MALANGPOSCOMEDIA, MALANG – Pelaksanaan Musyawarah Kota (Muskot) Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Kota Malang yang digelar di Stadion Gajayana pada, Sabtu (18/7), menuai protes hingga diwarnai aksi walkout. Salah satu peserta dari unsur Induk Organisasi Olahraga (Inorga) Bambang Anjar, memilih meninggalkan ruang sidang sebagai bentuk protes karena panitia atau Steering Comittee (SC) tidak transparan atau terbuka dan justru terkesan menutupi.
Aksi walkout itu terjadi ketika sidang baru di tahap sidang pertama, tepatnya saat membacakan AD/ART Muskot. Dengan nada yang cukup tinggi, Bambang memprotes penyelenggar karena AD/ART Muskot tidak disosialisasikan terlebih dahulu. Tidak hanya itu, ia memprotes pihak SC ternyata merangkap Tim Penjaringan bakal calon ketua.
“Saya keluar tadi karena Muskot sekarang tidak sesuai AD/ART. Melanggar pasal 21 ayat 1 huruf c. Pada Pra Muskot kemarin sudah saya sampaikan, tim penjaringan itu tolong dibuat sesuai AD/ART. Jangan SC merangkap Tim Penjaringan, saya memasukkan calon diangel angel (dipersulit, red). Makanya saya keluar muskot, ngapain ikut muskot yang calon ku sendiri diangel angel (dipersulit, red,” tegas Bambang, usai walkout.
Proses pendaftaran bakal calon, juga dinilai Anjar kurang transparan. Ia juga merasa dipersulit karena lambatnya Tim Penjaringan ketika merespon pendaftaran.

“Kami masukkan formulir jam 3 sore, mereka periksanya jam 8 malam lalu bilang SKCK nya harus ada dan diminta mengurus. Kalau besoknya baru jadi, dianggap kurang persyaratan, diwarning kurang administrasi. Jadi pendaftaran tidak terbuka, tidak diumumkan. Disuruh mengambil formulir begitu saja. Ada kesan seperti itu (ditutupi),” tambah dia.
Begitu juga dengan bakal calon yang mendaftar sebagai ketua, semestinya juga terbuka atau setidaknya bisa diumumkan lebih awal. Sampai Muskot berjalan, figur bakal calon yang mendaftar tidak diumumkan terlepas lolos atau tidaknya.
“Harusnya diinformasikan ke Inorga calonnya siapa dan sekian. Kalau ada kampanye juga silahkan. Terbuka, demokratis begitu lho. Kenapa ditutup tutupi, disini kan jadi bingung,” keluhnya.
Merespon aksi walkout tersebut, SC Muskot Kormi Kota Malang Sani Sinarsana Kisid menjelaskan, AD/ART baru yang digunakan ini merupakan produk Kormi Nasional yang telah disosialisasikan ke Kormi Provinsi lalu ke Inorga. Sani menyebut, sudah ada beberapa kali sosialisasi yang dilakukan sejak jauh hari, bahkan 31 hari sebelumnya sampai ketika Pra Muskot dilangsungkan.
“Kami sudah memberikan, menyampaikan (sosialisasi) begitu, termasuk pada saat Pra Muskot. Jadi, tercatat yang hadir seluruh Inorga dan ada daftarnya inorga-inorga siapa saja yang hadir di dalam sosialisasi terkait,” tegasnya.
Meski pihak SC merangkap tim penjaringan, Sani memastikan proses pendaftaran telah dilakukan secara transparan dan sebaik mungkin. Pihaknya telah menyampaikan berkas apa saja yang dibutuhkan, proses pendaftaran melalui email yang akan tercatat secara digital, hingga pihaknya pro aktif memberikan penjelasan apa saja yang kurang dan perlu dilengkapi.
“Setelah itu ada fit and proper test, ada wawancara, di mana itu bagian dari proses penjaringan tersebut. Sehingga pada saat Muskot, itu baru disampaikan hasil penjaringan seperti apa, disampaikan siapa, berapa berkas yang masuk, berapa berkas yang kembali, akan disampaikan lengkap,” tandasnya. (ian/lim)
Leave a Reply