MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Sebagai magnet wisata utama di Jawa Timur, Kota Batu tidak pernah absen dari serbuan ratusan ribu pelancong setiap kali musim liburan sekolah tiba. Kombinasi antara udara pegunungan yang sejuk, lanskap alam yang memukau, serta menjamurnya destinasi wisata modern membuat kota ini selalu dipadati pengunjung.
Namun, di balik perputaran roda ekonomi dan keceriaan liburan tersebut, ada harga mahal yang harus dibayar: ledakan volume sampah yang luar biasa. Kehadiran wisatawan dalam jumlah besar otomatis memicu lonjakan produksi limbah. Mulai dari sampah plastik kemasan makanan, botol minuman, hingga sisa-sisa kuliner organik tampak memenuhi berbagai sudut kota.
Menghadapi fenomena musiman ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu dipaksa bekerja ekstra keras demi menjaga estetika kota agar tetap bersih dan nyaman dipandang. Perbedaan volume sampah antara hari-hari biasa dengan masa liburan terasa sangat kontras. Menurut Rudi Eko Prasetyo, Koordinator Kebersihan sekaligus Koordinator Penyapu Jalan DLH Kota Batu, peningkatan jumlah sampah selama musim libur sekolah ini terjadi secara merata, baik di jalur-jalur protokol maupun jalur alternatif.
“Jika berkaca pada hari biasa, volume sampah cenderung stabil dan mudah dikendalikan. Namun, begitu memasuki masa libur panjang sekolah yang berbarengan dengan akhir pekan atau libur nasional, grafiknya langsung naik tajam,” ujar Rudi kepada Malang Posco Media, Selasa (7/7) kemarin.
Rudi memaparkan bahwa pada hari kerja (weekday) di musim liburan, kenaikan sampah berada di kisaran 35 persen. Angka tersebut akan semakin membumbung tinggi saat memasuki akhir pekan.
“Pada hari Sabtu dan Minggu, yang merupakan puncak kunjungan wisatawan, lonjakan sampah bisa menyentuh angka 40 persen dibandingkan hari biasa. Ini adalah angka yang sangat besar dan menuntut kesiapan total dari seluruh tim kami di lapangan,” jelasnya.
Bagi DLH Kota Batu, gunungan sampah adalah konsekuensi logis yang tidak bisa dihindari oleh sebuah daerah berbasis industri pariwisata. Alih-alih mengeluh, mereka memilih fokus pada solusi penanganan yang cepat dan tepat. Targetnya jelas untuk memastikan wisatawan tetap betah dan menjaga reputasi Kota Batu sebagai daerah yang bersih, indah, serta bebas dari kesan kumuh.
“Untuk mengesekusi target tersebut, DLH menerapkan langkah-langkah taktis sebagai berikut. Di antaranya penebalan personel jumlah pasukan penyapu jalan dan petugas evakuasi sampah di titik-titik keramaian. Seperti kawasan Alun-Alun Kota Batu dan jalan-jalan utama ditambah hingga tiga kali lipat,” terangnya.
Kemudian diterapkan perpanjangan jam kerja dengan mengerahkan petugas secara sif mulai dari pagi hari, siang hari mulai jam 12.00 WIB dan 13.00 WIB hingga malam hari pukul 21.00 WIB. Juga jam operasional truk pengangkut, motor roda tiga (tosa), hingga mobil operasional Panther ditambah. Jadwal pengangkutan diatur secara berkala mulai pukul 06.00 WIB, dilanjutkan pukul 08.00 WIB, dan seterusnya.
“DLH menyiagakan satu hingga dua mobil darurat khusus. Armada ini berfungsi untuk merespons cepat laporan incidental. Seperti sampah yang tercecer atau adanya aksi buang sampah sembarangan oleh oknum tidak bertanggung jawab,” imbuhnya. Langkah antisipatif ini dinilai sangat krusial. Pasalnya, daya jual utama Kota Batu terletak pada keindahan alam dan kesejukan lingkungannya. Jika citra bersih tersebut rusak akibat tumpukan sampah yang terlambat diangkut dan menimbulkan bau menyengat, dikhawatirkan hal itu akan menurunkan minat wisatawan untuk kembali berkunjung di masa depan. (eri/lim)

