Nobar Film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua
MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Pemerintah Kota Batu menggelar kegiatan nonton bersama (nobar) dan sosialisasi film anak Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua yang dihadiri kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan di Kota Batu.
Kegiatan dihadiri Wali Kota Batu Nurochman, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Sekretaris Daerah Kota Batu Alfi Nurhidayat, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu M. Nur Adhim, seluruh SKPD dan para kepala sekolah sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kota Batu dalam memperkuat pendidikan karakter, kepedulian terhadap lingkungan, dan pemanfaatan media pembelajaran kreatif bagi peserta didik.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Batu mendorong pemanfaatan film sebagai sarana edukasi yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter, empati, keberagaman, kepedulian terhadap lingkungan, dan tanggung jawab sosial kepada generasi muda.
Kehadiran para pemangku kepentingan di bidang pendidikan tersebut menegaskan komitmen bersama antara pemerintah daerah dan satuan pendidikan dalam menghadirkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual, inspiratif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Wali Kota Batu dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus membentuk karakter, kepedulian sosial, serta kecintaan anak-anak terhadap lingkungan. Menurut Cak Nur, film merupakan media pembelajaran yang efektif karena mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak. ‘’Melalui Teman Tegar: Maira, kita diajak lebih dari sekadar kisah persahabatan, tapi film ini menyoroti isu-isu penting. Seperti pelestarian lingkungan, krisis iklim, dan ketahanan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, menghargai keberagaman, serta membangun karakter generasi muda yang tangguh dan berempati,” ujar Cak Nur usai nobar Film Teman Tegar.
“Kami berharap melalui film ini lahir generasi Kota Batu yang cerdas, berkarakter, mencintai alam, serta mampu menjadi agen perubahan bagi masa depan daerah dan Indonesia. Para siswa bisa belajar banyak dengan menonton film ini,” imbuhnya.
Sebagai kota yang dikenal dengan kekayaan alam, kawasan pegunungan, serta sektor pertanian dan pariwisatanya, Kota Batu memiliki kepentingan besar dalam menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak usia dini. Karena itu, film menjadi salah satu media yang relevan untuk membangun karakter sekaligus meningkatkan literasi lingkungan bagi peserta didik.
“Pemerintah Kota Batu berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, industri kreatif, dan berbagai pemangku kepentingan dapat terus diperkuat guna menghadirkan ekosistem pendidikan yang inovatif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan masa depan,” harapnya.
Jika film pertama yang diproduksi Aksa Bumi Langit berjudul Tegar berbicara tentang inklusi dan hak anak penyandang disabilitas, maka Maira memperluas semangat tersebut ke isu global yakni climate crisis dan ketahanan masyarakat adat. Film ini tidak memposisikan anak-anak sebagai korban, melainkan sebagai subjek yang punya suara, keberanian dan kemampuan untuk bertindak.
Produser film, dr. Chandra Sembiring, seorang dokter kemanusiaan yang telah bertugas dari satu bencana ke bencana lain, termasuk misi internasional di Afghanistan, menyebut film sebagai alat kampanye yang paling efektif dan berdaya ingat panjang.
“Di lapangan kemanusiaan, kita selalu bicara soal kampanye dan sosialisasi, tapi film punya keunggulan, ia masuk ke ingatan orang. Lewat satu film, kita bisa menjangkau jutaan orang dan menggerakkan empati dengan cara yang lebih manusiawi,” kata Chandra.
Berangkat dari pengalaman panjangnya di wilayah konflik, bencana, hutan dan gunung-gunung, Chandra melihat bahwa masyarakat adat justru memiliki konsep resiliensi yang kuat, sesuatu yang sering terabaikan dalam narasi pembangunan modern. “Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan,” ucap Chandra.
Maira – Whisper from Papua tidak hanya mengambil lokasi di Papua, tetapi juga diciptakan bersama Papua. Sebanyak 70 persen kru adalah anak muda Papua, dan mayoritas pemeran merupakan masyarakat lokal yang menjalani pelatihan intensif selama empat bulan.
Film ini mengambil gambar langsung di kawasan pedalaman Papua, tempat hutan hujan tropis masih berdiri megah, dengan kehadiran burung cendrawasih, rangkong dan lanskap alam yang nyaris tak tersentuh. Seluruh proses produksi dilakukan dengan pendekatan kolaboratif bersama masyarakat adat, kepala suku, dan seniman lokal. “Kami tidak ingin Papua hanya jadi latar. Kami ingin ini menjadi karya bersama, dari Papua untuk hutan Indonesia,” pungkasnya.(eri/lim)

