Saprol, Boneka Puppet yang Mengubah Wajah Satpol PP Kota Batu
Di tangan seorang pria kreatif bernama Edy Prayitno, S.Sn kesan Satpol PP menjadi menarik. Itu karena karyanya boneka puppet bernama Saprol. Saprol kini menjadi wajah humanis Satpol PP.
MALANG POSCO MEDIA – Barisan petugas seragam cokelat tua khas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) acapkali memperkuat citra tegas, kaku, bahkan menakutkan bagi sebagian warga. Di mata anak-anak, kehadiran petugas penegak peraturan daerah (Perda) ini tak jarang diidentikkan dengan sosok yang galak.
Saprol bukanlah sekadar boneka mainan. Mengenakan, Pakaian Dinas Lapangan (PDL) lengkap dengan baret mini khas Satpol PP, Saprol kini menjadi wajah humanis yang bertugas mengedukasi masyarakat, khususnya anak-anak, mengenai ketertiban umum hingga isu-isu sosial sensitif.
Jalur hidup Edy Prayitno sesungguhnya tak pernah jauh dari dunia seni. Sejak duduk di bangku SMA di Kota Batu, Edy sudah aktif berproses di kelompok seni teater lokal. Kecintaannya pada seni peran mendorongnya menempuh pendidikan formal hingga meraih gelar Sarjana Seni Teater dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.
Selesai menimba ilmu, Edy mengabdi di Dinas Pendidikan Kota Batu. Di lingkungan ini, jiwanya yang dekat dengan anak-anak kian terasah. Ia kerap bersinggungan dengan dunia literasi, perlombaan dongeng, hingga festival bercerita. Namun, rotasi kerja pada tahun 2019 mengubah alur perjalanannya. Edy dipindahtugaskan ke Satpol PP Kota Batu. Ia ditempatkan sebagai petugas lapangan.
“Awal-awal dipindah ke Satpol PP, secara otomatis saya tidak bisa berkesenian terlebih dahulu karena harus adaptasi dari lingkungan dinas ke petugas lapangan,” kenang Edy.
Meski begitu, jiwa seni dalam dirinya tak pernah padam. Ia terus berpikir keras mencari celah agar tetap bisa mengekspresikan seni di mana pun tempatnya mengabdi.
Momen penentu itu datang ketika wabah COVID-19 mulai melanda pada awal 2019 hingga 2020. Di saat mayoritas pekerja menjalani Work From Home (WFH), petugas Satpol PP harus tetap berada di garis depan untuk menegakan protokol kesehatan.
Saat bertugas dengan seragam dinas lengkap di jalanan, Edy kerap berpapasan dengan anak-anak yang sedang belajar daring di rumah. Respons anak-anak saat melihatnya bertugas justru mengejutkan sekaligus menyentuh hatinya.
“Ngaweo masker, lek gak ngawe masker ditangkap Satpol. Iku loh Satpol-e wis kate budhal. (Pakailah masker, kalau tidak pakai masker ditangkap Satpol. Itu loh Satpolnya sudah mau berangkat). Kalimat itu yang membuat saya sangat gelisah pada waktu itu karena anak-anak takut melihat Satpol,” tutur Edy.
Dari kegelisahan itu muncul ide bagaimana kalau saya buat tokoh Satpol PP dengan boneka puppet yang punya karakter berbeda dengan petugas di lapangan. “Kalau di lapangan tegas dan berwibawa, lewat boneka ini saya ingin menepis asumsi kalau Satpol itu menakutkan,” imbuhnya.
Atas dorongan pribadi, Edy merancang desain boneka tersebut. Dengan dana swadaya, ia memesan pembuatan boneka berkarakter petugas Satpol PP itu kepada seorang perajin di Tangerang. Karakter itu kemudian ia namai Saprol.
Awalnya, Edy memanfaatkan Saprol untuk membuat konten edukasi yang diunggah di media sosial resmi Satpol PP Kota Batu atas izin atasannya. Respons publik ternyata luar biasa.
Izin sekolah daring tak membatasi Saprol untuk menyapa anak-anak. Undangan pertama justru datang dari sebuah yayasan di Mojokerto yang meminta sesi bercerita interaktif via Zoom Meeting. Tak lama, sekolah-sekolah lain seperti Ar-Rohman dan Sabilillah turut mengundangnya, hingga akhirnya gaung inovasi ini merebak di tanah kelahirannya sendiri, Kota Batu.
