MALANG POSCO MEDIA, MALANG Wakil Ketua II DPRD Kota Malang Trio Agus Purwono, S.TP menggelar kegiatan dialog serap aspirasi mengisi masa reses di Dapilnya Lowokwaru. Kegiatan ini digelar di Gedung Serbaguna Pohpayung, Tunggulwulung.
Politisi PKS ini mengadakan dua kali dialog bersama warga. Yakni Senin (6/7) dan Selasa (7/7). Dialog diikuti ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Dialog serap aspirasi kali ini dibagi menjadi dua sesi utama dengan mengundang kelompok sasaran yang berbeda. Pada sesi pertama, Trio mengundang kalangan pemuda dan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa merupakan bagian penting dari stakeholder Kota Malang yang memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kami melihat mereka (mahasiswa) juga bagian dari stakeholder Kota Malang. Mereka memberikan kontribusi terhadap PAD. Mereka juga pasti mempunyai aspirasi yang harus kita serap,” ujar Trio kepada Malang Posco Media.

Dalam sesi tersebut, para pemuda pemudi itu menyampaikan berbagai keluhan dan aspirasi terkait isu-isu perkotaan. Di antaranya maraknya tempat minuman beralkohol, keberadaan tempat hiburan, serta minimnya fasilitas pendukung dari pemerintah. Misalnya seperti jalur pedestrian, transportasi umum, masalah parkir, hingga persoalan banjir yang kerap melanda Kota Malang.
Sementara itu, dialog kedua dalam rangka mengisi reses diikuti masyarakat umum yang mewakili setiap kelurahan. Menariknya, dalam sesi ini Trio juga mengundang pihak BPJS Ketenagakerjaan. Langkah ini diambil karena ia menilai kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan masih sangat minim.
“Selama ini orang kan lebih fokusnya kadang ke BPJS Kesehatan. Tapi sebenarnya BPJS Ketenagakerjaan ini juga sangat penting karena bisa melindungi sebagai jaminan sosial,” jelasnya.
Trio membeberkan bahwa manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan sangat besar, termasuk adanya jaminan kecelakaan kerja hingga santunan kematian. Ia mencontohkan, jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia, ahli waris bisa mendapatkan asuransi kematian dengan nilai yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp 40 juta.

Namun demikian Trio membeber tingkat kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di Kota Malang yang masih relatif kecil, yakni baru menyentuh angka sekitar 40 persen. Sejauh ini, kepesertaan yang sudah otomatis ter-cover baru menyasar proyek-proyek pemerintah, sektor formal, serta pekerja sektor informal yang preminya dibayarkan oleh pemerintah melalui insentif, seperti RT, RW, dan masyarakat desil bawah.
“Capaian ini sangat positif, tinggal yang perlu didorong itu kan yang mandiri. Karena angka preminya pun sebenarnya juga tidak besar, sekitar Rp 16 ribu dan apalagi sekarang ada diskon promo 50 persen, sekarang cuma Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu,” tutupnya. (ian/van)

