Perjalanan hampir 24 Jam, Napak Tilas Kunjungan 10 Tahun yang Lalu

Berita Lainya

Berita Terbaru

Cerita Liburan ke Tiongkok dan Thailand (1)

Mengisi musim liburan sekolah, selama 10 hari, dari  1 Juli hingga 10 Juli 2026, wartawan Malang Posco Media, Jon Soeparijono beserta keluarga berlibur ke Tiongkok dan  Thailand. Ini merupakan napak tilas sepuluh tahun lalu bagi wartawan asli Kota Arema ini. Sebelumnya tahun 2016, ia juga melakukan kunjungan ke Guangzhou dan Thailand.

MALANG POSCO MEDIA-Di awal tahun 2016 saya bersama istri dan anak pertama saya mengujungi tiga negara. Yakni Malaysia, Thailand dan Singapura. Di akhir tahun 2016 tepatnya di bulan Desember saya bersama Pemkot Malang dan Kampung Glintung Go Green mengikuti Guangzhou International Award for Urban Innovation di Kota Guangzhou.

Perjalanan kali ini, kami berangkat dari rumah (1/7) sekitar pukul 15 .00 WIB. Tiba di Sunny International Apt Beijing Road di Jinyuan International Residence, No. 147-149 Beijing Road, Yuexiu District, Guangzhou, tempat kami menginap sekitar pukul 14.30 waktu setempat. Perjalanan keberangkatan total memerlukan waktu hampir 24 jam karena pesawat Scoot yang kami tumpangi harus transit di Bandara Changi, Singapura cukup lama. Yakni sekitar enam jam.

Kami menempati lantai 34 dari 35 lantai. Sehingga bisa melihat pemandangan Kota Guangzhou dari jendela kamar.

Masuk ke Negara Tiongkok kami menggunakan Visa-Free Transit. Yakni tanpa menggunakan visa karena akan melanjutkan perjalanan ke negara ketiga, yakni Thailand. Usai urusan visa di Imigrasi beres, melanjutkan perjalanan darat menggunakan kereta api cepat dan dilanjutkan kereta Metro untuk ke pusat kota yang jaraknya sekitar 35 kilometer dari Bandara Baiyun.

Di Guangzhou memiliki transportasi umum yang sangat terintegrasi, meliputi Metro (subway), Bus Rapid Transit (GBRT), dan taksi. Kami menggunakan aplikasi pembayaran digital lokal Alipay untuk naik Metro dan taksi. Sehingga kemana-mana selalu menggunakan taksi atau Metro.

Di hari pertama usai tiba, tujuan utama yakni mencari rumah makan halal yang berlokasi di Lanzhou Stretched Noodles 167 Guangzhouqiyi Rd, Yuexiu District. Makanan di tempat ini tidak terlalu mahal. Rumah makan inilah yang sehari-hari kami gunakan untuk makan. Selain itu juga ada distrik makanan halal Timur-Tengah di Xiaobei Road.

Hari ke dua mengunjungi salah satu ikon Kota Ghuangzhou, yakni Patung Lima Domba Jantan. Patung ini merupakan landmark ikonik kota Guangzhou yang terletak di puncak Gunung Yuexiu, di dalam kawasan Taman Yuexiu. Untuk menuju taman ini kami menggunakan Didi atau taksi. Masuk kawasan ini tanpa dipungut biaya alias gratis. Sepuluh tahun yang lalu, saya juga mengunjungi patung ini.

Wisatawan asing yang ke Guangzho selalu menyempatkan datang ke patung ini hanya sekadar foto di depannya atau membeli suvenir. Selain Patung Lima Domba Jantan, juga ada objek wisata Museum Guangzhou yang juga dikenal sebagai Menara Zhenhai. Museum ini memamerkan sejarah seribu tahun Kota Guangzhou.

Selain itu juga terdapat Tembok Kota Dinasti Ming yang masih terawat baik. Hanya saja, tembok yang tersisa hanya sekitar satu kilometer saja. Di puncak Gunung Yuexiu, juga terdapat Monumen Sun Yat-sen.

Usai mengunjungi lokasi tersebut, kami menuju ke Masjid Huaisheng atau Masjid Mercusuar untuk melaksanakan salat Jumat. Masjid ini  salah satu masjid tertua di dunia yang dibangun pada tahun 627 M. Terletak di No.56 Guangta Road, Distrik Yuexiu. Masjid bersejarah ini menggabungkan gaya arsitektur Islam dan Tiongkok kuno. Jamaah tidak hanya dari masyarakat setempat namun juga dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. Di depan masjid ada semacam Jumat Barokah dari orang-orang Timur Tengah.

Di hari ketiga yang tak kalah serunya adalah mengunjungi Canton Tower dengan tinggi 600 meter. Bangunan ini merupakan tertinggi di Guangzhou. Lokasinya di Distrik Haizhu. Menuju ke Canton Tower kami menggunakan kereta bawah tanah atau metro. Di dekat Canton Tower juga terdapat Guangzhou Library, tampat digelarnya Guangzhou Award yang kami hadiri sepuluh tahun lalu. Kami pun menyempatkan berfoto di depan perpustakaan  yang cukup megah itu.

Usai dari Canton Tower dilanjut ke rumah leluhur Bruce Lee, di kawasan bersejarah Yongqing Fang, Distrik Liwan. Di tempat ini pengunjung bisa melihat pameran yang mendokumentasikan warisan keluarga Bruce Lee, filosofi seni bela diri Jeet Kune Do, serta poster-poster film legendarisnya.

Di Yongqingfang bisa sewa pakaian tradisional dan fotografer serta melihat museum opera secara gratis. Ada jadwal pertunjukannya serta melihat Jembatan Bulan.

Di hari terakhir, siangnya menghabiskan waktu di mal-mal yang super megah hanya sekadar beli oleh-oleh suvenir. Di malam terakhir di Negeri Tirai Bambu ini, kami menghabiskan waktu di Beijing Lu. Kawasan ini merupakan kawasan pejalan kaki dan distrik perbelanjaan paling ikonik di pusat Kota Guangzhou. Wisatawan asing banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di kawasan ini. Apalagi ada Kuil Dafo atau Kuil Buddha Raksasa yang merupakan  salah satu kuil tertua berusia 1.200 tahun di jantung Distrik Yuexiu. Kuil ini gratis dikunjungi dan terkenal dengan pemandangan malamnya yang menakjubkan saat lampu kuil menyala mulai pukul 19.00 hingga 22.00.

Usai puas selama empat hari di Ibu Kota Provinsi Guangdong, kami melanjutkan ke Kota Bangkok di Thailand. (jon/van/bersambung)

Pilihan Editor