MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Dusun Jetak Asri, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, kini resmi menyandang status sebagai percontohan kampung ramah iklim. Transformasi hijau ini berhasil terwujud berkat Program Desa Binaan (PDB) 2026 yang didanai langsung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Langkah taktis ini menjadi modal besar bagi Desa Mulyoagung untuk bertransformasi menuju Smart Environment Village sekaligus mendukung capaian global SDGs dalam penanganan perubahan iklim.
Aksi nyata penyelamatan lingkungan ini digerakkan oleh tim pengabdian masyarakat Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI). Dipimpin oleh Dr. Dian Noorvy Khaerudin, ST., MT., tim ini beranggotakan para pakar lintas disiplin, yakni Prof. Amir Hamzah, MP, Prof. Dr. Ir. Riyanto Haribowo, dan Dr. Nonok Supartini, S.Pt., M.P., serta berkolaborasi aktif dengan 11 mahasiswa Program Mahasiswa Tangguh (PMT).
Program yang mengusung tajuk Learning by Doing ini berfokus pada tiga pilar utama, yaitu Ekodrainase Partisipatif, Ecohouse, dan Smart Green Living. Melalui konsep tersebut, warga tidak hanya diberikan materi teori di dalam ruangan, melainkan langsung diajak melakukan aksi nyata di lapangan secara berkesinambungan.
”Kami tidak ingin berhenti pada sosialisasi saja. Program ini memang sejak awal diarahkan pada implementasi nyata lewat pendampingan langsung ke masyarakat agar dampaknya bisa segera dirasakan,” ujar Ketua Tim Pengabdian, Dr. Dian Noorvy Khaerudin, ST., MT. saat menjelaskan komitmen timnya di lapangan.
Salah satu aksi yang langsung menyentuh masyarakat adalah keterlibatan aktif emak-emak PKK dan Kader Lingkungan “Latar Ijo”. Bertempat di Green House dusun setempat, mereka dilatih menyulap limbah kulit buah seperti jeruk, nanas, hingga melon menjadi eco enzyme yang merupakan cairan serbaguna kaya manfaat.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah organik rumah tangga. Anggota tim pengabdian, Dr. Nonok Supartini, S.Pt., M.P., menjelaskan bahwa pengolahan ini didukung oleh teknologi yang tepat guna agar warga lebih bersemangat dalam berproduksi.
”Mengubah sampah menjadi eco enzyme adalah langkah nyata dari ekonomi sirkular. Dengan adanya bantuan mesin pencacah yang kami berikan, proses fermentasi kini jadi jauh lebih cepat dan hasilnya bisa bernilai ekonomi bagi warga sekitar,” tutur Dr. Nonok Supartini.
Puncak aksi gotong royong ini berlangsung pada 4 hingga 7 Juli 2026, di mana warga bersama mahasiswa bahu-membahu membangun saluran ekodrainase. Sistem drainase ini dirancang khusus untuk mempercepat aliran air hujan sekaligus meminimalisir potensi genangan di area permukiman padat.
Pakar hidrologi yang juga anggota tim pengabdian, Prof. Dr. Ir. Riyanto Haribowo, menekankan pentingnya infrastruktur hijau tersebut sebagai langkah adaptasi lingkungan yang paling realistis di tingkat pedesaan. Menurutnya, wilayah pemukiman yang semakin padat memerlukan solusi resapan air yang cepat dan efisien.
”Ekodrainase adalah strategi adaptasi perubahan iklim yang sangat krusial. Teknologi biopori dan sumur resapan itu sebenarnya sederhana dan mudah diterapkan oleh siapa saja, namun dampaknya luar biasa besar untuk menjaga siklus air tanah di desa ini,” jelas Prof. Riyanto.
Demi memastikan keberlanjutan program jangka panjang, tim pengabdian UNITRI tidak hanya memberikan pelatihan fisik. Mereka juga menyerahkan sejumlah bantuan alat berat seperti mesin chopper, mesin bor baja, bor biopori (hand auger), hingga mesin pencacah sampah organik kepada masyarakat.
Selain itu, dokumen desain teknis sumur resapan juga diserahkan langsung kepada Pemerintah Desa Mulyoagung. Dokumen tersebut akan menjadi cetak biru (blueprint) resmi bagi pemerintah desa dalam membangun berbagai fasilitas umum ramah lingkungan di masa yang akan datang. (imm)

