syukuri. Kualitas udara di Cape Town yang terasa jauh lebih bersih dan segar. Langit yang cerah, udara yang sejuk, dan minimnya polusi membuat aktivitas di luar ruangan terasa lebih menyenangkan. Setiap tempat memang memiliki tantangannya sendiri, tetapi juga menghadirkan nikmat yang layak disyukuri. Alhamdulillah. Mana yang paling kawan pembaca rasakan saat memutuskan untuk pindahan? (opp/van)
Leave a Reply