MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Semangat gotong royong kembali hidup di Kota Malang. Empat komunitas kemanusiaan berkolaborasi menggelar aksi bedah rumah untuk Agus Leo, relawan kemanusiaan sekaligus pendiri Regu Penolong Malang Raya, yang selama ini dikenal aktif membantu masyarakat namun tinggal di rumah yang sudah tidak layak huni.
Aksi sosial tersebut berlangsung di rumah Agus Leo di Jalan Kolonel Sugiono Gang 2 Nomor 33, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Minggu (19/7). Program ini diprakarsai Yayasan Gubuke Wong Ngalam (GWN) bersama Brigade Penolong 1332 Jawa Timur, Laskar Sedekah Malang, dan Ikatan Sedulur Sosial Malang (ISSOMA), dengan melibatkan warga sekitar.

Sedikitnya 30 relawan diterjunkan untuk membongkar sekaligus memperbaiki bagian rumah yang rusak. Seluruh proses renovasi ditargetkan selesai dalam waktu tiga hari agar Agus Leo bersama keluarganya dapat kembali menempati rumah yang lebih aman dan nyaman.
Ketua Yayasan Gubuke Wong Ngalam (GWN), Lili Ulifah, mengatakan program tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus kepedulian terhadap sesama relawan yang selama ini lebih banyak mengabdikan diri membantu masyarakat.
“Selama ini Pak Agus selalu hadir ketika ada kegiatan kemanusiaan. Sekarang giliran kami bersama teman-teman komunitas bergotong royong membantu beliau agar memiliki tempat tinggal yang layak,” ujarnya di lokasi.
Lili menjelaskan, Agus Leo dikenal sebagai salah satu pendiri Regu Penolong Malang Raya dan aktif bersama Brigade Penolong 1332 Jawa Timur dalam berbagai aksi sosial. Mulai dari penggalangan dana, pendirian dapur umum saat bencana, hingga membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ironisnya, di balik pengabdiannya tersebut, kondisi rumah yang ditempati Agus bersama keluarganya justru memprihatinkan. Beberapa bagian bangunan mengalami kerusakan cukup parah, bahkan area dapur sudah tidak memiliki atap yang layak.
“Dapur sudah tidak ada atapnya dan memang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Alhamdulillah sekarang banyak teman-teman komunitas yang ikut membantu,” katanya.
Menurut Lili, pihaknya sebenarnya telah mengupayakan bantuan melalui jalur pemerintah. Namun, setelah menunggu sekitar tiga bulan, bantuan tersebut belum juga terealisasi.
“Selama ini pemilik rumah belum pernah mendapatkan bantuan bedah rumah. Baru kali ini teman-teman komunitas bergerak bersama memperbaiki rumah beliau,” ungkapnya.
Selain menghadapi persoalan tempat tinggal, kondisi ekonomi keluarga Agus juga terbatas. Kepala keluarga dari dua kepala keluarga (KK) yang tinggal di rumah tersebut hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, kolaborasi lintas komunitas dinilai menjadi solusi cepat agar rumah tersebut segera kembali layak dihuni. Seluruh kebutuhan renovasi dipenuhi melalui swadaya, donasi, dan gotong royong para relawan.
Lili menambahkan, program bedah rumah merupakan agenda sosial yang rutin dijalankan Yayasan GWN sejak 2015. Selama ini, berbagai kegiatan sosial lebih banyak mengandalkan dukungan masyarakat dan mitra.
“Kami memang pernah mendapat bantuan berupa barang dari Dinsos-P3AP2KB Kota Malang. Namun untuk program ini perhatian dari Pemkot belum ada. Justru kami mendapat dukungan dari Perumda Tirta Kanjuruhan Kabupaten Malang,” pungkasnya. (aim)

