Kisah Difabel Cerebral Palsy Berhasil Terbitkan 17 Buku
Menulislah dengan hati. Menjadi moto Syamsu Anita Fitrianingsih, seorang penulis di tengah keterbatasan fisiknya. Syamsu Anita Fitrianingsih adalah penyandang disabilitas CP (Cerebral Palsy) gangguan motorik, yang dalam keterbatasannya itu, telah berhasil menerbitkan 17 judul buku.
MALANG POSCO MEDIA – Syamsu Anita Fitrianingsih, akrab disapa Anita, perempuan kelahiran tahun 1977 ini punya kemampuan menulis melalui telepon genggam (HP). Anita biasanya menulis dengan cara; HP dipangku, duduk bersandar di bantal, di atas tempat tidur, atau di atas kursi roda.
Melalui layar ponsel, Anita sedang membangun sebuah dunia tanpa batas, tempat pikiran dan imajinasinya merdeka.
Anita memulai debutnya di dunia literasi pada tahun 2018. Warga Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini telah melahirkan 17 judul buku, baik berupa novel solo maupun antologi puisi dan cerpen kolaborasi. Bagi Anita, menulis adalah ruang pembebasan.
“Lewat dunia literasi, saya bebas menulis apa saja yang saya lihat, dengar, dan rasakan. Tapi tetap, juga harus menjujung tinggi etika. Agar tidak sampai menyinggung perasaan orang lain,” tutur Anita kepada Malang Posco Media, Selasa (7/7).
Proses menulis buku membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun. Tergantung jenis atau genre buku yang ditulis.
“Kalau antologi puisi mungkin sekitar empat sampai lima buĺan hingga terbit. Kalau novel mungkin sekitar satu sampai dua tahunan,” ujar Anita.
Bakat literasi anak pertama dari tiga bersaudara pasangan almarhum Sunardi dan Ngatiningsih ini bersemi, sejak ia tertarik menulis sejak duduk di bangku sekolah YPAC Malang.
Keluarganya menjadi pilar yang menyiram bakat tersebut. Anita mengenang, setiap bulan almarhum ayahnya selalu membelikan majalah remaja cerita pendek.
Dua sahabat ayahnya juga meminjamkan buku berbagai genre. Dari tumpukan lembar kertas itulah imajinasi Anita diasah.
Namun, momentum besar untuk benar-benar terjun sebagai penulis dan menerbitkan buku saat kepergian sang ayah untuk selamanya. Di tengah rasa kehilangan, muncul tekad kuat dalam diri Anita untuk bisa mandiri secara finansial.
“Khusus menerbitkan buku, sejak papa tidak ada. Ada keinginan untuk mencari uang sendiri,” kenang perempuan berusia 48 tahun tersebut.
Peluang itu terbuka pada tahun 2018 saat Anita mengikuti sebuah ajang di Facebook bertajuk “Menulis 100 Puisi dalam 30 Hari” yang diselenggarakan oleh sebuah penerbit.
“Alhamdulilah saya bisa memenuhi target itu. Walau jujur, puisinya tak sempurna. Dari situlah saya terus menerbitkan buku hingga sekarang,” ucap Anita.
Dalam menulis buku, nama pena yang digunakan adalah Anita FN Sunardi. Penulis ini telah menyabet segudang penghargaan dari penerbit maupun pemerintah atas dedikasi dalam literasi.
Anita juga saat ini tergabung dalam Lingkar Sosial (Linksos) dan Himpunan Wanita Difabelitas Indonesia (HWDI) Kota Malang.
Proses kreatif Anita adalah bentuk adaptasi yang luar biasa. Tanpa jadwal atau target menulis yang ketat, ia membiarkan idenya mengalir alami.
“Biasanya saya menulis dengan cara, HP saya pangku. Duduk bersandar di bantal, di atas tempat tidur. Atau di atas kursi roda.” katanya.
“Saat menulis, saya menggunakan hp. Menyimpan naskah di aplikasi note. Kesulitan yang sering saya rasakan, ketika ide di kepala hilang. Mentok. Saat itulah saya mencari buku bacaan untuk referensi,” sambung Anita.
Melalui karya-karyanya, Anita secara sadar menyisipkan pesan sosial, termasuk isu diskriminasi. Pada proyek novel terbarunya yang sedang digarap, Cinta Untuk Indurasmi, ia mengangkat genre drama edukatif tentang pentingnya pendidikan usia dini bagi anak disabilitas berat, khususnya sesama penyandang cerebral palsy.
“Saya ingin memperkenalkan dunia difabel kepada masyarakat. Karena tidak semua masyarakat tahu, apa itu difabel, bagaimana kehidupan kami, dan keseharian kami, yang saya rasa tak jauh bahkan sama seperti masyarakat pada umumnya.
Harapan saya, dengan membaca tulisan sederhana ini, masyarakat lebih mengerti dan memahami dunia difabel,” jelasnya.
Saat ini, selain fokus mencetak ulang empat judul buku lamanya dan merampungkan dua novel baru, Anita telah mematok mimpi yang lebih besar. Ia tidak ingin maju sendirian.
“Ke depannya, insya Allah, saya ingin membuka galeri untuk menampung hasil karya teman-teman disabilitas, agar karya mereka dapat dikenal masyarakat luas,” ungkapnya penuh harap.
Kepada sesama rekan difabel yang masih ragu dan kerap merasa terkurung oleh keterbatasan fisik, Anita memberikan pesan personal yang mendalam, sekaligus menjadi pemantik semangat bagi siapa saja yang sedang berjuang.
“Belajar terus. Kembangkan bakat dengan tetap banyak berlatih menulis dan membaca. Jangan pernah putus asa. Yakinlah, suatu saat dunia akan melihatmu,” tutup Anita.(khalqinus taaddin/bua)

