MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Gelaran tahunan Specta Flora Festival (SFF) 2026 kembali memikat perhatian lewat hamparan bunga warna-warninya. Kamis (2/7) kemarin festival tahunan tersebut resmi dibuka di Batu Love Garden (Baloga).
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, festival bunga bergengsi ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari penuh hingga Minggu (5/7). Tahun ini, SFF hadir dengan skala yang jauh lebih besar dan semarak. Tidak tanggung-tanggung, panitia menggandeng 10 kolaborator dari lintas sektor serta melibatkan 41 pelaku UMKM yang ikut memeriahkan stan pameran.
Ketua Pelaksana SFF 2026 Dwi Lili Indayani menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar panggung hiburan semata. SFF dirancang sebagai ruang promosi strategis sekaligus upaya memperkuat ekosistem florikultura di Kota Batu. Target utamanya adalah menyokong sektor pertanian bunga lokal agar penyerapan produksi bunga potong karya petani bisa bergerak lebih optimal.
“Specta Flora Festival menjadi salah satu upaya nyata untuk mendukung pertanian bunga di Kota Batu. Harapannya, keterserapan bunga potong dari petani kita semakin baik dan produk mereka makin dikenal luas oleh masyarakat,” ujar Dwi Lili.
Sepanjang empat hari ke depan, ada sekitar 20 rangkaian kegiatan menarik yang siap menyasar berbagai segmen pengunjung. Mulai dari anak-anak hingga komunitas pencinta tanaman hias. Beberapa agenda kompetitif dan edukatif yang bisa dinikmati antara lain Floral Photography Workshop, Biodiversity Kids Trail, Lomba Merangkai Wedding Bouquet, Lomba mewarnai, menggambar, hingga menyanyi.
Selain itu, atmosfer festival akan semakin hidup dengan deretan acara tematik seperti Sepeda Hias Flora, Zumba Flower Party, Flower to Wear Competition, Lomba Fashion Baloga, Costume Carnival, hingga prosesi Gregeb Bunga yang diprediksi menjadi magnet utama bagi para wisatawan.
Apresiasi tinggi datang dari Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, yang hadir langsung untuk membuka festival. Menurutnya, SFF 2026 mengukuhkan posisi Kota Batu sebagai salah satu sentra bunga terbesar di Indonesia. Namun, ia mengingatkan agar potensi florikultura ini tidak berhenti pada tahap produksi saja.
“Perlu ada langkah konkret pada penguatan hilirisasi, inovasi, hingga ekspansi pasar. Kita ingin karya para seniman bunga (florist) dan pelaku usaha lokal tidak hanya jago kandang, tetapi mampu menembus pasar nasional hingga internasional,” tutur Heli.
Heli juga memberikan pujian khusus kepada generasi muda Kota Batu yang sukses menunjukkan semangat kolaborasi luar biasa dalam mengemas acara ini. Keterlibatan anak muda dinilai menjadi energi vital demi menjaga keberlanjutan sektor pertanian modern. Ke depan, ia berharap ada lebih banyak investasi yang masuk untuk mendongkrak kualitas, inovasi, serta diversifikasi produk pertanian di Kota Batu.
Kesuksesan SFF 2026 merupakan buah manis dari sinergi multipihak. Festival ini lahir dari kerja sama erat antara Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs), Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI), dengan dukungan penuh dari PT Pupuk Indonesia.
Tak hanya organisasi kakap, kolaborasi ini juga menyentuh berbagai komunitas lokal. Seperti Komunitas MUA SFF Glam Team, Supplier Bunga Potong Kota Batu (Bungkalas), Sinema Batu Adem (SIMBA), PERWOSI Kota Batu, Young Ambassador Agriculture (YAA) dan Duta Petani Milenial Andalan (DPMA).
Dengan memadukan unsur florikultura, ekonomi kreatif, edukasi, dan hiburan, SFF 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi destinasi wisata musiman. Event ini diproyeksikan menjadi panggung besar yang mampu mengangkat marwah dan pamor industri bunga Kota Batu ke level yang jauh lebih tinggi.(eri/lim)

