Di tangan Saipul, seutas benang bukan sekadar alat untuk memenangi laga combat kite atau layangan aduan di berbagai kota besar. Namun juga tali kendali yang menerbangkan asa ekonomi para pengrajin lokal.
MALANG POSCO MEDIA – Layang-layang bukan lagi sekadar mainan dan hiburan bocah. Permainan tradisional ini telah bertransformasi menjadi ajang mendulang prestasi melalui perlombaan lintas generasi, sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif pengrajin layang-layang.
Pegiat layang-layang aduan, Saipul, pria asal Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen, Kota Malang, menjadi bukti nyata bagaimana sebuah hobi masa kecil mampu bertransformasi menjadi prestasi dan bernilai ekonomi.
Saipul mengaku kecintaannya pada permainan layang-layang sejak kecil. Sejak tahun 1995, ia kemudian mengikuti kompetisi layang-layang.
“Saya ikut kompetisi layang-layang sejak tahun 1995 dengan berkeliling ke kota-kota lain,” ujar Saipul kepada Malang Posco Media, Minggu (19/7).
Memasuki tahun 2000an, ia melihat tren layang-layang semakin bergairah. Saipul pun lebih aktif.
Pria berusia 45 tahun itu telah melanglang buana ke kota besar nasional untuk mengikuti ajang perlombaan layang-layang. Yaitu combat kite atau layangan aduan (layangan sambetan), perlombaan memutus benang layangan lawan di udara.
Baru – baru ini, Saipul telah mengikuti kompetisi tersebut di beberapa daerah seperti Jakarta, Bogor, dan Depok.
Disampaikannya, timnya meraih juara satu dengan hadiah senilai Rp 40 juta dalam kompetisi bertema Amiera x Phantom yang digelar di Stadion Iwul Bogor. 128 layangan aduan berkompetisi dalam kegiatan ini.
Tak hanya itu, prestasi perlombaan layang-layang yang diikuti Saipul juga turut meyeretnya bertemu dengan pejabat. Seperti Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo.
Dalam kompetisi tingkat nasional itu, Saipul meraih juara harapan satu freestyle dengan hadiah Rp 1 juta.
“Kami pelayang se-Indonesia diundang oleh Mas Rio (Bupati Situbondo) event gratis,” lanjut pria yang akrab disapa Cak Ipul, tersebut.
Ia menambahkan bahwa permainan layang-layang telah bertransformasi menjadi bagian olahraga dan masuk dalam komite olahraga masyarakat Indonesia (KORMI).
Di Malang sendiri tercatat ada sekitar 50 komunitas layang-layang yang tersebar di berbagai wilayah. Komunitas-komunitas ini menjadi wadah silaturahmi, saling tukar pendapat, hingga belajar bersama merakit layangan dan teknik dalam perlombaan. “Di Malang ekosistem event atau perlombaan layang-layang sangat bagus dan positif, dapat mengurangi anak-anak main HP hingga mencegah kenakalan,” tutup Saipul. (den/van)