Ketika memasuki era new normal, Satpol PP Kota Batu memanfaatkan Saprol sebagai sarana trauma healing sekaligus sosialisasi pola hidup sehat saat anak-anak kembali belajar tatap muka. Edy bergerilya dari sekolah ke sekolah untuk mencairkan ketakutan siswa.
Kehadiran Saprol kian dikenal secara nasional saat terjadi bencana banjir bandang di kawasan Bulukerto, Kota Batu. Di tengah situasi darurat dan penyaluran bantuan sosial, Satpol PP diminta memberikan penanganan trauma (trauma healing) kepada anak-anak korban bencana.
“Pas waktu di situ, akhirnya lebih dikenal lagi karena proses trauma healing bencana itu disorot nasional. Dari sana makin banyak yang tahu,” ujar Edy.
Usai masa pandemi dan penanganan bencana berlalu, keberadaan Saprol tidak lantas dihentikan. Pihak Satpol PP Kota Batu sepakat menjadikan boneka Saprol sebagai ikon inovasi sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Kepala Daerah (Perkada).
Gaya penyampaian Edy bersama Saprol sangat lentur. Ia tidak menjejalkan pasal-pasal atau nomor Perda yang kaku kepada anak-anak, melainkan langsung masuk pada substansi perilaku dan etika.
“Misalkan soal larangan berjualan di trotoar. Kita tidak sebutkan Perda Nomor 7 Tahun 2021 tentang Ketertiban Umum secara kaku. Tapi kita jelaskan dengan gaya anak-anak: Trotoar itu dibuat untuk jalan bersama. Kalau kita jualan di trotoar, berarti kita merampas hak orang lain yang mau jalan. Jadi lebih menekankan pada subjeknya,” jelasnya.
Fleksibilitas media boneka puppet membuat materi yang disampaikan Edy bersama Saprol terus berkembang mengikuti dinamika sosial. Saat kasus perundungan (bullying) marak dan menjadi perhatian publik di Kota Batu, Satpol PP yang terlibat dalam Satgas Anti-Bullying menerjunkan Saprol untuk memberikan edukasi ke sekolah-sekolah.
Bahkan dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Saprol memegang peranan penting. Program dikemas variatif: sesi pagi diisi dengan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB) untuk melatih kedisiplinan fisik, diselingi materi edukasi di dalam kelas bersama Saprol.
Materi yang dibawakan mencakup edukasi wawasan kebangsaan, pencegahan bullying, hingga materi sensitif seperti edukasi mengenai batasan tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh lawan jenis sesuai dengan regulasi perlindungan anak.
“Intinya kita sampaikan dengan cara bertutur yang tepat agar tontonan anak-anak di media sosial tidak menjadi tuntunan yang salah. Kita ajarkan saling menghargai perbedaan dan menjaga diri,” paparnya.
Merawat Tradisi Bertutur di Era Modern
Bagi Edy Prayitno yang juga mengantongi berbagai prestasi seperti Juara 1 Lomba Storytelling Perpustakaan Kota Batu (2023) dan Juara 1 Lomba Dongeng Nusantara Balai Bahasa (2022) ini, penggunaan boneka puppet adalah cara memodernisasi tradisi lisan adat ketimuran tanpa merusak akarnya.
“Orang tua kita dulu sering menyampaikan nasihat atau pitutur dengan cara bertutur. Spiritnya sama dengan mendongeng. Kalau dulu pakai wayang kulit atau wayang suket, sekarang kita kemas dengan boneka puppet sebagai nuansa baru. Anak-anak secara psikologis punya rasa penasaran yang tinggi, dan rasa penasaran itu kita pancing dengan boneka,” urainya.
Kehadiran inovasi seperti Saprol turut menyirami ekosistem seni bercerita di Kota Batu. Dukungan dinas terkait lewat ajang seperti Festival Lomba Seni Siswa dan Sastra (FLS3N) maupun Lomba Bertutur Perpustakaan Kota Batu dinilainya kian memperkuat iklim kreatif daerah. Lewat ketekunan dan kepekaan seni seorang Edy Prayitno, boneka Saprol membuktikan bahwa edukasi hukum dan ketertiban masyarakat tidak harus disampaikan dengan wajah garang, melainkan bisa merasuk lembut ke sanubari generasi muda lewat cerita, tawa, dan rasa empati. (eri/van)

