Realisasi Angkot Pelajar Terancam Molor

Berita Lainya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA – Pemkot Malang kini tengah berupaya keras untuk segera merealisasikan program angkot pelajar. Program angkutan gratis untuk pelajar itu telah digodok sejak tahun lalu dan kini sudah memasuki tahap finalisasi. Meski disebut bakal segera beroperasi saat awal tahun ajaran baru, namun realisasinya terancam molor.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyebut, semua proses yang rumit telah dilewati dan kini tinggal melakukan sedikit harmonisasi terkait teknis di lapangan nanti. Ia berharap, semua itu bisa segera terselesaikan sehingga ketika 13 Juli atau ketika hari pertama tahun ajaran baru nanti, program itu bisa mulai digulirkan.

“Perwalinya sudah disetujui oleh provinsi, nah sekarang tinggal harmonisasi saja. Dalam waktu dekat akan beroperasi. Ya, di tahun ajaran baru harapannya,” ungkap Wahyu belum bisa memastikan angkot pelajar benar-benar siap beroperasi 100 persen.

Tidak hanya itu, Wahyu juga menyebut pihaknya saat ini juga tengah melakukan evaluasi terhadap keberadaan bus ‘halokes’ yang selama ini memfasilitasi para pelajar secara gratis.

Berdasarkan data dari Disdikbud,  Pemkot Malang memiliki sebanyak 13 armada untuk bus sekolah tersebut.  Yakni 6 armada bus berukuran besar dan 7 armada berjenis elf. Tiap sekali angkut, sedikitnya ada 300an siswa yang memanfaatkan program tersebut setiap harinya.

“Kami akan lihat, nanti kira-kira bus pelajar ini kami jadikan apa, kami akan evaluasi. Tapi kami terapkan dulu saja terkait dengan ‘feeder’ untuk angkutan pelajar,” terang Wahyu.

Untuk program angkot pelajar tersebut, Pemkot Malang membeli jasa dari angkot (Buy the Service/BTS) dengan patokan argo per kilometer. Sehingga para pelajar bisa menikmati transportasi angkot tersebut secara gratis. Namun untuk angkot pelajar ini hanya akan berlaku khusus di jam tertentu yang banyak digunakan untuk pelajar, yakni ketika jam berangkat dan pulang sekolah.

Sebab, moda transportasi angkot ini direncanakan oleh Pemkot Malang juga sekaligus digunakan sebagai feeder untuk Trans Jatim. Perbedaannya, Pemkot Malang tidak memberi subsidi atau tidak membeli jasa angkot secara khusus.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Widjaja Saleh Putra menyebut, untuk program angkot pelajar, pihaknya akan membeli jasa dengan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) sebesar Rp 6ribu per kilometernya. Pembayarannya melalui koperasi yang menaungi paguyuban angkot.

“Sesuai rencana, sudah ada empat koperasi. Jadi masing masing nanti ada sekitar 20 angkot. Tiap angkot nanti membuat laporan satu hari berapa kilometer, berapa jumlah siswa, baru nanti kami bayarkan. Itu nanti transparan dan bisa terpantau juga di aplikasi,” beber Jaya, sapaannya.

Terkait kapan persisnya program ini bakal mulai digulirkan, Jaya masih belum berani menyebutkannya. Sebab, saat ini ada beberapa hal teknis yang masih terus dikoordinasikan bersama para sopir. Menurut informasi, belum pastinya jadwal angkot pelajar dimulai, terkait dengan aplikasi yang digunakan.

“Yang jelas bulan ini. Tapi kami sekarang masih komunikasi dengan mereka. Terkait rutenya, aplikasinya, ya semua hal, supaya nanti tidak ada masalah. Mohon doanya saja supaya lancar,” tandas Jaya kepada Malang Posco Media. (ian/bua)

Pilihan Editor