Motor Listrik Petani Harus Sesuai Kondisi Daerah

Berita Lainya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Rencana Presiden RI Prabowo Subianto meluncurkan motor listrik nasional untuk mendukung mobilitas petani mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi. Namun, penerapan program tersebut dinilai tidak bisa dilakukan secara seragam di seluruh Indonesia karena harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

Guru Besar Fakultas Bio-Industri, Pertanian, dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Agr. Sc. Ir. Hagus Tarno, SP., MP., mengatakan kendaraan listrik berpotensi meningkatkan efisiensi usaha tani. Kehadirannya tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga dapat memangkas biaya operasional dan mempercepat distribusi hasil pertanian.

“Urgensi kendaraan listrik bagi petani bukan hanya terletak pada aspek teknologi semata, tetapi juga pada kemampuannya meningkatkan efisiensi sistem usaha tani. Kendaraan listrik lebih tepat diposisikan sebagai pendukung produktivitas dan daya saing pertanian melalui penurunan biaya logistik, peningkatan mobilitas, serta percepatan distribusi hasil panen,” ujarnya, Senin (20/7).

Meski demikian, Hagus menilai efektivitas penggunaan motor listrik sangat bergantung pada kondisi riil di lapangan. Menurutnya, kesiapan infrastruktur pedesaan, kualitas jalan usaha tani, ketersediaan jaringan listrik, hingga karakteristik komoditas pertanian menjadi faktor penentu keberhasilan program tersebut.

Karena itu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak menerapkan kebijakan dengan pendekatan yang sama di seluruh wilayah.

“Kendaraan listrik dapat optimal apabila didukung kesiapan infrastruktur pedesaan, kondisi jalan usaha tani, akses listrik, serta kesesuaian jenis kendaraan dengan karakteristik komoditas dan wilayah. Implementasinya harus spesifik lokasi, bukan solusi yang diterapkan secara sama di seluruh kawasan pertanian,” jelasnya.

Selain meningkatkan efisiensi, Hagus menilai penggunaan kendaraan listrik juga mendukung pertanian berkelanjutan. Berkurangnya emisi kendaraan berbahan bakar fosil diyakini dapat menjaga kualitas udara dan ekosistem pertanian.

Ia menjelaskan, pencemaran udara dari kendaraan konvensional berpotensi mengganggu populasi serangga penyerbuk yang memiliki peran penting dalam proses produksi tanaman. Jika keseimbangan ekosistem terganggu, produktivitas pertanian pun dapat menurun.

“Produktivitas pertanian dipengaruhi kualitas udara, tanah, air, serta terpeliharanya jasa ekosistem seperti penyerbukan dan pengendalian hayati. Kendaraan listrik berkontribusi mengurangi potensi pencemaran lingkungan dan sejalan dengan konsep Climate-Smart Agriculture, One Health, serta Nature-based Solutions,” paparnya.

Lebih lanjut, Hagus menegaskan bahwa kendaraan dalam sektor pertanian kini bukan sekadar alat transportasi. Mobilitas petani, distribusi sarana produksi, pengangkutan hasil panen, hingga akses terhadap informasi menjadi bagian penting dalam sistem pertanian modern.

“Dalam konteks tersebut, kendaraan listrik dapat menjadi inovasi yang mendukung efisiensi produksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia segera memiliki motor listrik nasional yang akan diluncurkan dalam waktu dekat. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Panen Raya TNI dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jumat (17/7).

Prabowo berharap setiap petani Indonesia ke depan dapat memanfaatkan motor listrik sebagai sarana mobilitas sehari-hari. Bahkan, ia optimistis peningkatan kesejahteraan petani akan membuka peluang bagi mereka untuk memiliki kendaraan roda empat di masa mendatang. (rex/aim)

Pilihan Editor