Messi, Yamal, dan Mitos yang Viral

Berita Lainya

Berita Terbaru

Saya, anda, dan banyak orang punya foto-foto kenangan. Bayangkan Anda membuka album foto keluarga. Di antara ratusan gambar yang tersimpan, ada satu foto lama yang selama bertahun-tahun tak menarik perhatian. Lalu, suatu ketika, salah satu orang di dalam foto itu menjadi sosok terkenal. Seketika foto tersebut berubah menjadi benda yang dianggap berharga. Orang mulai mencari makna yang sebelumnya tak pernah ada.

          Piala dunia (world cup) FIFA 2026 menyisakan cerita viral tentang Lionel Messi (Messi), kapten kesebelasan Argentina dan Lamine Yamal (Yamal), pemain sayap timnas Spanyol. Beredar luas di beragam platform media sosial (medsos) foto Messi yang memandikan Yamal. Foto Messi dan Yamal lawas itu memang tak berubah, namun cara orang memandangnya tak sama. Medsos telah mengubah dokumentasi menjadi mitos yang viral.

          Piala Dunia tak hanya menghadirkan pertandingan yang memukau. Turnamen empat tahunan itu juga melahirkan sebuah kisah yang menggetarkan emosi jutaan orang di seluruh dunia. Banyak orang menyebut foto itu sebagai bukti bahwa takdir memang telah menulis jalan hidup seseorang. Sebuah foto yang selama bertahun-tahun tersimpan dalam arsip tiba-tiba berubah menjadi simbol pergantian generasi sepak bola dunia.

          Manusia pada dasarnya adalah makhluk pencari makna. Manusia tak sedang hidup dalam dunia yang dipenuhi kebetulan. Karena itu, setiap peristiwa besar hampir selalu dihubungkan dengan tanda-tanda yang dianggap telah muncul jauh sebelumnya. Ketika seseorang mencapai puncak kesuksesan, orang berusaha menemukan potongan-potongan masa lalu yang seolah telah memberi petunjuk.

Homo Narrans

          Foto Messi dan Yamal diambil sekitar tahun 2007 dalam sebuah kegiatan amal Barcelona bersama UNICEF. Tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa bayi tersebut kelak akan menjadi pemain yang disebut-sebut sebagai penerus Messi. Bagi fotografer, keluarga Yamal, bahkan Messi sendiri, foto itu hanyalah dokumentasi kegiatan sosial biasa. Namun setelah Yamal bersinar dan berdiri di panggung terbesar sepak bola dunia, foto yang sama memperoleh makna baru.

          Foto Messi dan Yamal tak lagi sekadar foto, melainkan narasi. Bukan lagi dokumentasi, melainkan legenda. Masa lalu seolah-olah berubah hanya karena masa depan telah terjadi. Di sinilah media memainkan peran yang sangat penting. Media tak sekadar melaporkan fakta, tetapi juga memilih fakta mana yang layak diingat dan bagaimana fakta tersebut diberi makna. Dalam era medsos, proses ini berlangsung jauh lebih cepat.

          Algoritma platform digital tak menyukai cerita yang rumit. Algoritma lebih menyukai kisah sederhana, emosional, dan mudah dibagikan. Kalimat seperti, Messi pernah memandikan bayi yang kini menjadi bintang dunia,” jauh lebih mudah viral ketimbang uraian tentang ribuan jam latihan Yamal di akademi La Masia. Cerita yang singkat dan menyentuh emosi jauh lebih mudah menembus perhatian publik dibandingkan penjelasan tentang disiplin, latihan, dan pengorbanan.

          Merujuk Walter Fisher (1984), melalui Narrative Paradigm Theory, menyebut manusia sebagai Homo Narrans, makhluk yang memahami dunia melalui cerita. Menurut Fisher, manusia sering mengambil keputusan bukan berdasarkan logika semata, melainkan berdasarkan apakah sebuah cerita masuk akal dan menyentuh pengalaman emosional mereka. Tak mengherankan jika kisah Messi dan Yamal jauh lebih cepat menyebar dibandingkan statistik performa atau data latihan keduanya.

Mitos Modern

          Roland Barthes (1972) dalam bukunya Mythologies, menjelaskan bahwa mitos modern bukanlah kebohongan, melainkan proses ketika budaya memberikan makna baru terhadap sesuatu yang sebenarnya biasa. Sebuah objek, foto, atau simbol menjadi mitos karena masyarakat menyematkan nilai-nilai tertentu kepadanya. Foto Messi memandikan Yamal adalah contoh yang sangat tepat.

          Secara faktual, foto Messi memandikan Yamal hanyalah dokumentasi kegiatan amal. Namun setelah dikaitkan dengan kesuksesan Yamal, masyarakat mengubahnya menjadi simbol regenerasi, pewarisan, bahkan takdir. Netizen mengedit foto, membuat video, menambahkan musik dramatis, menyusun narasi, menghubungkannya dengan berbagai kutipan inspiratif, dan membagikan di medsos. Dalam hitungan jam, jutaan orang ikut memperkuat cerita yang sama.

          Tak ada yang lebih disukai medsos selain sebuah cerita yang terasa seperti keajaiban. Karena itu, ketika Messi dan Yamal bertemu kembali di panggung Piala Dunia 2026, algoritma segera menghidupkan kembali sebuah foto lama. Dalam hitungan jam, jutaan orang membagikannya dengan narasi “Legenda sedang menyerahkan tongkat estafet kepada penerusnya.” Sebuah arsip yang hampir terlupakan mendadak berubah menjadi mitos global.

          Messi tak menjadi legenda karena pernah memandikan seorang bayi. Ia menjadi legenda karena bertahun-tahun menempa dirinya melalui latihan yang keras, menghadapi cedera, tekanan mental, kritik publik, hingga berbagai kegagalan sebelum akhirnya pernah mengangkat trofi Piala Dunia. Demikian pula Yamal. Ia tak menjadi bintang hanya karena pernah berada dalam satu bingkai bareng Messi.

          Di era medsos, orang membagikan foto, mengagumi simbol, dan merayakan kebetulan, seolah-olah keberhasilan lahir dari satu peristiwa yang kebetulan semata. Kehidupan sejatinya tak bekerja seperti algoritma yang hanya menampilkan cuplikan terbaik. Padahal yang benar-benar mengubah dunia bukanlah gambar yang viral, melainkan manusia-manusia yang tetap bekerja keras ketika tak ada seorang pun yang sedang memotret mereka.(*)

Pilihan Editor