Dosen FISIP UNITRI
MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kabar membanggakan datang dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang. Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Dr. Sulih Indra Dewi, S.Sos., M.A, berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Sosial bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Airlangga (UNAIR) dengan predikat Cumlaude.
Dalam Sidang Promosi Doktor yang digelar pada 16 Juli 2026, Dr. Sulih dinyatakan lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,91 setelah menuntaskan studi kurang dari empat tahun. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi FISIP UNITRI sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.
Menurut Dr. Sulih, penelitian tersebut berangkat dari kegelisahannya terhadap masih dominannya perspektif patriarki dalam media massa. Dari hasil penelitiannya, ia memperkenalkan konsep baru yang diberi nama Digital Post-Colonial Feminism Counter-Hegemony.
“Awalnya saya melihat podcast sebagai ruang alternatif melawan dominasi media. Namun, praktik podcast perempuan di Indonesia ternyata memiliki dinamika yang dipengaruhi sejarah kolonial, budaya, hingga relasi kuasa yang masih terasa sampai sekarang,” ujarnya kepada Malang Posco Media, Kamis, (23/7) kemarin.
Disertasinya berjudul Suara Perempuan di Era Podcast: Digital Counter-Hegemony pada Praktik Podcast Perempuan di Indonesia. Penelitian tersebut mengulas bagaimana podcast berkembang menjadi media alternatif bagi perempuan. Baginya podcast untuk menyampaikan pengalaman, membangun identitas, serta menyuarakan pandangan yang selama ini kurang mendapat ruang di media arus utama.
“Media audio seperti podcast memberi kebebasan bagi perempuan untuk mengekspresikan gagasan tanpa dibatasi penampilan fisik,” imbuh Dr. Sulih yang juga mantan penyiar radio dan produser podcast ini.
Selain aktif sebagai dosen dan Kepala UPT Kerjasama dan Kantor Urusan Internasional UNITRI, Dr. Sulih juga menjalani research visit di University of Warsaw, Polandia, serta berkolaborasi dengan akademisi dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Malang.
Ia mengaku tantangan terbesar selama studi bukan hanya persoalan akademik, melainkan bagaimana membagi waktu sebagai dosen, istri, dan ibu. Harapannya, kontribusinya dalam pengembangan pendidikan, penelitian, serta kerja sama internasional UNITRI, temuan ilmiahnya bisa menjadi referensi baru dalam kajian komunikasi digital, media alternatif, dan isu kesetaraan gender di Indonesia. “Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasilnya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, mahasiswa, dan masyarakat,” pungkasnya.(hud/lim)

