MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Pemkot Malang berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian seni bela diri pencak silat sebagai warisan tradisi luhur bangsa. Masyarakat, terutama generasi muda, diajak untuk ikut melestarikan seni bela diri asli dari Indonesia tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, saat menghadiri acara Syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Silat Nasional Perisai Diri yang digelar di Hotel Tuwuh, Minggu (12/7).
Tidak hanya penting untuk melestarikan warisan budaya luhur, Wahyu menegaskan pencak silat juga sekaligus sebagai sarana mencetak prestasi. Sehingga, banyak hal positif yang dapat diserap oleh para generasi muda melalui olahraga ini.
“Pencak silat ini adalah tradisi luhur yang betul-betul harus kita lestarikan. Banyak hal yang kita dapatkan di sini, mulai dari kedisiplinan, jiwa patriot, kejujuran, hingga sikap tegas,” tegas Wahyu.
Terkait dengan perkembangan prestasi di Kota Malang, Wahyu memberikan apresiasi atas raihan yang telah dicapai oleh para atlet silat di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Malang. Dalam beberapa ajang terakhir, atlet pencak silat Kota Malang terbukti sukses telah membawa pulang medali emas di tingkat Kejurprov dan Kejurnas
Kendati demikian, Wahyu mengingatkan agar jajaran pengurus dan atlet tidak cepat puas. Ia berharap pembinaan atlet dapat dilakukan secara lebih intensif demi menghadapi target besar di masa mendatang, salah satunya dalam persiapan menghadapi kompetisi Porprov di Surabaya.
“Harapan ke depan, kita bisa mendapatkan medali yang lebih banyak lagi dari kemarin. Apalagi target kita di Surabaya nanti adalah 222 medali. Ini harus benar-benar kita usahakan dan persiapkan agar bisa tercapai,” beber dia.
Sementara itu Ketua Umum Kelompok Silat Nasional Perisai Diri, Prof. Dr. Ir. Dwi Soetjipto menekankan pentingnya menjaga persatuan di momentum di hari jadi ke-71 organisasi dengan anggota pesilat yang telah tersebar ke lima benua ini. Dengan organisasi yang semakin besar dan meluas, potensi terjadinya perpecahan menjadi semakin rawan.
“Sesuatu yang semakin meluas, besar, itu rawan perpecahan, dan ini yang harus kita tekankan, mengingatkan untuk bersatu,” tutur Dwi.
Tidak hanya itu, Dwi juga sepakat dengan Wali Kota Malang untuk melestarikan seni bela diri ini sekaligus meningkatkan prestasinya. Dwi mengungkapkan, pihaknya di Perisai Diri telah memiliki kurikulum pembinaan yang dibagi berdasarkan kelompok umur yang spesifik, bahkan untuk usia dini dari usia 3-5 tahun hingga 5-9 tahun.
Berbeda dengan kategori dewasa yang menekankan pada pertarungan intensif (fight), pola kompetisi untuk usia dini dirancang dengan pendekatan yang berbeda. “Untuk yang usia dini akan lebih mengarah kepada permainan, kegembiraan, dan bagaimana menciptakan suasana yang happy,” pungkasnya. (ian/aim)

