Fena Ria Kembangkan Ayam Kampung Unggul hingga Tembus Pasar Luar Pulau
MALANG POSCO MEDIA – Fena Ria membuktikan keterbatasan lahan bukan penghalang untuk mengembangkan usaha peternakan modern. Fena, sapaan akrab Fena Ria ini terbilang gigih. Ia memulai dari masa sulit, saat pandemi Covid-19. Di balik deretan rumah Perumahan Villa Bukit Tidar Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, terdengar suara kokok ayam bersahut-sahutan. Siapa sangka, dari lahan seluas sekitar 5×12 meter itu, seorang perempuan muda berhasil membangun usaha peternakan ayam kampung unggul yang kini memasok kebutuhan pasar Malang Raya hingga luar Pulau Jawa.
Dialah Fena Ria, atau yang akrab disapa Fena. Alumni Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (UB) asal Lampung itu membuktikan, bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk mengembangkan usaha peternakan modern.
Usaha yang kini dikenal sebagai Fena Farm itu justru lahir dari masa sulit saat pandemi Covid-19. Berawal dari rasa penasaran mencari peluang usaha rumahan, Fena mulai belajar secara otodidak melalui media sosial, berbagai referensi digital, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
“Awalnya hanya ingin mencoba sesuatu yang bisa dikerjakan dari rumah. Saya belajar sendiri pelan-pelan, mulai dari membaca, melihat media sosial, sampai mencari berbagai referensi,” katanya.
Modal awalnya pun sangat sederhana. Ia hanya memelihara enam ekor ayam betina dan seekor ayam jantan di pekarangan rumah. Selama hampir satu tahun, Fena fokus mempelajari karakter ayam kampung sekaligus teknik pemeliharaan sebelum akhirnya mengembangkan populasi ternaknya.
Kini, kandangnya dihuni sekitar 140 ekor ayam kampung unggul yang didominasi varietas Kampung Unggul Balitbangtan (KUB), disandingkan dengan ayam Pancamurti.
Menurutnya, ayam KUB memiliki banyak keunggulan dibanding ayam kampung biasa. Selain dapat dimanfaatkan sebagai ayam petelur sekaligus pedaging, produktivitas telurnya jauh lebih tinggi.
“Dalam setahun satu ekor ayam KUB bisa menghasilkan sekitar 160 sampai 180 butir telur. Kalau ayam kampung biasa rata-rata hanya sekitar 80 sampai 100 butir,” jelas perempuan kelahiran 1996 itu.
Dengan tingkat produksi harian mencapai sekitar 70 persen, dari 100 ayam produktif mampu dihasilkan sekitar 60 hingga 70 butir telur setiap hari.
Menariknya, produktivitas tersebut tidak dicapai melalui sistem kandang intensif. Fena justru membiarkan ayam-ayamnya tetap bergerak bebas sehingga naluri alaminya tetap terjaga.
“Kalau ayam tidak stres, produksi telurnya lebih stabil. Mereka tetap bisa mengais tanah, bermain, dan bergerak bebas sehingga sifat alaminya tidak hilang,” katanya.
Selain itu, kandang miliknya yang dibuat di atas tanah langsung juga tak menghasilkan aroma tak sedap. Bermodalkan sekam padi, dan ketekutan membersihkan setiap hari, peternakan miliknya tetap higienis dan produktif.
“Ini bisa tidak bau, karena pola pembibitan sederhana, hanya ditambah sekam dan rutin dibersihkan. Ayam lebih sehat dan kandang juga tidak bau,” terangnya.
Di tengah tingginya minat masyarakat terhadap telur ayam kampung, Fena mengakui masih ada tantangan besar yang harus dihadapi. Yakni persoalan kepercayaan konsumen.
Menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang ragu terhadap keaslian telur ayam kampung yang beredar di pasaran. Karena itu, ia memilih melakukan edukasi secara langsung kepada pembeli.
“Saya biasanya langsung membuka telurnya di depan pembeli supaya mereka bisa melihat sendiri kualitasnya. Dari rasa juga lebih gurih dan kandungan nutrisinya lebih tinggi,” ungkapnya.
Harga telur ayam kampung di Fena Farm dipasarkan sekitar Rp 2.500 per butir. Meski lebih tinggi dibanding telur ayam ras, permintaannya relatif stabil karena memiliki segmen pasar tersendiri. Terutama masyarakat yang mengonsumsinya untuk menjaga kesehatan maupun sebagai bahan campuran jamu tradisional.
Tak hanya menjual telur konsumsi, Fena juga mengembangkan lini pembibitan berupa telur fertil siap tetas serta DOC (day old chick) atau anak ayam umur satu hingga dua hari.
Jika telur konsumsi dan daging masih didominasi pasar Malang Raya, pembibitan justru telah menjangkau berbagai daerah di luar Pulau Jawa, seperti Sumatera hingga Sulawesi.
“Permintaan bibit terus bertambah karena banyak peternak yang ingin mengembangkan ayam KUB di daerahnya masing-masing,” tuturnya.
Melihat tingginya potensi tersebut, Fena berharap semakin banyak masyarakat mulai melirik budidaya ayam kampung unggul sebagai peluang usaha. Baginya, usaha peternakan bukan hanya soal menghasilkan telur atau daging, tetapi juga membangun kepercayaan melalui kualitas dan edukasi kepada konsumen.
“Dengan lahan terbatas pun sebenarnya tetap bisa berkembang. Yang terpenting konsisten belajar, menjaga kualitas, dan berani mengedukasi pasar,” tandasnya. (rex/van)