Malang Fashion Runway #7; Migi Rihasalay Tampilkan Teknik Tinggi, Lia Safira Debut Perdana

Berita Lainya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Gelaran bergengsi Malang Fashion Runway (MFR) Series #7 yang akan dihelat pada 11–12 Juli 2026 di Grand Hall Malang Town Square (Matos) menjadi panggung yang dinantikan banyak pihak. Memasuki tahun ketujuh, ajang ini tidak hanya menjadi wadah bagi para desainer senior yang telah menjadi langganan MFR, tetapi juga tempat pembuktian bagi para desainer baru yang pertama kali menampilkan karyanya.

Di antara deretan desainer kawakan yang konsisten berpartisipasi, nama Migi Rihasalay menjadi salah satu yang tak pernah absen. Desainer ternama Indonesia yang kini berbasis di Jakarta tersebut tercatat telah mengikuti MFR sejak tahun 2018, bahkan sejak ia masih duduk di bangku sekolah. Bagi Migi, panggung MFR di Kota Malang memiliki daya tarik tersendiri hingga ia selalu berkomitmen untuk tidak pernah melewatkan ajang tahunan ini.

Sejak pertama kali tampil hingga sekarang, ciri khas teknik pengerjaan Migi tidak pernah berubah dan selalu mempertahankan idealisme seni yang tinggi. Ia menggunakan material kain kanvas gradasi yang disemprot manual untuk menciptakan nuansa glamour evening gown. Pada gelaran MFR Series #7 bertema “FANTASTISCA” ini, Migi mengakui tingkat kesulitan karyanya mencapai nilai sempurna, yakni 10 dari 10.

“Tingkat kesulitannya kali ini benar-benar 10 dari 10. Saat proses percobaan dilakukan, sebanyak 10 materi fabrik sempat gagal dan rusak. Saya harus bikin lagi dan bikin lagi dari awal, tapi rasanya sangat puas setelah melihat hasilnya jadi,” ujar desainer yang dikenal ekspresif, berani, dan karyanya telah dipakai oleh banyak pesohor hingga mancanegara ini.

Pada panggung MFR kali ini, Migi akan membawa total 24 koleksi yang terbagi menjadi dua konsep utama. “Saya membawa 12 koleksi busana dewasa bernuansa glamour evening gown dan 12 koleksi anak-anak bertema daily day,” tambahnya. Kiprah Migi yang luas di dunia mode—termasuk keterlibatannya dalam peragaan busana prestisius internasional seperti saat menampilkan tema Garuda Emas di Thailand—diharapkan kembali memberi warna yang kuat pada panggung MFR tahun ini.

Di sisi lain, selain para master di bidang mode, MFR Series #7 juga melahirkan talenta baru yang memberanikan diri untuk melakukan debut panggung, salah satunya adalah Lia Safira. Perempuan yang awalnya merupakan pemilik salon kecantikan ini memantapkan tekadnya untuk ikut terjun ke industri kreatif fashion.

“Pertama saya bidang salon kecantikan. Di samping itu saya sering diminta menjadi muse (model) oleh teman-teman desainer yang sudah punya brand. Dari situ saya kemudian belajar dan mencoba membuat baju muslim untuk diri sendiri, baik untuk harian maupun acara pengajian,” ujar pemilik butik di Jalan Candi Bajang Ratu tersebut.

Keputusan Lia untuk serius menekuni dunia rancang busana bermula dari respons positif yang ia terima. Setiap kali mengenakan baju hasil desainnya sendiri, banyak rekan dan kenalannya yang tertarik dan memesan melalui sistem Pre-Order (PO). Motivasi itu pula yang membawanya siap menampilkan 10 koleksi busana muslim variatif, mulai dari konsep casual daily wear, busana pengajian, hingga baju pesta muslim modern dalam ajang kali ini.

Pertemuan antara desainer senior berpengalaman seperti Migi Rihasalay dan desainer debutan seperti Lia Safira ini sejalan dengan komitmen MFR untuk terus menghadirkan ruang kolaborasi. Ajang tahunan ini diharapkan dapat terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus mengangkat potensi industri fashion lokal ke tingkat nasional. (nda)

Pilihan Editor