Di tengah derasnya arus digitalisasi dan harga buku baru yang terus meningkat, masih ada orang-orang yang memilih berjuang menjaga lembar demi lembar pengetahuan agar tidak berakhir di tempat daur ulang. Itulah yang dilakukan Onella Martha Ganessa melalui Bengkel Kanaka Buku di Jalan Tondano Dalam, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.
MALANG POSCO MEDIA – Perempuan yang akrab disapa Mbak Onil itu membuktikan bahwa buku bekas bukan sekadar barang lama. Ia bersama beberapa kerabatnya, berjuang di tengah disrupsi informasi, dan seringnya buku hanya habis didaur ulang. Di tangannya, setiap buku memiliki kesempatan kedua untuk kembali menemukan pembacanya.
Bengkel Kanaka Buku memang baru berdiri pada 2024. Namun jauh sebelum memiliki toko fisik, Onil telah lebih dulu menjual buku-buku bekas melalui berbagai platform e-commerce.
Seiring berjalannya waktu, perubahan kebijakan dan meningkatnya biaya operasional di platform digital membuatnya mengambil keputusan besar. Ia memilih membuka toko agar bisa bertemu langsung dengan para pembaca.
“Seiring meningkatnya pajak di platform e-commerce, saya memberanikan diri membuka toko secara luring atau offline, supaya bisa berinteraksi langsung dengan pembeli juga,” ujarnya.
Keputusan itu bukan semata-mata untuk berdagang. Onil memiliki misi yang lebih besar, yakni menyelamatkan buku-buku yang sudah tidak diinginkan pemiliknya agar tidak berakhir menjadi limbah.
Menurutnya, banyak orang membuang koleksi buku ketika merasa sudah selesai membacanya. Padahal, buku-buku tersebut masih layak dinikmati oleh orang lain.
“Kami ibarat penjaga terakhir literasi. Buku-buku yang hampir dibuang itu kami carikan pembaca barunya,” katanya.
Karena itu, seluruh koleksi yang dijual dipastikan merupakan buku asli terbitan penerbit resmi, bukan hasil pembajakan. Untuk mendapatkannya, Onil berburu hingga ke berbagai daerah, mulai Jawa Tengah, Jakarta, hingga melalui jaringan sesama kolektor buku.
Perburuan tersebut kerap membawanya menemukan buku-buku langka bernilai sejarah tinggi. Salah satunya karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer.
Meski sebagian karya Pramoedya telah dicetak ulang, banyak kolektor tetap memburu edisi pertama terbitan Hasta Mitra yang memiliki nilai historis lebih tinggi.
Bahkan, Onil menyimpan satu koleksi istimewa berupa buku Sang Pendukung Kristus karya Pramoedya Ananta Toer terbitan tahun 1954. Buku tersebut pernah ditawar hingga Rp5,5 juta, tetapi ia memilih mempertahankannya sebagai koleksi pribadi.
“Kalau yang itu memang tidak saya jual karena punya nilai sejarah yang sangat tinggi,” ungkapnya.
Rak-rak di Bengkel Kanaka Buku dipenuhi beragam genre, mulai novel, sejarah, ensiklopedia, buku anak hingga buku pengembangan diri. Harganya pun ramah di kantong, mulai Rp7.000 hingga jutaan rupiah untuk koleksi langka.
Sebagian besar pengunjung datang mencari novel klasik maupun buku sejarah yang sudah sulit ditemukan di toko buku umum.
Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan layar gawai, Bengkel Kanaka Buku menjadi pengingat bahwa aroma kertas, jejak tinta, dan cerita dalam buku cetak masih memiliki tempat tersendiri.
Bagi Onil, setiap buku bekas bukanlah barang usang, melainkan warisan pengetahuan yang layak terus berpindah tangan, dibaca, dan menginspirasi generasi berikutnya. (rex/bua)

