Sulap Pakcoy Jadi ‘Alpukat’, Solusi Nyata Diburu para Ibu

Berita Lainya

Berita Terbaru

Kisah Widjianto Menyuapi Nutrisi Lewat Lembutnya Es Krim

Pagi baru saja merekah di Dusun Jurangkuwung, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji. Di dalam sebuah greenhouse yang sejuk, langkah kaki Widjianto membelah keheningan. Tangannya yang cekatan menyiram barisan selada keriting dan pakcoy yang tumbuh subur. Hijau dedaunan di sana bukan hijau biasa; itu adalah warna dari sebuah ketelatenan yang tumbuh dari tanah yang dirawat tanpa setetes pun bahan kimia.

MALANG POSCO MEDIA – Sejak tahun 2012, Widjianto memilih jalan sunyi sebagai petani organik. Sebuah keputusan yang diambil karena rasa sayang kepada bumi yang kian jenuh akibat pupuk kimia. Namun, perjuangan Widjianto ternyata tidak berhenti di urusan menyembuhkan tanah. Di tangannya, sayur organik kini menjelma menjadi penyelamat bagi para orang tua yang pusing menghadapi anak-anak yang antipati terhadap sayuran (picky eater).

“Tester pertama saya waktu itu pakai pakcoy. Banyak yang mencoba dan bilang rasanya mirip alpukat. Mereka sama sekali tidak tahu kalau yang mereka makan itu sebenarnya sayur,” kenang Widjianto sembari tersenyum.

Ide unik ini sebenarnya lahir dari dua keresahan. Pertama, melihat anak-anak kecil yang langsung membuang muka saat disodori sayur di meja makan. Kedua, urusan perut dapur: serapan pasar terkadang tidak mampu menampung melimpahnya hasil panen sayur organiknya.

Alih-alih membiarkan hasil keringatnya membusuk sia-sia, Widjianto memutar otak. Momentum itu datang pada tahun 2023, saat ia ditantang mengikuti kompetisi Inovasi Sayur Organik Jawa Timur. Widjianto tidak ingin sekadar membuat camilan manis yang miskin nutrisi. Ia ingin produknya benar-benar sehat.

Maka, diraciklah formula khusus. Ia mengganti gula pasir dengan madu murni. Untuk susunya, ia menggandeng peternak sapi perah lokal di kelompoknya sendiri sebuah kolaborasi silang yang menghidupkan ekonomi desa. Sayuran segar seperti pakcoy, bayam, hingga wortel diolah menjadi puree lembut, lalu dipadukan dengan kesegaran buah blackberry atau stroberi untuk memikat mata anak-anak.

Hasilnya? Sebuah perpaduan rasa manis, asam, lembut, dan dingin yang sempurna. Inovasi cerdas ini sukses mengantarkannya menyabet juara ketiga di tingkat Provinsi Jawa Timur.

Kini, es krim buatan Widjianto bukan lagi sekadar eksperimen di atas kertas kompetisi. Produk ini telah menjadi solusi nyata yang diburu para ibu. Meski diproduksi berdasarkan pesanan karena keterbatasan alat penyimpanan, gaung es krim sehat ini sudah terdengar hingga Ponorogo bahkan menyeberang ke Lampung.

“Sering ada orang tua yang datang ke sini langsung untuk ambil beberapa kali. Kadang kami juga mengirim pasokan ke TK atau PAUD di sekitar Kota Batu,” jelas Widjianto.

Melalui Tim Pendamping Pertanian (TPP), puluhan cup es krim sayur ini rutin didistribusikan. Harganya pun sangat merakyat, hanya Rp 5 ribu per wadah. Sebuah harga yang murah demi menebus investasi gizi anak bangsa.

Tantangan terbesar Widjianto saat ini ada pada daya tahan. Karena berkomitmen penuh tanpa bahan penstabil kimia, es krim ini sangat sensitif terhadap suhu ruang dan harus segera masuk mesin pendingin. Namun jika disimpan rapi di dalam freezer, camilan padat nutrisi ini mampu bertahan hingga satu bulan tanpa mengurangi kualitas gizinya sedikit pun.

Bagi Widjianto, setiap cup es krim yang membeku adalah wujud lain dari filosofi kesabaran yang ia tanam di tanah Bumiaji. Ia membuktikan bahwa kreativitas seorang petani lokal dari lereng gunung mampu menjawab tantangan gizi nasional. Di tangan dinginnya, sayur organik tidak hanya menyembuhkan tanah yang sakit, tetapi juga merawat senyum dan masa depan generasi penerus bangsa. (eri/bua)

Pilihan Editor