MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Hasil uji laboratorium terhadap sampel Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi siswa SDN Kauman 1 Kota Malang mengungkap adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada olahan telur. Temuan tersebut diduga menjadi penyebab puluhan siswa mengalami sakit perut, mual hingga muntaber usai menyantap menu MBG pada Selasa (21/7). Menyusul hasil itu, Pemerintah Kota Malang menghentikan sementara distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukoharjo.
Ketua Satgas MBG Kota Malang yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Erik Setyo Santoso, mengatakan seluruh menu MBG yang dikonsumsi siswa pada Selasa (21/7) telah diuji di laboratorium. Dari hasil pemeriksaan, hanya olahan telur yang ditemukan memiliki kadar bakteri E. coli melebihi ambang batas yang diperbolehkan.
“Seluruh jenis makanan yang diproduksi dan dikonsumsi pada hari itu kami ambil sampelnya. Ada satu jenis makanan yang kadar bakteri E.Coli-nya di atas ketentuan, yaitu olahan telur,” ujar Erik kepada Malang Posco Media, Senin (27/7).
Pada hari tersebut, menu MBG yang disajikan terdiri atas nasi, capcay manis, telur ceplok kuah, tempe daun jeruk, dan susu. Dugaan keracunan baru dilaporkan sehari setelah para siswa mengonsumsi makanan tersebut, sedangkan pengambilan sampel untuk uji laboratorium dilakukan pada Kamis (23/7).
Berdasarkan hasil pemeriksaan, menu lainnya dinyatakan memenuhi standar keamanan pangan. Meski demikian, Pemkot Malang memutuskan menghentikan sementara produksi dan distribusi makanan dari SPPG Sukoharjo yang menjadi penyedia MBG bagi SDN Kauman 1.
Menurut Erik, penghentian operasional belum memiliki batas waktu. Pemerintah masih menunggu perbaikan prosedur operasional standar (SOP) produksi sekaligus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait pembinaan terhadap SPPG tersebut.
“Untuk sampai kapannya, kami akan melihat pembenahan-pembenahan dalam SOP produksi dari SPPG yang bersangkutan,” katanya.
Pemkot Malang juga terus memantau kondisi para siswa yang terdampak. Dari total 35 siswa yang dilaporkan mengalami gejala sakit perut, mual hingga muntaber, beberapa di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Erik menegaskan biaya pengobatan dan penanganan medis menjadi tanggung jawab SPPG sebagai penyedia makanan. Pemerintah daerah juga memastikan seluruh siswa mendapatkan pelayanan kesehatan hingga pulih.
“Intinya, anak-anak ini mendapatkan penanganan terbaik dan cepat pulih,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Batik Tulis Celaket, Abdul Hanan Jalil, selaku mitra SPPG Sukoharjo menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Namun, ia menilai proses penelusuran penyebab dugaan keracunan seharusnya dilakukan lebih cepat.
Menurut Hanan, pihak sekolah baru melaporkan kejadian sehari setelah siswa mengonsumsi MBG, sementara sampel makanan baru diambil untuk diuji dua hari kemudian. Kondisi itu, menurutnya, menyulitkan proses penelusuran penyebab pasti karena masih perlu dipastikan makanan lain yang dikonsumsi siswa setelah menerima MBG.
“Karena kejadiannya tidak langsung, jadi kami bingung. Seharusnya pasca makan MBG itu makan apa lagi, itu yang harus ditracking. Jadi jangan setiap persoalan ditimpakan hanya ke MBG. Sampel telur, nasi, dan semua makanan hari Selasa, itu diambil uji lab hari Kamis, kan repot juga kami. Sampel hari Selasa tapi diambil hari Kamis pukul 11.00,” ujarnya.
SPPG Sukoharjo diketahui setiap hari mendistribusikan makanan bergizi kepada 2.608 penerima manfaat, mulai jenjang TK, SD, SMP hingga SMA. Hingga saat ini, dugaan keracunan hanya dilaporkan terjadi di SDN Kauman 1, sementara belum ada laporan serupa dari sekolah lain yang menerima pasokan makanan dari SPPG tersebut. (ian/aim)

