Akmal dan Asyifa Sulap Limbah Biji Mangga Jadi Minyak Goreng Alternatif

Berita Lainya

Berita Terbaru

Perjuangan Riset Arek Malang hingga Sukses Ciptakan Inovasi

Hari ini Peringatan Hari Anak Nasional (HAN). Anak-anak Kota Malang punya prestasi luar biasa. Prestasi karena inovasi yang berdampak nyata bagi dunia. Itu dibuktikan Muhammad Ibnu Akmal Zahi dan Asyifa Nuriya Zahra, dua pelajar berprestasi dari  MAN 2 Malang.

MALANG POSCO MEDIA-Berbekal rasa ingin tahu yang tinggi, kepedulian terhadap lingkungan, serta ketekunan luar biasa, Ibnu Akmal Zahi dan Asyifa Nuriya Zahra berhasil membuat inovasi yang cukup revolusioner.

Yakni mengubah limbah biji mangga menjadi minyak goreng alternatif yang diberi nama Arum Oil. Inovasi brilian ini sukses mengantarkan mereka meraih Silver Medal (Medali Perak) dalam ajang bergengsi International Student Festival yang dihelat pada 4-6 Juli 2026.

Sekitar awal 2025 lalu, Akmal dan Asyifa merasa gelisah melihat tingginya ketergantungan masyarakat terhadap minyak kelapa sawit. Dari situlah, Akmal dan Asyifa mulai melakukan riset. 

“Kami mencari lebih dalam, apa solusi yang jarang disediakan untuk mengatasi masalah itu,’’ kata Akmal.

Apalagi mereka ingin  minyak yang digunakan memiliki banyak manfaat. “Jadi kami mencoba mencari bahan lain yang bisa dijadikan alternatif,” sambung Akmal.

Mereka kemudian menemukan ide ‘random’ ketika melirik tumpukan biji mangga di belakang madrasah tempat sekolah. Biji mangga itu berasal dari para pedagang jus buah. Melihat tumpukan limbah terbuang begitu saja, Akmal dan Asyifa langsung melakukan riset lebih jauh.

“Kami melihat biji mangga itu kayak nggak terpakai dan langsung dibuang. Dari situ kami langsung mencari, kira-kira biji mangga ini apakah memang betul berpotensi sebagai minyak goreng atau tidak,” tambah  Asyifa, gadis kelahiran 10 Oktober 2008 tersebut.

Sejak saat itulah, rasa penasaran itu berlanjut ke  riset mendalam terhadap biji mangga di   laboratorium. Dua remaja ini bahkan melakukan riset di Universitas Brawijaya (UB) dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Mereka menerapkan metode modern UAE (Ultrasound-Assisted Extraction) agar proses ekstraksi minyak dari biji mangga berjalan lebih efektif. Tantangan demi tantangan, mulai dari keterbatasan bahan baku musiman hingga rumitnya proses uji laboratorium, mereka hadapi dengan telaten.

Perjuangan pun belum selesai. Akmal dan Asyifa harus menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti lomba yang digelar di Lombok, NTB itu. Dari Malang ke Lombok rela naik bus.

Jerih payah itu pun akhirnya berbuah manis ketika hasil laboratorium menunjukkan bahwa minyak goreng dari biji mangga itu tidak hanya jernih dan layak pakai, tetapi juga memiliki tekstur unik yang potensial digunakan sebagai margarin sehat.

“Di situ terdapat senyawa-senyawa yang unggul, saking banyaknya saya lupa dan itu menjadikan minyak biji mangga ini lebih bagus daripada kelapa sawit. Hasil dari ekstrak minyaknya pun lebih jernih,” beber Asyifa, alumnus MTsN 2 Kota Malang tersebut.

Hasil inovasi ini pun terbukti sukses ketika diangkat dalam lomba esai tingkat internasional. Akmal dan Asyifa sukses meraih juara kedua atau meraih medali perak di International Student Festival pada 4-6 Juli 2026 lalu. Meski berhasil meraih predikat juara, mereka tidak jumawa dan mengakui masih ada tantangan yang menjadi PR mereka.

“Untuk mencari mangga juga kesusahan karena tergantung musim. Jadi, ini apakah bisa dijadikan buat alternatif? Belum bisa, soalnya dari bahannya   masih bermusim, ” kata Akmal, alumnus SMP Islam Sabilillah tersebut.

Oleh karenanya, kedepan ini, mereka belum muluk-muluk ingin langsung produksi massal dan mengkomersilkan inovasinya. Sebaliknya, keduanya masih ingin melakukan riset lebih jauh untuk menyempurnakan inovasinya.

“Kami masih ingin coba-coba, apa yang bisa diperbaiki dan disempurnakan lagi. Terutama jumlah mililiternya, karena kami merasa masih sedikit. Kami ingin evaluasi itu, kami ingin mendapatkan hasil yang lebih, supaya bisa dikonsumsi dengan lebih baik oleh masyarakat,” tutur Akmal.

Terlepas dari itu, perjuangan dan perjalanan riset kedua anak bangsa ini adalah bukti dan potret nyata tentang apa yang bisa dicapai anak-anak Indonesia ketika potensi mereka diwadahi dengan tepat. Dukungan penuh dari pihak madrasah dan keluarga menjadi kunci penting dalam menumbuhkan iklim inovasi sejak dini.

Di momen Hari Anak yang diperingati pada 23 Juli ini, pencapaian dua remaja MAN 2 Malang tersebut menjadi pengingat berharga bagi semua pihak. Yakni bahwa anak-anak bukan sekadar penerima masa depan, melainkan arsitek masa depan itu sendiri.

Dari biji mangga yang dibuang di tempat sampah, Akmal dan Asyifa telah mengajarkan bahwa tangan-tangan muda mampu mengubah hal yang remeh menjadi sesuatu yang bernilai emas.

“Semoga ke depannya tidak hanya biji mangga yang bisa dijadikan minyak goreng, semoga bisa ditemukan bahan-bahan lain yang lebih mudah ditemukan untuk menjadi alternatif. Semoga inovasi ini nanti juga bisa memberikan manfaat lebih kepada masyarakat,” pungkas Akmal, Arek Malang kelahiran 12 Juni 2009 ini. (ian/van)

Pilihan Editor