
MALANGPOSCOMEDIA – Ketika para orang tua di Indonesia sedang sibuk mendampingi anak menjalani MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), saya justru masih menikmati “babak akhir” liburan sekolah bersama DoubleZ di Cape Town. Dua suasana yang sangat berbeda, tetapi sama-sama menguji kreativitas orang tua. Apa saja keseruan mereka selama liburan sekolah di Cape Town – Afrika Selatan?
Meski tinggal jauh dari Indonesia, ada satu momen yang selalu berhasil menghadirkan rasa rindu akan tanah air, yaitu bulan Agustus. Bulan yang identik dengan semangat kemerdekaan, Bendera amerah Putih, dan tentu saja berbagai lomba 17 Agustusan yang penuh tawa. Bagi diaspora Indonesia, kemeriahan itu memang tidak hadir di setiap sudut perumahan seperti di Indonesia. Namun, semangatnya tetap terasa. Kami justru menantikannya dalam sebuah pertemuan hangat bersama sesama warga Indonesia di KBRI.
Banyak orang mengira setiap kota besar di luar negeri memiliki KBRI. Padahal, di Afrika Selatan, KBRI Indonesia berada di Pretoria, sedangkan kami yang tinggal di Cape Town dilayani oleh KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia). Hal ini karena Pretoria merupakan ibu kota administratif Afrika Selatan, sehingga KBRI ditempatkan di sana sebagai perwakilan diplomatik Indonesia.
Awalnya saya sempat berpikir semua kegiatan resmi warga Indonesia di luar negeri pasti diselenggarakan oleh KBRI. Ternyata tidak selalu begitu. Jadi, kalau kami ingin mengurus perpanjangan paspor, legalisasi dokumen, atau berbagai layanan kekonsuleran lainnya, semuanya bisa dilakukan di KJRI tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke Pretoria. Praktis sekali, bukan? Perjalanan dari Cape Town ke Pretoria dibutuhkan 2 jam terbang atau hampir 12 jam jalur darat. Afrika Selatan sebesaaaar itu lho!!!

Menariknya lagi, baik KBRI Pretoria maupun KJRI Cape Town sama-sama mulai beroperasi pada tahun 1994, seiring dibukanya kembali hubungan diplomatik Indonesia dengan Afrika Selatan setelah berakhirnya era apartheid. Naaah, kira-kira apa saja keseruan yang dibuat KJRI dalam menyambut kemerdekaan Indonesia ya?
Tahun ini, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia jatuh pada hari Senin, sedangkan tahun lalu bertepatan dengan hari Minggu. Agar kemeriahan HUT RI bisa dinikmati lebih lama, KJRI Cape Town punya ide yang seru, yaitu mencicil rangkaian perlombaan sejak jauh-jauh hari. Salah satunya adalah lomba bowling yang digelar pada Minggu (19/07).

Begitu melihat pengumumannya, saya dan suami langsung mendaftarkan diri. Apakah kami jago bermain bowling? Tentu saja tidak, hahaha. Kami datang bukan untuk mengejar juara, melainkan untuk menikmati suasana, bertemu teman-teman baru, dan mulai mengenal komunitas diaspora Indonesia di Cape Town.
Acara ini menjadi momen pertama bagi keluarga kami untuk berkenalan dengan sesama warga Indonesia yang menetap di Cape Town. Sambutannya begitu hangat hingga kami langsung merasa diterima. Bapak Konjen Tudiono bersama Ibu Konjen bahkan menyempatkan diri menyapa keluarga kami secara khusus. Dalam sambutan pembukaan, beliau berkata, “Selamat datang kepada Ibu Okky dan keluarga di Cape Town. Baru tiga bulan tinggal di sini ya, Bu?” Sapaan sederhana itu membuat kami merasa seperti disambut oleh keluarga sendiri. Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa meski berada ribuan kilometer dari Indonesia, kehangatan sesama anak bangsa tetap bisa dirasakan.

Di sela-sela acara, saya sempat mengobrol sebentar dengan Bapak Konjen. Ternyata beliau asli arek Ngalam! Uwaaah… langsung saja saya antusias menjawab, “Wah, saya dan suami juga orang Malang, Pak!” Hahaha. Rasanya seperti bertemu saudara di negeri orang. Beliau juga bercerita sedikit tentang perjalanan kariernya di Kementerian Luar Negeri yang telah membawanya bertugas di berbagai negara, mulai dari Wina – Austria, Den Haag – Belanda, hingga akhirnya kini di Cape Town – Afrika Selatan. Mendengarnya membuat saya semakin kagum. Ternyata menjadi diplomat bukan hanya soal berpindah tempat tugas, tetapi juga tentang menjalani petualangan hidup di berbagai belahan dunia.
Di sela-sela menunggu giliran melempar bola, obrolan demi obrolan pun mengalir begitu saja. Kami saling memperkenalkan diri, berbagi cerita tentang bagaimana akhirnya bisa menetap di Cape Town, berapa anak yang dimiliki, sekolah anak-anak di mana, hingga kesibukan sehari-hari sebagai ibu di negeri orang. Tak terasa, nomor WhatsApp pun saling bertukar dan mulai bermunculan rencana, “Nanti kapan-kapan kita ketemuan lagi, ya.”

Momen sederhana seperti ini ternyata begitu berarti. Tinggal di negara baru memang membutuhkan proses adaptasi, tetapi rasanya jauh lebih ringan ketika perlahan menemukan teman, sahabat, bahkan keluarga baru di tanah perantauan.
Setelah masing-masing peserta menyelesaikan 20 kali lemparan, tibalah saat yang paling ditunggu, yaitu pengumuman juara di setiap line. Sayangnya saya belum berhasil naik podium. Tapi ya, lumayanlah… tidak terlalu memalukan. Hahaha.

Saya masih berhasil finish di peringkat empat di line no 5, sedangkan suami harus rela berada di posisi paling bawah di line no 2 kelompok bapak-bapak. Sepertinya para bapak ini diam-diam memang jago main bowling, ya!
Oh iya, peserta memang dibagi menjadi kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu. KJRI menyewa lima line bowling, dengan sekitar sepuluh peserta di setiap line, sehingga suasananya ramai sekaligus seru untuk saling menyemangati.

Setelah lomba bersama KJRI selesai, kini giliran DoubleZ yang mengambil alih arena bowling. Ternyata tempat ini ramah sekali untuk anak-anak. Tinggal minta ke petugas, lalu dipasang pembatas di sisi kanan dan kiri lintasan. Alhasil, bola tidak akan nyasar ke selokan di samping lintasan. Mau dilempar sepelan apa pun, bolanya pasti tetap meluncur menuju pin. Seru, kan? Dijamin bikin anak-anak langsung merasa seperti atlet bowling profesional!

Lucunya lagi, saat bermain bersama ibu-ibu saya sempat mengumpulkan skor 74. Eh, giliran bermain bersama DoubleZ malah cuma dapat 6. Langsung saja Papi Fariz menggoda, “Kayaknya Mami sengaja ngalah biar skornya mirip anak-anak, ya?” Hahaha. Padahal, saya merasa sudah berusaha maksimal, lho! Untungnya selisih skor saya dengan Zirco dan Zygmund memang tipis. Jadi, menurut versi kami bertiga… semuanya menang!
Tidak ada yang pulang dengan wajah kecewa. Yang ada justru pulang dengan hati senang, penuh tawa, dan tentu saja sudah mulai bertanya, “Kapan kita main bowling lagi?”. OPP.

