Ratusan Siswa SMAIS Malang
MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Ratusan siswa SMA Islam Sabilillah (SMAIS) Malang Boarding School Sistem Pesantren mengikuti simulasi mitigasi bencana gempa bumi dan kebakaran di lingkungan sekolah, Jumat (17/7) kemarin.
Kegiatan yang bekerja sama dengan Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan siswa saat menghadapi kondisi darurat.
Suara sirine yang menggema menjadi tanda dimulainya simulasi. Para siswa segera melakukan prosedur penyelamatan diri. Mulai berlindung di bawah meja, menuju jalur evakuasi, hingga berkumpul di titik aman. Dalam skenario tersebut juga diperagakan proses evakuasi korban yang mengalami luka akibat reruntuhan bangunan serta penanganan kebakaran di area sekolah.
Kepala SMA Islam Sabilillah Malang Ani Rahmawati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan, bahwa simulasi ini menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa agar memiliki kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
“Kami ingin menumbuhkan kesigapan siswa sebagai langkah antisipasi terhadap hal-hal yang tidak diharapkan. Mereka harus mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa maupun kebakaran,” ujarnya.
Menurut Ani, kegiatan mitigasi bencana pernah dilaksanakan pada 2019. Namun, melihat tingginya potensi bencana di Indonesia, sekolah kembali menghidupkan program tersebut agar pemahaman siswa terus diperbarui.
Sebelum praktik lapangan, tim Departemen Teknik Sipil UB memberikan materi mitigasi bencana di Aula Peradaban. Siswa dibekali pengetahuan mengenai pentingnya mengenali jalur evakuasi, titik kumpul, tas siaga bencana, hingga langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa.
Selain siswa, tim Palang Merah Remaja (PMR) sekolah juga mendapatkan pelatihan khusus untuk melakukan pertolongan pertama dan membantu proses evakuasi korban saat keadaan darurat. Waka Humas SMA Islam Sabilillah Malang M. Abdu Atho’illah, S.Pd., mengatakan kolaborasi dengan Universitas Brawijaya diharapkan dapat memperkuat budaya sadar bencana di lingkungan sekolah. “Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman langsung sehingga lebih siap jika sewaktu-waktu menghadapi situasi darurat,” pungkasnya.(hud/lim)

