MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Jalan Menuju Surga tak lagi sekadar menjadi akses warga menuju permakaman. Ruas jalan hasil gotong royong masyarakat di Kelurahan Pandanwangi itu kini berubah menjadi jalur alternatif yang ramai dilintasi pengendara. Sayangnya, meningkatnya fungsi jalan belum diimbangi peningkatan kualitas infrastruktur.
Setelah viral di media sosial dan menjadi jalur alternatif saat proses pembongkaran Jembatan Bailey Sonokembang, ruas jalan tersebut setiap hari dipadati ratusan pengendara sepeda motor.
Meningkatnya intensitas lalu lintas membuat warga berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Malang segera turun tangan meningkatkan kualitas infrastruktur. Sebab, selama ini pembangunan maupun perawatan jalan masih mengandalkan swadaya masyarakat.
Jalan yang menghubungkan Jalan Terusan Batubara dengan Jalan Simpang L.A. Sucipto itu lahir dari semangat gotong royong warga. Sebelum dibangun, jalur tersebut hanyalah jalan setapak yang membelah area persawahan dan hanya bisa dilalui pejalan kaki.
Ketua Panitia Pembangunan Jalan Menuju Surga, Asmuri, mengatakan kondisi tersebut dahulu menyulitkan warga, terutama ketika harus mengantar jenazah menuju tempat pemakaman.
“Dulu hanya berupa jalan setapak menuju sawah dan hanya bisa dilewati pejalan kaki. Kalau ada warga meninggal dunia, iring-iringan jenazah harus memutar cukup jauh lewat jalan raya,” ujarnya kepada Malang Posco Media, Kamis (9/7).
Berangkat dari kebutuhan itu, warga mulai membangun jalan secara gotong royong pada 2016. Seluruh pembiayaan berasal dari program jimpitan beras yang dijalankan masyarakat. Beras yang terkumpul dijual, kemudian hasilnya digunakan membeli tanah uruk serta berbagai material pembangunan.
Tak hanya menyumbang dana, sejumlah pemilik lahan juga rela menghibahkan sebagian tanahnya agar jalan bisa diperlebar dan dimanfaatkan masyarakat luas.
Setelah melalui proses pembangunan sekitar dua tahun, Jalan Menuju Surga akhirnya rampung pada 2018. Jalan sepanjang kurang lebih 600 meter tersebut telah dipaving dengan lebar bervariasi, mulai sekitar 1,2 meter di sisi timur hingga mencapai 2,5 meter di bagian tengah. Saat ini, jalan itu dapat dilalui kendaraan roda dua dan menjadi salah satu jalur alternatif untuk menghindari kepadatan lalu lintas di Jalan L.A. Sucipto.
Menurut Asmuri, meningkatnya jumlah pengguna jalan membuat kebutuhan peningkatan fasilitas semakin mendesak. Warga berharap pemerintah dapat melakukan pengaspalan jalan, penataan saluran irigasi di sepanjang jalur, hingga pemasangan lampu penerangan jalan umum (PJU). “Sampai sekarang penerangan masih kami sediakan secara swadaya. Harapan kami ke depan ada perhatian dari pemerintah agar jalannya bisa diaspal, irigasi ditata, dan lampu penerangan dipasang sehingga lebih aman dan nyaman digunakan masyarakat,” pungkasnya. (rex/aim)
Leave a Reply