MALANG POSCO MEDIA – Festival Kali Brantas di Malang Raya kembali digelar untuk kelima kalinya oleh Forkom Pokdarwis Kota Malang, Sabtu (25/7) hingga Minggu (26/7) kemarin. Rangkaian acara ini sekaligus mengawali Hari Sungai Nasional pada 27 Juli, dengan membawa misi besar pelestarian sumber air dan kebudayaan lokal.
Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang, Isa Wahyudi atau yang akrab disapa Ki Demang menjelaskan, Festival Kali Brantas ini diawali di titik nol sumber Kali Brantas dengan prosesi pengambilan air yang dinamakan Petik Tirta Amerta. Prosesi itu juga disertai dengan Jamasan atau memandikan para penari perwakilan bersama ibu-ibu yang membawa kendi berisi air sumber untuk diserahkan kepada kampung-kampung tematik yang dilintasi oleh Sungai Brantas.
Festival tahun ini mengusung tema ‘Hatur Tirta Wening Kali Brantas’. Sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang menyajikan ragam acara tematik di tiap kampung, kali ini seluruh rangkaian kegiatan di tujuh kampung tematik yang dilalui Kali Brantas disatukan dalam satu napas dan konsep yang sama.
“Makna terdalam dari Hatur Tirta Wening adalah bagaimana kita mengambil air suci dari sumber nol untuk menghidupi segalanya, dan Hatur Agung adalah mempersembahkan air ini kembali kepada masyarakat,” jelas Ki Demang, Minggu (26/7) kemarin.
Ia menambahkan, konsep ‘wening’ (jernih) tersebut merefleksikan kebutuhan kejernihan berpikir, hati, dan rasa di tengah dinamika persoalan sosial, ekonomi, dan geopolitik saat ini. Perlu kejernihan untuk setiap orang dalam memaknai dari tiap proses kehidupan tersebut.
Sebab, Ki Demang menyebut, air wening diposisikan sebagai pembersih dan penyejuk segala suasana agar masyarakat senantiasa hidup tenteram dan bersatu dengan alam.
“Wening air ini harapannya adalah menjadi penawar, menjadi penyembuh segalanya, menjadi penjernih dari segala suasana agar masyarakat kita harapannya bisa tenteram, senang, bahagia, bisa menerima dan bersatu dengan alam melalui air wening tersebut,” tutur Ki Demang.
Sebagai bagian dari pelestarian seni, festival tahun ini menampilkan dua tarian hasil eksperimentasi selama lima tahun terakhir, yaitu Tari Tirta Amerta dan Tari Tirta Wening, yang ditarikan oleh sekitar 30 penari dari Kampung Keramik Dinoyo, Kampung Glintung, dan Kampung Putih.
Sejak lima tahun terakhir, kegiatan ini konsisten melintasi Kali Brantas di Kota Malang melalui tujuh kampung tematik. Yakni mulai dari Kampung Keramik Dinoyo, Kampung Gerabah Penanggungan, Kampung Putih Klojen, Kampung Biru Arema Kiduldalem, Kampung Tridi Kesatrain, Kampung Warna-Warni Jodipan, hingga berakhir di Kampung Lampion.
“Sebelumnya, beberapa kampung di wilayah atas seperti Jatimulyo, Pendem, dan Beji juga turut berpartisipasi. Bahkan Desa Gunung Sari kini telah aktif menggunakan Kali Brantas untuk kegiatan kebudayaan,” tambah dia.
Lebih jauh, Ki Demang menyebut tahun ini, cakupan Festival Kali Brantas semakin luas. Selain Kota Malang, festival juga diselenggarakan di Kota Batu (Desa Junrejo), Kabupaten Blitar (Desa Jimbe), Kabupaten Tulungagung (Desa Ngantru), hingga malam penganugerahan oleh mahasiswa Universitas Pawyatan Daha di Kediri.
“Dari total 14 kota/kabupaten yang dilintasi Sungai Brantas, jadi saat ini sudah ada lima daerah yang mengadakan Festival Kali Brantas. Kedepan kami berharap seluruh wilayah yang dilintasi sungai dapat bersama-sama merayakan Festival Kali Brantas sebagai etalase dan halaman depan untuk mengekspresikan seni budaya, serta menjaga kelestariannya dari hulu hingga hilir,” tutupnya. (ian/van)

