MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menerima peserta Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Papua tahun 2026. Sebanyak 152 siswa asal Papua dan 120 siswa repratiasi, resmi mengikuti pembekalan dan serah terima sebelum menempuh pendidikan di berbagai SMA dan SMK Jawa Timur di Hotel Aria Gajayana Malang, Sabtu (11/7) siang.
Kegiatan tersebut, menjadi penanda dimulainya proses pendidikan bagi ratusan pelajar Papua yang akan belajar selama tiga tahun di 33 SMA dan SMK yang tersebar di 11 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Para peserta berasal dari 11 daerah di Papua, dengan sebaran terbanyak dari Papua Pegunungan sebanyak 40 siswa, disusul Papua Selatan 35 siswa, Papua/Jayapura 32 siswa, Papua Tengah 30 siswa, dan Papua Barat 15 siswa.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat kepada Jawa Timur merupakan amanah untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh akses pendidikan yang berkualitas tanpa memandang latar belakang daerah asalnya.
“Program ADEM merupakan bentuk nyata pemerataan kesempatan belajar sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik). Apresiasi ini diberikan usai kembali menunjuk Jawa Timur sebagai salah satu provinsi penyelenggara program tersebut.
Khofifah menegaskan, seluruh peserta ADEM bukan sekadar menjadi siswa di Jawa Timur, melainkan telah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Jawa Timur.
“Karena itu, pemerintah berkomitmen memberikan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta pendampingan yang mampu mendukung pengembangan karakter dan potensi para siswa,” lanjutnya didampingi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai.
Khofifah turut menitipkan para peserta kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidik di sekolah penyelenggara agar memberikan pendampingan layaknya orang tua selama proses pendidikan berlangsung. Menurutnya, keberhasilan Program ADEM tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari keberhasilan membentuk karakter dan kemampuan beradaptasi para peserta di tengah keberagaman.
“Jarak geografis tidak boleh menjadi jarak kesempatan. Pendidikan harus menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi anak-anak Papua dengan masa depan Indonesia,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Vernando Wanggai mengatakan, bahwa program ADEM tidak hanya bertujuan memperluas akses pendidikan bagi putra-putri Papua. Akan tetapi, juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antardaerah melalui interaksi lintas budaya, bahasa, adat istiadat, dan kebiasaan.
“Nilai toleransi, gotong royong, serta cinta tanah air diharapkan tumbuh selama para siswa menjalani pendidikan di Jawa Timur,” sebutnya.
Ia juga berpesan agar para siswa memanfaatkan kesempatan belajar dengan sungguh-sungguh serta membangun karakter yang disiplin, jujur, dan bertanggungjawab. Ia berharap para peserta dapat memperkenalkan budaya Papua kepada masyarakat Jawa Timur, sekaligus mempelajari budaya lokal sebagai wujud penguatan persatuan dalam keberagaman.
“Kami berharap setelah menyelesaikan pendidikan nanti, para peserta tidak hanya membawa ijazah ketika kembali ke Papua, tetapi juga membawa ilmu pengetahuan, pengalaman, semangat gotong royong, dan wawasan kebangsaan untuk membangun daerah asal masing-masing,” tandasnya.
Salah satu siswa peserta program ADEM 2026, Benyinya Dumuta Wemagi asal Provinsi Papua Selatan mengaku senang bisa terpilih mengikuti program tersebut. Meskipun harus jauh dari keluarga, dan kerabatnya ia memilih untuk merantau sejak usia muda.
“Saya diterima setelah lewat tes secara online yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Mappi, kemudian sampai tes ke Merauke, dan saya terpilih. Sekarang diterima di SMA Negeri 4 Kediri,” sebutnya.
Ia mengaku senang, dan bersemangat untuk mengikuti berbagai proses yang ada.
“Saya juga ingin meningkatkan kualitas diri, agar bisa membawa manfaat ke keluarga dan kampung halaman. Saya ikut ini, karena berangkat dari keluarga tak mampu, ayah saya seorang nelayan. Kelak saya ingin masuk Akademi Kepolisian (Akpol) dan bermanfaat untuk kampung halaman saya,” pungkasnya. (rex/jon)

