MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Musim libur sekolah Juni-Juli 2026 benar-benar menjadi ladang emas bagi perekonomian Kota Batu. Tak sekadar macet dan ramai, kehadiran ratusan ribu pelancong di kota dingin ini sukses memutar roda ekonomi dalam skala yang luar biasa.
Berdasarkan analisis data terbaru, perputaran uang dari kantong wisatawan di Kota Batu diprediksi telah menembus angka fantastis, yakni Rp 435,19 Miliar hanya dalam waktu kurang dari tiga pekan.
Asumsi ini dihitung berdasarkan rata-rata pengeluaran satu orang wisatawan yang mencapai Rp 1,2 juta per hari. Komponen pengeluaran tersebut mencakup biaya menginap di hotel, tiket masuk destinasi wisata, berburu oleh-oleh khas, wisata kuliner di restoran/ kafe, hingga biaya transportasi lokal selama di Batu.
Dengan total akumulasi sementara sebanyak 362.661 kunjungan yang tercatat sejak 22 Juni hingga 8 Juli atau Rabu (8/7) sore, perputaran modal di sektor ekonomi kreatif dan pariwisata Batu langsung meroket tajam. Dahsyatnya lagi, angka Rp 435 Miliar ini diprediksi baru permukaan, karena data laporan yang masuk dari para pelaku usaha ke Dinas Pariwisata baru berkisar 30,38 persen.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto, S.Sos., M.M., mengungkapkan rasa optimisnya yang tinggi melihat ledakan ekonomi di paruh pertama periode liburan ini. “Kami melihat antusiasme masyarakat untuk berlibur ke Kota Batu tahun ini sangat luar biasa. Angka 362 ribu kunjungan ini baru data sementara yang masuk sekitar 30 persen dari total pelaku usaha. Kami optimis angka riil perputaran ekonomi di lapangan jauh lebih besar dan akan terus bergerak naik hingga akhir periode liburan nanti,” ujar Onny kepada Malang Posco Media, Kamis (9/7).
Jika dibedah lebih dalam, uang wisatawan mengalir deras ke dua sektor utama yang menjadi pilar pariwisata Kota Batu. Yakni magnet Daya Tarik Wisata (DTW), sektor ini menjadi primadona utama dengan akumulasi 332.019 kunjungan. Wahana rekreasi, wisata alam, dan edukasi sukses menyedot perhatian rombongan keluarga dan anak sekolah. Pada Rabu (8/7) saja, 4.810 pelancong memadati berbagai objek wisata dalam satu hari.
Kemudian di sektor Akomodasi dan Perhotelan sebanyak 29.850 orang memilih menghabiskan malam di Kota Batu. Tingginya minat staycation ini mendongkrak tingkat hunian (okupansi) hotel harian pada tengah pekan (8/7) mencapai 79,87 persen, sebuah angka yang luar biasa tinggi untuk hari kerja (weekday).
Perlu dicatat, data agregat Rp 435 Miliar ini bahkan belum memasukkan secara penuh pergerakan wisatawan di sektor kuliner mandiri (kafe/ restoran yang berdiri sendiri) serta akomodasi berbasis komunitas seperti homestay dan vila yang belum menyetorkan laporan periodik. Bisa dibayangkan betapa masifnya uang yang berputar di tingkat akar rumput.
Menanggapi fenomena panen raya ini, Mantan Kadiskominfo ini mengingatkan para pelaku industri perhotelan dan wisata untuk tidak terlena dan tetap menjaga kualitas pelayanan.
“Tingginya okupansi harian yang menyentuh hampir 80 persen ini menjadi bukti bahwa Kota Batu masih menjadi pilihan utama. Saya berpesan kepada seluruh manajemen hotel dan akomodasi untuk menjaga kualitas layanan (hospitality), kebersihan, dan keselamatan agar wisatawan merasa aman dan membawa cerita baik saat pulang,” tambahnya.
Dengan sisa masa libur sekolah yang tinggal tiga hari ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan kelompok sadar wisata (pokdarwis) diharapkan terus diperketat. Tujuannya satu untuk memastikan ekosistem wisata Kota Batu tetap kondusif, nyaman, ramah anak, dan tentunya terus mendatangkan cuan bagi masyarakat lokal. (eri/lim)

