MALANG POSCO MEDIA- Batu Creative Hub (BCH) menatap target besar dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun ke depan. Tidak main-main, wadah kolaborasi ekonomi kreatif di Kota Wisata ini tengah bersiap membawa Kota Batu menembus jaringan global UNESCO Creative Cities Network (UCCN) lewat penajaman identitas City of Gastronomy berbasis budaya dan pangan lokal.
Koordinator BCH periode 2024–2027, Alan W. Hadiludin, mengungkapkan bahwa visi strategis tersebut dirancang untuk mengoptimalkan potensi besar Kota Batu yang tidak lagi hanya bertumpu pada keindahan alam, melainkan pada inovasi masyarakatnya. Salah satu strategi utama yang diusung adalah memperkuat konsep “Batu Agrokreatif”.
“Konsep Agrokreatif ini mengintegrasikan sektor pertanian sebagai hulu dengan kreativitas sebagai proses hilirisasi. Produk pertanian lokal akan diberi nilai tambah tinggi melalui sentuhan desain, inovasi produk, branding, hingga digitalisasi pemasaran global,” jelas Alan.
Langkah ini dirasa krusial di tengah pergeseran tren pariwisata modern. BCH kini gencar mendorong transformasi dari pariwisata konvensional menuju creative tourism atau pariwisata berbasis pengalaman kreatif.
Melalui pendekatan ini, pelancong yang datang ke Kota Batu tidak sekadar melihat pemandangan atau mendatangi taman hiburan buatan, melainkan diajak terlibat langsung dalam lokakarya kriya, wisata gastronomi, jelajah kampung kreatif, hingga merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat lokal. Strategi ini diyakini mampu memperlama masa tinggal (length of stay) wisatawan serta memeratakan perputaran ekonomi di akar rumput.
Kendati demikian, Alan mengakui bahwa menyelaraskan gerak komunitas kreatif dengan pemerintah daerah memiliki tantangan tersendiri, terutama karena adanya perbedaan paradigma kerja.
Pemerintah dibatasi oleh regulasi dan birokrasi yang rigid, sementara komunitas bergerak secara cair, fleksibel, dan eksperimental. Di sinilah BCH mengambil peran vital sebagai agregator ekosistem yang menjembatani bahasa birokrasi dengan kebutuhan riil pelaku kreatif di lapangan.
Menghadapi tantangan teknologi ke depan, termasuk masifnya kecerdasan buatan, Alan menegaskan bahwa BCH memandang Artificial Intelligence (AI) sebagai peluang meningkatkan produktivitas, bukan ancaman. AI mulai diperkenalkan kepada para pelaku kreatif untuk analisis pasar, optimalisasi konten, hingga efisiensi bisnis. Namun, ia menekankan bahwa orisinalitas manusia tetap menjadi kunci.
“AI bisa membantu akselerasi, namun kreativitas, empati, intuisi, dan nilai budaya lokal adalah keunggulan utama talenta Kota Batu yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin mana pun. Kami ingin generasi muda mengambil peran ini, menjadikan industri kreatif sebagai ruang pengabdian baru demi pembangunan daerah yang berkelanjutan,” pungkasnya. (eri/van)

