MALANG POSCO MEDIA – Meski terbilang terlambat, pembatasan gawai di lingkungan sekolah bagi pelajar adalah keharusan. Sasarannya adalah siswa TK, SD, SMP dan SMA/SMK. Kebijakan yang diterapkan ini penting karena akan bisa menciptakan literasi digital yang aman dan nyaman bagi siswa-siswi di sekolah dan keluarga.
Surat Edaran No 18 Tahun 2026 Mendikdasmen terkait pembatasan gawai siswa di sekolah ini sejalan dengan PP Tunas Kementerian Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Menurut Menkomdigi Meutya Hafidz, pembatasan gawai di lingkungan pendidikan menjadi bagian dari strategi nasional dalam melindungi anak di ruang digital. Aturan pembatasan gawai di sekolah semakin melengkapi komitmen pemerintah untuk melindungi anak-anak dari ancaman negatif yang di ruang digital, terutama konten-konten berbahaya.
Meski dibatasi, namun satuan pendidikan dan lembaga pendidikan diminta menyesuaikan kebutuhan siswa. Terutama untuk kepentingan pembelajaran. Namun bila tak ada kepentingan pembelajaran, maka pembatasan gawai menjadi cara yang efektif untuk menjauhkan siswa dari gawai.
Bila aturan ini diterapkan dengan ketat dan disiplin, maka setidaknya siswa-siswi di sekolah bisa lepas dari gawai 5-6 jam untuk siswa SD, dan 7 sampai 8 jam untuk siswa SMP dan SMA/SMK. Bila kebiasaan ini dilakukan secara disiplin, maka saat sekolah siswa-siswi bisa benar-benar tak menggunakan gawai di luar kebutuhan pembelajaran sekolah.
Meski terbilang ketat, namun aturan pembatasan gawai ini masih tergolong akomodatif. Tidak 100 persen melarang menggunakan gawai. Tapi hanya membatasi siswa sehingga bisa fokus pada pelajaran-pelajaran di sekolah. Paling tidak, aturan ini juga bisa melatih siswa pelan-pelan tak ketergantungan dengan gawai.
Tanpa gawai, pergaulan antar siswa hidup. Komunikasi siswa dengan lingkungannya juga terbentuk. Mereka bisa saling berinteraksi dengan para guru dan pembina di sekolah mereka masing-masing. Yang menjadi persoalan adalah ketika siswa dibatasi penggunaan gawainya selama di sekolah, maka bagaimana dengan guru yang masih menggunakan gawainya?
Kalau untuk pembelajaran, siswa pasti memahami. Tapi kalau di luar pembelajaran, maka butuh sikap bijak para guru untuk menggunakan gawainya di depan siswa.(*)

